“Berlomba Merebut Persaudaraan”, Temu Akbar Orang Muda Katolik Paroki St. Petrus dan Paulus, Kabanjahe

Maurits Pardosi dan Martinus Haloho

Para peserta ikut berpartisipasi pada aneka kegiatan

Paroki St. Petrus dan Paulus, Kabanjahe menghelat pertemuan akbar Orang Muda Katolik (OMK) pada tanggal 5-7 Juli di paroki. Peserta berasal dari empat rayon (pembagian wilayah paroki); Rayon Kabanjahe, Kaca Ribu, Simpang Empat, dan Munthe. Seluruh peserta diperkirakan mencapai 750 orang. Oleh karena itu, panitia harus mampu mengkoordinasikannya dengan baik.

Dalam acara ini, beragam kegiatan diselenggarakan, misalnya: pertandingan olah raga (Bulutangkis, Volley, Tarik Tambang, Tenis Meja; putra dan putri), seni (vocal solo, vocal group, tari kreasi), kuis, mazmur, merangkai bunga, tari karo), dan tata rias.

Para peserta dilengkapi dengan nomor undian dalam pertandingan

Pembukaan acara ini disahkan ole parokus dan Dewan Pastoral Paroki (DPP). Kegiatan ini diadakan di salah satu rayon yang berdomisili di desa Singga Manik, Kecamatan Munthe, Kabupaten Karo. Pembukaan ini juga mengandung makna bahwa pemerintah desa ikut betpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Pihak pemerintah ikut serta membantu menyediakan akomodasi bagi para peserta.

Seluruh peserta tinggal bersama umat di daerah Singga Manik, Kecamatan Munthe. Para peserta mendapat perhatian khusus karena mereka tinggal bukan saja di rumah umat Katolik, tapi sebagian dari mereka tinggal di rumah non Katolik. Nilai persaudaraan dan persatuan terpupuk. Seluruh kebutuhan para peserta tentu mendapat sokongan dari induk semang mereka selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini sangat unik karena seluruh lapisan masyarkat di Singga Manik bersinergi guna menyukseskan kegiatan tersebut. Menurut keterangan panitia, pemerintah desa juga memberikan suntikan dana demi kelancaran kegiatan.

Sekaitan dengan kegiatan, pertandingan olahraga sudah berlangsung kurang lebih dari dua minggu sebelum pertemuan akbar ini. Pertandingan tersebut dihelat di area Paroki St. Petrus dan Paulus, Kabanjahe.

Menurut keterangan Martinus Haloho, pendamping OMK rayon Kaca Ribu, “kami sungguh bangga melihat geliat kaum muda dalam pertemuan ini. Suasana yang sangat kondusif ini memungkinkan tali persahabatan di antara mereka tetap lestari. Kesetiaan mereka mengikuti alur acara tentu menyiratkan betapa pentingnya kegiatan demikian agar kehangatan tetap ada.”

Elbina Theresia Haloho, penyabet juara II lomba vocal solo berharap agar acara seperti ini tetap dilakukan agar semua OMK semakin mampu memberi diri demi pengembangan gerej di masa mendatang.

Merajut Kembali Tali Persaudaran Melalui Perjumpaan pada Pertemuan Orang Muda Katolik Se-Paroki Parsoburan

Maurits Pardosi dan Herprida Pardosi

Seminar politik dipandu oleh Usden Sianipar, seorang politikus

“Aku dan Kamu Bersaudara”, sapaan hangat mengawali pertemuan OMK se-Paroki Parsoburan pada 4-6 Juli 2019. Pertemuan dihelat di Aula Paroki St. Yosef, Parsoburan atas kerja sama apik para panitia. Sdr. Irianto dan panitia lainnya bersinergi dengan parokus serta imam lainnya agar acara ini dapat berlangsung.

Pertemuan yang penuh persaudaraan dipandu oleh Irianto Pardosi, ketua panitia pertemuan akbar

RD. Bernardus Sijabat, dan Pr.,paroks dan RD. Julianus Tarigan, Pr., sebagai pastor rekan memberikan beragam pandangan bagi kaum muda, secara khusus panitia pelaksana agar acara dapat berlangsung dengan baik. Dari perbincangan alot, panitia akhirnya menetaskan beragam kegiatan dalam temu akbar OMK ini; pertandingan vocal solo, mazmur, stand up comedy, gotong royong, dan pembuatan yel-yel masing-masing kontingen.

