Jemput Bola, Jadi Strategi Evangelisasi

Maurits Pardosi

Berani jemput bola adalah salah satu cara evangelisasi

Kopihangat, 18 September 2019, Kopihangat sedang bertemu dengan Yulia Sinurat dan bercengkerama seputar kegiatan harian sebagai Penyuluh Agama Katolik Kota Medan. Beliau mengurai kegiatannya sebagai penyuluh. Salah satu bentuk praktisnya, Yulia Sinurat bekerjasama dengan Parokus Paroki St. Padre Pio, Helvetia-Medan, RP. Fiorensius Sipayung, OFM Cap.

Pastor Paroki St. Padre Pio menyambut hanga rencana pembentukan Tim Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik. Hal ini bertujuan agar semua anak yang ada di paroki tersebut mendapatkan pengajaran agama katolik. Salah satu sekolah yang dituju adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Free Methodist, Medan. Dalam kunjungannya, Yulia Sinurat bersama tim memberikan materi seputar iman kekatolikan.

Mengajar nilai-nilai kekatolikan adalah hal yang menyenangkan

Pada pertemuan pertama, Yulia Sinurat bersama tim sangat prihatin melihat kondisi anak-anak katolik yang tidak mendapatkan pengajaran agama katolik. Tidak mungkin anak-anak hanya bermodalkan pengetahuan dari Gereja saja. Sekolah juga harus menyediakan ruang bagi mereka belajar intensif. Dengan komunikasi yang intens dengan pihak sekolah, Tim Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik pun bisa mengajar dengan leluasa.

Bila disajikan dalam data, pada pertemuan pertama, 80 % siswa-siswi belum paham mengenai doa-doa dasar Katolik. Pada pertemuan kedua, 70 % dari keseluruhan siswa ternyata sudah memahami doa-doa dasar Katolik. Hasil ini tidak membuat tim langsung berpuas diri. Usaha dan upaya harus tetap berjalan. Kali ini mereka sedang mengadakan pengajaran, sebagai pertemuan ketiga. Dan, kegiatan ini akan tetap berlangsung.

Dari uraian Yulia Sinurat, kegiatan ini tidak akan pernah bisa terlaksan bila parokus lalai. Ternyata, kehadiran tim ini telah menjawab keprihatinan parokus tersebut. Selain menjadi kerinduan parokus, tim juga setia pada wacana yang selalu dikumandangkan oleh Keuskupan Agung Medan, “100 % Katolik, 100 % Indonesia”. Setidaknya, niat menjadi pro ecclesia et patria sudah tertanam pada anak sejak dini. Mereka diajak mencintai gereja dan bangsa.

“Siswa dan siswi jangan sampai kehilangan jejak sekalipun mereka tidak punya guru agama katolik yang tetap. Kami siap menjadi suluh bagi mereka. Karena seorang penyuluh harus benar-benar menjadi suluh. Kita juga sudah berkoordinasi dengan Pastor Paroki St. Padre Pio untuk pengadaan biaya transpot bagi guru-guru agama katolik. Kiranya ini bisa menunjang kinerja menuju masa depan cerah” tutup Yulia Sinurat.

Meningkatkan Kinerja Bimas Katolik

Maurits Pardosi dan Arjoni Simbolon, S. Fil

Wanton Naibaho, S.Sos. M.Pd., Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Sumut bersama RP. Yosafat Ivo Sinaga, OFM Cap, pemateri mengabadikan pertemuan bersama peserta

Kopihangat, Pada16-18 September 2019, Pembimbing Masyarakat (Bimas) Katolik Kantor Wilayah (Kanwil) Sumatera Utara (Sumut) mengadakan rapat koordinasi di Hotel Thongs Inn, Kulanamu, Deli Serdang. Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari ini secara khusus mengulas tema,“Meningkatkan Kinerja Bimas Katolik lewat kerja sama dengan Gereja dalam mewujudkan moderasi umat beragama, kebersamaan umat dan integritas data”.

Panitia telah meminta para pemateri mumpuni guna membahas materi-materi sekaitan dengan tema tersebut. Sasaran panitia bagi para peserta adalah setiap peserta mampu mengelaborasi secara kreatif seluruh materi di Kabupaten atau Kota masing-masing. Dengan elaborasi yang bagus dan segar, tentu para peserta mampu memberikan semangat baru di kantor masing-masing. Dan hal ini tentu membuahkan situasi kondusif bagi setiap orang yang dilayani.