Peserta ini diikuti 175 orang peserta dari empat rayon. Setiap kontingen dari masing-masing stasi telah hadir sebelum acara dimulai. Pada awal acara, para panitia mengumpulkan seluruh peserta di Aula Paroki dan menghantar mereka pada acara. Dari awal pertemuan, para panitia mampu menciptakan situasi kondusif agar para peserta tetap semangat.

Acara demi acara berlangsung dengan baik. Beragam pertandingan; mazmur, vocal solo, dan stand up comedy berjalan dengan baik. Di sela-sela pertandingan, panitia juga sudah menghubungi narasumber seputar politik. Tentu, pendidikan politik sejak dini sudah menjadi hal yang urgent. Situasi ini sudah dibaca panitia sehingga mereka menghubungi Usden Sianipar, salah satu politikus yang juga aktif dalam kegiatan menggereja.

Tidak hanya mengundang politikus, panitia juga sudah berkoordinasi dengan Ketua Umum Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Toba Samosir, yakni Rinto Hutape (2014-2019) dan Henri Pardosi (2019-2024). Mereka berdua adalah putra Parsoburan yang terpilih menjadi ketua KPU Kabupaten Toba Samosir. Ketiga narasumber sepakat bahwa berpolitik yang mulia adalah salah satu jalan untuk mengembalikan harkat dan martabat politik. Irianto Pardosi, ketua panitia kegiatan mengutarakan bahwa politik bukanlah pemecah belah, melainkan alat pemersatu bangsa.

Seusai pertemuan seputar politik, kaum muda juga bergotong-royong membersihkan selokan di daerah Parsoburan, yang diperkirakan sepanjang 5 km. Hal ini merupakan perwujudan cinta akan lingkungan sebagaimana didengungkan dalam sesi pertemuan bersama.

Acara ini ditutup dengan Misa Kudus yang dilayani oleh RD. Julianus Tarigan, Pr. Dalam kotbahnya, RD. Julianus Tarigan, Pr. menyampaikan bahwa persaudaraan akan terawat bila semua OMK mampu menjadi agen-agen kasih di mana saja berada. Secara tak langsung, beliau menegaskan bahwa persaudaraan juga ada bila satu sama lain berani saling menegur.

Dengan rangkaian acara ini, kita bisa memetik nilai bahwa seorang sahabat sejati adalah mereka yang mau menyanyikan kembali lagu persahabatan manakala sahabatnya sudah lupa.

Menyuarakan Kembali “Belaskasih dan Persaudaraan”, pada Retret Para Frater CMM di Parapat

Maurits Pardosi dan Fr. Norbeth Banusu, CMM

Para Frater CMM menimba pengalaman rohani lewat doa yang senantiasa dikumandangkan

Pada 1-6 Juli 2019, para Frater CMM wilayah Sumatera mengadakan retret tahunan di Pusat Pembinaan Umat, Parapat. Para Frater CMM yang berjumlah 24 orang ini mengikuti retret dengan tema Belaskash dan Persaudaraan”.

Penggalian spiritualitas yang terus berulang memperlihatkan betapa pentingnya penguraian kembali nilai-nilai spiritualitas agar sesuai dengan tuntutan zaman. Boleh dikatakan, pengulangan kembali spiritualitas adalah cara terbaik agar setiap saudara tetap berada pada koridor yang telah dibangun founding fathers. Kita juga sepakat dengan ungkapan Latin,”remenentia est mater scientiarum” (pengulangan adalah induk segala ilmu.

Suasana hangat persaudaraan menyelimuti pertemuan para frater CMM

Retret kali memiliki keistimewaan karena retret ini adalah salah satu kegiatan dalam rangka menyongsong yubileum 175 tahun berdirinya kongregasi CMM, pada tanggal 24 Agustus 1844. Retret yang dipandu Frater Dr. Alfons Seran, CMM mengutarakan bagian penting dalam perjalanan kongregasi CMM pada para peserta agar para peserta jangan sampai melupakan sejarah. Kita teringat kembali pada ungkapan Soekarno, JAS MERAH (Jangan Sampai Melupakan Sejarah).

Fr. Dr. Alfons Seran mengajak para saudaranya agar tetap berada pada koridor yang dibangun oleh founding fathers

Dalam retret ini, Dr. Alfons Seran,anggota Dewan Provinsi CMM Indonesia mengutarakan refleksi mengenai belaskasihan melalui empat tokoh:Yesus, Maria Bunda Berbelaskasihh, St. Vincent de Paul, dan Mgr. Zwijsen (pendiri kongregasi CMM). Sesungguhnya, kasih itu berasal dari Allah dan diterjemahkan oleh pendiri atau para founding fathers kongregasi.

Peserta yang berasal dari beragam daerah; Medan, Pematangsiantar, Balige, Sibolga, dan Nias mendapatkan pendalaman spiritualitas yang lebih mendalam. “Spiritualitas bukanlah teori belaka” begitulah ungkapan Fr. Norbeth Banusu, CMM, salah satu peserta dari komunitas Frateran CMM Balige. Spiritualitas seyogianya mendunia dan membumi agar spiritualitas tidak semata-mata kajian nalar dan bahan diskusi. Hal ini sangat erat hubungannya dengan ladang pastoral para frater CMM. Mereka lebih dalam berkecimpung dalam dunia pendidikan kaum muda.

Fr. Norbeth Banusu, CMM berharap bahwa setelah Kongregasi CMM melebarkan saya di Sumatera Utara ini, awalnya di Medan pada tahun 1923, kongregasi CMM tetap berada pada khasanah awal yang sudah digariskan.

“Belaskasih itu inti dan hati Allah yang dihidupi manusia. Belaskasih itu panggilan kehidupan. Artinya dengan hati yang berbelaskasih, setiap orang bisa disapa, dihargai dan berharga di bawah kaki Salib Yesus. Di bawah kaki Salib Yesus, tak ada seorangpun yang mengatakan ia lebih baik dari yang lain” demikian akhir perbincangan kami hari ini.

Pesta Gotilon dan Pesta Pelindung Stasi St. Yohannes Pembaptis, Ajibata

Maurits Pardosi

Pesta pelindung dan pesta gotilon dimeriahkan dengan pemotongam kue

30 Juni 2019, umat Stasi St. Yohannes Pembaptis, Ajibata merayakan Pesta Gotilon (Pesta Panen) dan Pesta Pelindung stasi. Secara khusus, Pesta Gotilon merupakan salah acara yang menarasikan ucapan syukur atas hasil panen. Secara khusus, acara Pesta Gotilon ini dikenal dalam masyarakat Batak Toba. Barangkali dalam budaya lain tetap acara seperti ini dilakukan, namun dengan nama yang berbeda dari Pesta Gotilon. Pesta Gotilon ini baru dua kali diselenggarakan di stasi tersebut dan Pesta Pelindung baru pertama kali diselenggarakan.

RP Hiasintus Sinaga, OFM Cap. dan Fr. Henra Sirait, Pr., dan Johnson Manik, Ketua Dewan Stasi St. Yohannes Pembaptis, Ajibata berpose bersama umat

Acara ini berasal dari inisiatif para ibu yang tergabung dalam Punguan Ina Katolik (PIK) pada bulan Desember 2018. Secara tidak sengaja, acara ini mereka perbincangkan agar umat di sana semakin bersemangat mengikuti acara gereja. Artinya, dengan beragam kegiatan yang dilakukan, umat beriman semakin rajin ke gereja dan semakin mengenal khazanah iman. Contohnya, acara pesta pelindung mengajarkan umat beriman akan pentingnya berdoa bersama santo-santa pelindung.

Punguan Ina Katolik (PIK) St. Yohannes Pembaptis, Ajibata bersukacita

Acara ini telah disiapkan sejak 29 Juni 2019. Kaum ibu dengan senang hati menghias gereja dan mempersiapkan seluruh keperluan pesta. Hingga larut malam, kaum ibu masih tetap bekerja.