RP. Yosafat Ivo Sinaga, OFM Cap bersama peserta sedang berpose

RP. Yosafat Ivo Sinaga, OFM Cap., pemateri memaparkan perihal sinergitas dalam internal maupun eksternal Bimas Katolik. Uraian ini tentu mengarahkan seluruh peserta agar tetap total dalam melayani dan membangun keharmonisan terhadap masyarakat. Secara tak langsung, Bimas juga diajak tetap menajalin hubungan yang baik terhadap Gereja, sebab mereka adalah wakil umat di dalam pemerintahan. Artinya, Bimas menjadi penyampai aspirasi umat Katolik terhadap pemerintahan.

Senada dengan uraian RP. Yosafat Ivo Sinaga, OFM Cap., pada penutupan pertemuan, Wanton Naibaho, S.Sos. M.Pd., sebagai Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Sumut mengajak agar setiap peserta senantiasa menunjukkan keberadaannya (eksistensi) di Kantor Kementrian Agama (Kankemenag) masing-masing. Dia kembali menekankan bahwa Bimas tak pernah lepas dari Gereja. Kerja sama antara Bimas dan Gereja harus senantiasa dijaga sesuai dengan koridor yang tepat.

“Back to Bible”, OMK Berastagi Selenggarakan Bible Camp

Maurits Pardosi

OMK Paroki St. Fransiskus Asisi, Berastagi sedang mengikuti outbound pada acara Bble camp di Paropo, Silalahi

Pada 13-15 September 2019, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Fransiskus Assisi, Berastagi menyelenggarakan Bible camp di Paropo, Silalahi. Orang muda yang berjumlah 200 ini telah hadir di tempat pada Jumat, 13 September 2019. Sebelumnya, beberapa kaum muda bersama RP. Menrad Rumapea, OFM Cap telah mengecek tempat. Setelah pengecekan tempat, mereka mendirikan tenda pada Kamis, 12 September 2019.

Kegiatan ini bisa berlangsung dengan adanya sinergi antara Paroki St. Fransiskus Assisi, Berastagi dengan Komisi Kepemudaan (Komkep), yang diketuai oleh RP. Alexander Silaen, OFM Cap.Tim Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Medan sudah mengemas beragam kegiatan yang akan dibawakan. Kali ini, Komkep mengusung tema, “Back to Bible”. Tema menarasikan pada kaum muda bahwa kaum muda harus mampu menghadapi kemajuan zaman dan senantiasa berguru pada Yesus melalui Kitab Yesus bin Sirakh.

RP. Alexander Silaen OFM Cap sedang menarasikan Nilai-nilai dalam Kitab Suci

Setibanya para peserta di tempat, RP. Alexander Silaen, OFM Cap dan RP. Menrad Rumapea, OFM Cap sebagai penanggungjawab dan supervisor telah mengajak mereka menciptakan suasana gembira dan rileks agar acara bisa berlangsung dengan baik. Seluruh peserta diarahkan pada tenda yang sudah disediakan. Tim Komkep selalu siaga dalam seluruh dinamika kegiatan, secara khusus karena tempatnya berada di pantai Danau Toba.

Acara dibuka dengan ibadat yang dibawakan oleh Noverlas Simarmata dan Ika (anggota dari Tim Komkep). Usai ibadat, seluruh peserta menghelat malam keakraban (perkenalan) dan dilanjutkan dengan hantaran bahan bible camp. Sungguh, waktu terlalu singkat, acara satu hari sudah berlalu dan ditutup dengan doa malam. Tim Komkep tetap berjaga hingga seluruh peserta istirahat.

Kegiatan di hari Sabtu berlangsung setelah misa, didahului dengan adanya senam pagi, yang dipimpin oleh Reinheart dan Doli. Para peserta sudah segar bugar melalui senam pagi dan Misa Kudus. Satu hari penuh, para peserta mengikuti outbound. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai Kitab Suci dalam bentuk game. Tim Komkep sudah menyajikan beragam permainan yang dibagi menjadi lima pos. Pada setiap pos, para peserta disuguhi satu outbond. Hal menarik, pada setiap permainan, setiap kelompok diminta keterangan nilai-nilai permainan yang berhubungan dengan Kitab Suci, secara khusus mengenai tema bible camp. Secara tak langsung, Tim Komkep berusaha menanamkan nilai-nilai Kitab Suci dalam setiap permainan. Hal ini sangat membantu setiap peserta mengingat dan melakukannya.