Pada Minggu, 30 Juni 2019, seluruh umat diundang. Secara khusus, pesta ini merupakan salah satu jalan mempertemukan kegita lingkungan yang ada di stasi Ajibata, yakni Lingkungan Rafael, Mikael, dan Gabriel. Dalam acara ini, umat juga mengundang para biarawan-biarawati dari stasi tersebut. Salah satu calon imam yang hadir adalah Fr. Henra Sirait, Pr.

Acara Misa dipimpin oleh RP Hiasintus Sinaga, OFM Cap. Acara ini dimulai dengan adanya pawai, diteruskan dengan Misa Kudus. Dalam Misa Kudus, RP Hiasintus Sinaga, OFM Cap. menyampaikan bahwa setiap orang harus mampu menjadi penyedia jalan kebahagiaan bagi orang lain layaknya Yohannes Pembaptis. Seusai Misa Kudus, beragam kegiatan disajikan; hiburan dari anak-anak, remaja, kaum muda, dan orang tua, dilanjutkan dengan kegiatan lelang, dan menari (manortor), sebagai ungkapan rasa syukur.

Rose Sirait, salah satu anggota PIK stasi St. Yohannes Pembaptis, Ajibata menyampaikan, “acara ini bisa berlangsung berkat kerja sama semua pihak. Kami, kaum ibu bisa bekerja tentu karena ada dukungan dari suami kami masing-masing. Semua berjalan dengan baik bila ada kerja sama. Moga-moga, acara ini menjadi penyemangat bagi kami di Stasi St. Yohannes Pembaptis, Ajibata di masa depan”. “Acara ini juga menjadi penyemangat bagi pengurus gereja di stasi ini” demikian penutup perbincangan kami.

Semakin Beriman, Bersaudara, dan Peduli: 31 Tahun Paroki St. Petrus, Medan Timur

Maurits Pardosi dan Altur Manullang

Pesta Pelindung St. Petrus, Paroki St. Petrus, Medan Timur sudah tersaji di depan gereja

Misa I pada Minggu, 30 Juni 2019, nuansa pesta sudah tercium di Paroki St. Petrus, Medan TImur. Acara berlangsung hikmat selama misa. Pada penutup Misa, salah satu pengurus mengumumkan bahwa telah disediakan makanan ringan di depan gereja dan seluruh umat diundang menikmatinya. Inilah salah satu cara merayakan pesta. Sederhana dan tentu mengedukasikan kesederhanaan dan keugaharian kepada seluruh umat. Pesta bukan sebatas ritual.

RP Hugolinus Malau, OFM Cap. memotong kue perlambang kegembiraan

Kita boleh sepakat bahwa umur 31 tahun bukanlah waktu singkat. Tentu, dalam kurun waktu tersebut, para pengurus gereja sudah beberapa kali berganti. Ini pertanda bahwa selama 31 tahun, gereja sudah menggarami banyak orang dari berbagai jenjang umur. Perayaan 31 tahun Paroki St. Petrus, Medan Timur tetap berdasar pada motto yang kerap diperdengarkan oleh para imam di sana, “Signifikan ke dalam, relevan ke luar”.

Motto ini memuat pandangan mendalam; menjadi keluarga katolik yang senantiasa berjalan seturut zaman (up to date) dan sekaligus mampu membenahi diri agar kerja sama internal gereja tetap terjamin. Berjalan bersama adalah pilihan terbaik dalam mengarungi zaman. Hal ini berlaku pada setiap zaman. Motto ini juga menggerakkan setiap elemen (lembaga hidup bakti dan komunitas-komunitas awam) bersinergi mewujudkan cita-cita bersama, bonum communae.

Kegembiraan terpancar saat merayakan 31 tahun Paroki St. Petrus, Medan Timur

Perayaaan 31tahun Paroki St Petrus dirayakan dengan pemotongan kue ulang tahun oleh RP Hugolinus Malau, OFM Cap dan disaksikan seluruh umat. Pesta ini (dikenal dengan pesta pelindung) kiranya menjadikan umat beriman semakin peka terhadap orang lain; keluarga yang berani bertumbuh dan berbuah.

Altur Manullang, sebagai anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP) menyampaikan, “perayaaan ini yang paling sederhana selama empat tahun terakhir ini”. Kesederhanaan adalah ciri keterbukaan bagi setiap orang. Melalui perayaan ini, seluruh umat juga disadarkan agar tidak tinggal pada hal-hal kultus semata, melainkan mampu menggali dan berefleksi lebih dalam akan makna sebuah perayaan.

Tanggung Jawabku sebagai Ibu untuk menjadikan Keluarga Rukun: Rekoleksi Persekutuan Ibu Katolik (PIK) Paroki St. Agatha, Batang Kuis

Maurits Pardosi

Para anggota PIK Paroki St. Agatha Batang Kuis mendapat siraman rohani

Persekutuan Ibu Katolik (PIK) Paroki Santa Agatha, Batang Kuis  menggelar kegiatan rekoleksi yang dilaksanakan di Kolam Renang Bintang Johor Tumpatan Nibung-Tanjung Morawa. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2019, yang dihadiri 70 orang anggota PIK dari 10 Stasi yang diawali dengan Misa yang dipimpin oleh RD Daniel Manik, Pr.

Rekoleksi ini dipimpin langsung oleh RD Daniel Manik dan Frater Johanes denganTema “Tanggung Jawabku sebagai Ibu untuk menjadikan Keluarga Rukun”. Tema ini berdasar pada kisah hidup Buna Maria yang memiliki tanggung jawab dalam keluarga, secara khusus menerima panggilan Allah sebagai Bunda segala Mahluk. Dalam perjalanan hidup Bunda Maria, umat Allah telah melihat perjuangan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. “Fiat mihi secundum verbum tuum” (terjadilah padaku seturut kehendakMu) menjadi motto Bunda Maria dalam mengarungi hidupnya.

RD Daniel Manik, Pr berkotbah sebagai pegangan bagi anggota PIK Paroki St. Agatha, Batang Kuis

Selain Maria, kisah atau narasi seputar Marta juga mendapat sorotan dalam pertemuan kali ini. Dalam pemaparan tersebut, RD Daniel Manik, Pr. berpesan semoga dengan rekoleksi ini ibu-ibu memiliki semangat baru untuk kembali mengabdi Tuhan dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Rekoleksi ditutup dengan makan siang.

Bangga, Gembira, Beriman, dan Berdedikasi Sebagai Pelayan: Retret Para Misdinar se Paroki St. Petrus, Medan Timur

Maurits Pardosi

Para peserta sedang asyik menyusun strategi bermain

24-26 Juni 2019, para Misdinar se Paroki St. Petrus, Medan Timur mengadakan retret di Nagahuta, Pematangsiantar. Rumah Pembinaan Fransiskan (RPF) Nagahuta telah lama berdiri sebagai rumah retret. Baru-baru ini, mereka baru saja merayakan pesta perak (25 tahun berdiri). Hal ini memperlihatkan bahwa kepiawaian para pendamping di sana tidak diragukan lagi.

Pendamping memberikan arahan dan materi sebagai landasan bagi para peserta

Peserta dari Paroki Medan Timur berjumlah 106 misdinar, 12 pendamping, 2 suster, dan 1 pastor. Kehadiran mereka di Nagahuta memuat cerita berbeda dari pengalaman retret sebelumnya. Dengan suasana alam yang asri, luas, dan bersahabat tentu memberi pengalaman berbeda bagi peserta.

Untuk mendukung tema, “Bangga, Gembira, Beriman, dan Berdedikasi Sebagai Pelayan Tuhan”, para pendamping menyuguhkan outbond bagi para peserta. Dalam outbond, mereka mendapat pengajaran mengenai kepemimpinan, kesetiaan, kepedulian, kebijaksanaan, ketangguhan dalam beriman dan bertindak dalam hidup harian.

Menurut Devi Turnip dan Boni Nainggolan, pendamping misdinar dari wilayah St. Mikael, salah satu wilayah Paroki St. Petrus, Medan Timur bahwa pendampingan pada retret kali ini sungguh dinikmati peserta karena para pendamping memberikan hati secara total untuk membina. Gita Sihombing, misdinar dari wilayah St Mikael menginginkan retretnya agar diulang kembali karena dia mendapat kesan menarik.