RP. Menrad Rumapea, OFM Cap, pendamping OMK sekaligus utusan paroki mengutarakan bahwa penanaman nilai-nilai Kitab Suci adalah hal urgent di masa kini. Kenyataan di masyarakat mengharuskan katolik berperan lebih banyak dalam penanggulangan penyakit masyarakat masa kini. Lewat pendampingan kaum muda, gereja kita sudah ambil bagian secara aktif dalam membangun kaum muda yang berkarakter, tangguh, dan militan. Hal senada juga disampaikan oleh RP. Alexander Silaen, OFM Cap, selaku Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Medan dan Noverlas Simarmata, anggota Tim Komkep.

OMK St. Fransiskus Assisi, Berastagi bergembira dan siap diutus menjadi agen-agen kebaikan di masyarakat

Lopren Sembiring, peserta mengutarakan bahwa pendampingan kaum muda harus semakin digalakkan apalagi dengan perkembangan zaman yang tidak mungkin dapat dibendung. Manusia yang bisa bertahan niscaya mampu berkembang di masa yang akan datang.

Anak Sehat, Pendidikan Maju: Imunisasi Campak di SD St. Ignatius, Medan Johor

Maurits Pardosi

Para Guru SD. St. Ignatius, Medan Johor

Pada 17 September 2019, Sekolah Dasar (SD) St. Ignatius, Medan Johor menggelar imunisasi campak bagi anak kelas I. Pegawai Unit Kesehatan (UKS), Lenny Arisanny Hutapea mengutarakan bahwa kesehatan bagi anak adalah sesuatu yang mutlak dilakukan sejak dini. Kegiatan hari ini merupakan aplikasi spiritualitas pendiri sekolah tersebut. Pergerakan sekolah selalu didasari oleh ungkapan, “Imago Dei (citra Allah)”. Sebagai penjabaran spiritulitas ini, sekolah tersebut juga menjunjung tinggi semangat pro life (mencintai kehidupan).

Kegiatan ini bisa berlangsung dengan adanya kerjasama antara sekolah dengan Tim Kesehatan Puskesmas Medan Johor. Para bidan dan tenaga kesehatan tentu memberikan pelayanan optimal agar semua siswa dan siswi memperoleh imunisasi dengan baik. Siswa dan siswi yang berjumlah 105 orang ini menerima imunisasi dan disaksikan oleh orangtuanya masing-masing. Pemberian imunisasi ini dilakukan pada pukul 9.30 WIB di depan ruangan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Pemberian imunisasi ini dikomando oleh dr. Juli Agustina.

Tim Kesehatan Puskesmas Medan Johor dan Pegawai UKS sekolah sedang memberikan imunisasi

Pemberian imunisasi campak ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Artinya, kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan sekolah. Arofati Zega, selaku Kepala Sekolah SD St. Ignatius, Medan Johor berharap agar dengan pemberian imunisasi, siswa dan siswi semakin sehat dan bisa belajar dengan baik di kemudian hari.

Dilansir dari berbagai sumber bahwa imunisasi campak adalah suatu tindakan pemberian zat yang berasal dari kuman, baik yang sudah mati ataupun yang dilemahkan. Orang yang terkena penyakit campak biasanya diawali dengan gejala berupa demam, batuk, pilek, mata memerah, lalu muncul bintik-bintik merah kecil di seluruh tubuh. Penyakit campak ini berakibat parah karena bisa menyebabkan infeksi telinga, infeksi paru-paru, kerusakan otak hingga berujung kematian.

Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena penyakit campak bisa dicegah dan salah satunya adalah dengan imunisasi campak. Vaksin campak dan vaksin MR merupakan vaksin yang digunakan dalam program imunisasi campak di Indonesia.

Dengan kegiatan ini, orang tua siswa-siswi berharap agar anak-anak mereka semakin sehat dan tetap semangat belajar. Sebab, mereka adalah tunas-tunas bangsa.

Urgensi Pendidikan Anak

Maurits Pardosi

Paroki St. Fidelis, Dolok Sanggul menghelat acara pembekalan misi gereja terhadap anak Katolik. Bertepatan Pesta Salib Suci, 14 September 2019, seluruh tenaga pastoral yang berkecimpung dalam pendidikan SEKAMI di Paroki Dolok Sanggul berkumpul di aula paroki guna membahas seputar pendalaman iman anak.

Para peserta sedang dipandu gerak dan lagu oleh Komisi KKI

“Bicara soal misi, Keuskupan Agung Medan sangat antusias. Setiap gerakan membangun iman adalah tugas kita semua sebagai misionaris. Oleh karena itu, kita diutus dengan semangat misi. Konsejuensi misi adalah keluar dari, diutus keluar, beralih dari diri sendiri, komunitas, lingkungan, dan tempat tinggal” terang RP. Martin Nule, SVD saat memaparkan seputar SOMA (School of the Missionary Animators).

Sony dan Ana juga berpartisipasi aktif dalam penanaman nilai-nilai kekatolikan bagi anak. Para pendamping anak-anak harus terus belajar sejak dini. Sony berharap bahwa setiap pendamping harus mampu keluar karena digerakkan oleh Roh Kudus. Inilah salah satu konsekuensi misi. Dan hal inilah yang menjadi dasar sebagai misionaris. Setiap pendamping anak-anak harus berani keluar menjumpai saudara-saudara yabg menderita dan tidak diperhatikan.

RP. Martin Nule, SVD sedang memaparkan pemahaman seputar misi Gereja

“Kita harus menyadari bahwa pendidikan anak merupakan bagian dari misi gereja. Oleh karena itu, kita semua harus ambil bagian sejak dini misi Yesus” tambah RP. Martin Nule, SVD.

Sony, Ana, RP. Siprianus, SVD ikut serta dalam kegiatan ini

Seluruh acara ini diselenggarakan demi penanaman nilai iman kekatolikan terhadap anak. Sony dan Ana akan melanjutkan materi setelah RP. Martin Nule, SVD usai memaparkam materinya. Seluruh peserta antusias mendengarkan materi dan mereka siap diutus bagi pendidikan anak.

Pintu Surga Terbuka bagi yang Berjuang dan Berjibaku

Maurits Pardosi

“Proses tidak akan pernh mengkhianati proses” begitulah yang akrab di telinga kita. Setiap perjuangan selalu disertai dengan tujuan. Stephen Covey dalam Seventh Habits mengutarakan bahwa setiap orang yang memulai sesuatu dengan tujuan akan merakasan kebahagiaan. Sering ia menyebutnya berawal dari akhir. Mengawali segala perjalanan dengan menentukan tujuan.
Pada kesempatan ini, umat di daerah Tiganderket berkumpul bersama dalam sebuah perhelatan. Doa, Derma, Kurban , dan Kesaksian dipilih sebagai pesta pelindung Gereja Katolik St. Monika, Tiganderket. Tema ini merupakan kesepakatan bersama seluruh umat dan juga sebagai implikasi panggilan Tuhan. Dalam acara ini, jumlah umat diperkirakan mencapai 700 orang. Pesta pelindung ini juga memuat kegiatan edukatif berupa seminar dari Komisi Kerasulan Kepausan di Indonesia (KKI) yang didatangkan dari Medan.

Pemotongan kue sedang berlangsung
Sonny Munthe, Ana Simamora, dan Maurits Pardosi meramu acara ini sedemikian rupa agar tema yang telah dipersiapkan benar-benar terinternalisasi dalam diri peserta; anak-anak dan kaum muda. Sebelum kegiatan dari KKI dihelat, seluruh umat mengikuti Misa Kudus yang dilayani oleh RP. Celes Sinaga, OFM Cap dan RP. Evangelis Pardede, OFM Cap.
Dalam kata pembukaan, RP. Evangelis Pardede mengetengahkan, “surga adalah tujuan segala perjuangan orang beriman. Masalahnya, menuju surga, setiap. Umat beriman akan berjibaku dan berjuang keras, bertindak kasih pada Tuhan dan sesama. Setiap umat diajak meneladani St. Monika yang penuh perjuangan mendidik anaknya, St. Agustinus. Sejak awal, St. Monika telah memperlihatkan kecintaannya pada Tuhan melalui kesetiaannya mendidik anaknya hingga terjadi perubahan besar dalam diri anaknya; Agustinus dengan segala kepandaiannya jatuh pada pergaualan bebas. Inilah yang membuat ibunya, Monika menangis. Tidak berhenti pada tangisan, Monika justru membuat pengalaman ini menjadi jalan mendekatkan diri pada Tuhan. Pada akhir hidupnya, Agustinus dikenql srbagi teolog srkaligus orang kudus. Semua perjalanan St Agustinus tidak bisa dilepaskan dari doa ibunya, St. Monika. Inilah kiranya yang menjadi cermin bagi setiap umat di Paroki St. Monika, Tiganderket”.

Pastor Mikhael Hutabarat membagi kue kepada peserta
Kembali pada hidup St. Monika ,RP. Evangelis Pardede, OFM Cap. Mengutarakan bahwa usaha dan rahmat berjalan beriringan dalam hidup manusia. RP. Celes Sinaga OFM Cap. dan RP. Mikael Hutabarat, OFM Cap juga mengaffirmasi bahwa St Monika sangat tepat sebagai panduan hidup sebagai umat beriman.
Setelah acara misa, umat beriman masih disuguhkan kegembiraan dengan adanya perayaan ulang tahun paroki. Walau sudah enam tahun berdiri, paroki masih tetap berusaha menanamkan nilai-nilai kekatolikan dalam hidup harian. Seluruh rangkaian kegiatan ini adalah bentuk ucapan syukur pada Tuhan.

Sony Munthe sedang memberikan arahan bermain pada seluruh peserta

Acara Puncak Medan Timur Youth Day bersamaan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Maurits Pardosi

Walau sudah agak malam, kaum muda tetap semangat merayakan Medan Timur Youth Day

Tepat pada 17 Agustus 2019, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Petrus, Medan Timur merayakan acara puncak Medan Timur Youth Day yang sudah berlangsung satu bulan lebih.

Acara ini dihadiri seluruh OMK Paroki St. Petrus, Medan Timur dan sejumlah orang tua. Acara ini mendapat sambutan dari para suster CAE yang berkomunitas di sekitar paroki.

Pada kegiatan sebelumnya, mereka telah menghelat beragam pertandingan, misalnya pertandingan futsal, badminton, dan beberapa pertandingan olahraga lainnya.

Salah satu tarian yang menggambarkan kecintaan kaum muda terhadap NKRI.

Tepat siang hari pada pukul 15.00, mereka juga menyelenggarakan sejumlah permainan yang memeriahkan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kaum muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan balap karung, arti kemerdekaan, upacara. Acara ini memakan waktu hingga tiga jam.

Pada pukul 18.00, mereka juga melanjutkan kegiatan lagi. Saatnya, mereka menampilkan kemanpuan mereka dalam tarik suara dan dance. seluruh acara dibingkai dengan lagu-lagu perjuangan sebagai bukti rasa syukur atas perjuangan para pejuang di masa lalu.

Salah satu yang unik adalah adanya perlombaan caption instagram dan foto terunik selama kegiatan berlangsung sebagai sarana paroki mengedukasi kaum muda menggunakan media sosial (medsos).

Pak Silalahi, salah satu umat lingkungan St. Yohannes merasa kagum dan bangga akan aksi kaum muda memperlihatkan kaum muda dalam memeriahkan Kemerdekaan Republik Indonesia.

RP. Polyaman Purba, OFM Cap memberikan semangat bagi kaum muda mulai dari kegiatan ini dimulai hingga selesai. Puncak acara ini dimeriahkan dengan malam keakraban (makrab). Makrab ini ditandai dengan adanya api unggun. Diperkirakan kegiatan ini berakhir pada pukul 22.00 WIB.

“Perayaan ini memuat sejumlah nilai mendalam: persaudaraan, kesatuan, kebersamaan, dan toleransi. Pertemuan kaum muda ini menarasikan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan beragam keterampilan dan kreatifitas diri. Perhelatan ini adalah implikasi 100% Katolik, 100% Indonesia. Acara ini adalah simbol kesatuan hati dalam mengisi kemerdekaan Indonesia” demikian seruan Altur Manullang saat bercengkerama dengan kaum muda. Beliau juga senantiasa ambil bagian dalam perjalanan kaum muda di paroki ini. Bravo OMK

OMK St. Fransiskus Assisi, Berastagi Berbagi Cerita di Malam Minggu

Maurits Pardosi

RP. Liberius bersama BPH menuturkan berbagai hal guna membangun OMK

Acara OMK berlangsung setelah acara pembukaan oleh RP. Liberius Sihombing, OFM Cap. Walau gerimis hadir menemani pertemuan, acara OMK tetap berlangsung hikmat. Acara ini dihelat pada 13 Juli 2019.

Ketua Badan Pengurus Harian (BPH), Jaya Butarbutar memulai acara mereka setelah pembacaan para pengurus OMK stasi induk Paroki St. Fransiskus Assisi, Berastagi. Acara ini juga dihadiri Pak Limbong (38), selaku pembina OMK dan RP. Liberius, OFM Cap.

RP. Carolus Sembiring, OFM Cap. dan RP. Meinrad Rumapea, OFM Cap menyampaikan beragam pemahamannya