Gembira dan tawa terasa saat sedang bermain

RP Moses Situmorang, OFM Cap., Diakon Masro Situmorang, Roni Matondang, dan beberapa pendamping lain merasa gembira melihat kebanggan para peserta sebagai pelayan dalam Gereja.

Pada akhir percakapan kali ini, Veni Sihombing mengatakan bahwa pengalaman saya selama retret adalah saya lebih banyak belajar untuk lebih banyak mendengarkan, selalu mengucap syukur,dan selalu berterimakasih kepada apapun yang datang pada diri saya. Saya juga belajar gimana menjadi seorang Misdinar yang baik dalam pelayanan.

Animasi dan Pelatihan Motivasai Guru-guru Bidang Studi Agama, BK, UKS, dan TK Yayasan Seri Amal

Maurits Pardosi

Para peserta menebarkan senyumnya sewaktu retret berlangsung

Pada 23-25 Juni 2019, Yayasan Seri Amal, Medan mengundang seluruh guru Agama, BK, UKS, dan TK yang tergabung dalam yayasan tersebut untuk mengikuti program animasi dan pelatihan. Program ini dilaksanakan di Cinta Alam dan diikuti sebanyak 50 an peserta. Pertemuan dan sekaligus retret ini didampingi oleh RP. Dr. Valens Agino, CMF.

Para peserta berpose setelah pertemuan usai

Pada pengantar retret, beliau mengutarakan bagaimana hubungan talenta, semangat, dan keahlian bersinergi dalam diri seseorang. Untuk sampai pada pencapaian optimal dalam diri, hal yang perlu dikembangkan dalam diri adalah keahlian, orientasi, kreativitas, dan antusiasme dalam tugas.

Para pesertra merasa gembira setelah mendapatkan siraman rohani melalui Misa Kudus

Retret ini dibedah menjadi sembilan pertemuan. Masing-masing pertemuan berdasar pada tema, yakni “memberi dari kekurangan”. Sepintas lalu melihat tema ini, kita langsung ingat betul kisah seorang janda miskin yang menghantar persembahannya ke Bait Allah. Ternyata, tindakan si janda tersebut menjadi bahan narasi Yesus guna mengajarkan totalitas diri dan berani memberi dari kekurangan.

Dari beberapa pertemuan tersebut, para oeserta dapat menangkap beberapa hal: bersyukur atas apa saja yang dimiliki, solider kepada mereka yang membutuhkan, dan memberi termasuk dari kekurangan. Hal ini bisa terwujud pabila masing-masing kita menampilkan diri kita secara sederhana.

Dalam pemaparannya, pemateri memberikan aneka ceritera dan analogi yang membantu para peserta paham dan mengerti akan muatan pertemuan. Harus diakui, pemateri sudah memiliki banyak pengalaman dan wawasan seputar tema. Hal itu tampak dalam kelugasannya menyampaikan materi.

Pertemuan yang dimulai pada pukul 16.00 pada tanggal 23 Juni 2019 berakhir pada pkl 13.00 pada tanggal 25 Juni 2019. Rangkaian acara ditutup dengan Misa Kudus.

Irianto Pardosi, salah satu peserta menyampaikan bahwa dia merasa gembira dan mendapat banyak hal melalui penuturan pemateri. Selain memiliki gagasan segar dan lugas, pemateri juga humoris. Dia sendiri tidak bosan walau harus mengikuti sembilan kali diskusi (pertemuan). Hal ini juga diaffirmasi beberapa peserta, seperti Lenny Arisanny Hutapea dan San Hedrin Saragih.

Komuni Pertama Menarasikan Semangat Berbagi

Maurits Pardosi dan Altur Manullang

RP. Paulinus Simbolon, OFM Cap. bersama dengan calon penerima Komuni Pertama bersiap menuju Altar.

Tepat pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 23 Juni 2019, Paroki St. Petrus, Medan Timur menyelenggarakan penerimaan Komuni Pertama. Jumlah peserta pada sesi ini sebanyak 44 orang.

Para peserta menuju tempat yang disajikan

Setelah dipersiapkan oleh pendamping atas tugas pelayanan paroki, para peserta bersedia menerima Komuni Pertama dengan penuh keyakinan. Selama pembekalan, para pendamping tentu mencurahkan segala kemampuannya agar para peserta benar-benar siap menjadi pelayan dalam gereja dengan berdasar pada semangat Kristus, teladan semangat berbagi.

Para peserta Komuni Pertama berpose setelah perayaan Ekaristi berlangsung

Salah satu nilai terdalam yang termaktub dalam Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah act to share (tindakan berbagi). Tentu, semangat berbagi lahir dari rasa syukur mendalam.

Dibalik seluruh kegiatan hari ini, mereka menjadi pendamping para penerima Komuni Pertama

Altur Manullang, salah satu anggota Dewan Stasi sekaligus pengabadi momen acara gereja di Paroki St. Petrus, Medan Timur menyampaikan, “semoga para penerima Komuni Pertama mampu bersyukur dan tetap setia mengikuti Kristus”.

Acara berlangsung hikmat pada Misa II, yang dipimpin oleh RP. Paulinus Simbolon.

“Quo Vadis OMK?” Diserukan pada Pertemuan OMK Se-Paroki St. Theresia, Air Molek

Maurits Pardosi

RP Theodorus Sitinjak, OFM Cap. dan Sr. Berta, FCJM turut memperhatikan OMK saat kegiatan

Pada 6-7 Juni 2019, Paroki St. Theresia, Air Molek mengadakan pertemuan akbar OMK se-Paroki. Pertemuan ini berlangsung di Air Molek yang dihadiri RP. Theodorus Sitinjak, OFM Cap., RP. Oscar Sinaga, OFM Cap., dan RP. Henry Sihotang, OFM Cap. Peserta yang berjumlah lebih dari 100 orang memenuhi lapangan yang telah dihaturkan panitia, sebagai tempat kegiatan.

OMK beristirahat sejenak setelah mengadakan kegiatan

Pertemuan ini merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya. Hal ini menjadi wadah yang disajikam paroki untuk mempererat persaudaraan di antara kaum muda. Secara khusus, gereja St. Theresia, Air Molek melihat kebutuhan generasi milenial di zaman now. Maka, kegiatan ini diupayakan agar lebih fun dan tetap bernas. Di sela-sela pemaparan materi, para OMK diajak bermain bersama agar setiap peserta mampu berbagi cerita.

Menurut Vera, salah satu peserta, “dengan pertemuan ini, aku dapat teman baru dari stasi lain. Yang paling seru karena outbondnya membuat kami tetap menjalin komunikasi dengan baik satu sama lain”.

Salah satu pemaparan yang disampaikan oleh Sr. Berta mengenai spiritualitas kaum muda. Dengan pemaparan ini, kaum. muda semakin mengenal dirinya adalah bagian dari Gereja dan tetap bersyukur dengan panggilan mereka. Dengan pemaparan ini, kaum muda kiranya bisa menjawab arah (quo vadis)nya? Persiapan masa depan amat dibutuhkan sejak dini. Maka, dengan persiapan baik srjak sekarang akan membantu OMK menemukan jati dirinya.

OMK kembali digembleng agar mereka sanggup menjadi insan handal menuju masa depan

Ternyata kegiatan ini dirancang dengan aneka perlombaan, misalnya fashion show, yel-yel, quiz, bola voly, dan vocal solo, dan berbagai kegiatan edukatif lainnya. RP Theodorus Sitinjak, OFM Cap. berharap bahwa kegiatan kiranya membantu setiap OMK menjalin relasi yang baik. RP Oscar Sinaga, OFM Cap. menginginkan bahwa dengan pertemuan ini, semua OMK mampu melihat nilai terdalam sebagai seorang OMK dengan mempersiapkan dirinya menyongsong masa depan. Hal ini juga menfmdapat affirmasi dari RP. Henry Sihotang, OFM Cap

Seluruh kegiatan ini adalah metode paroki untuk mewujudkam OMK yang handal dan terampil menuju masa depan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai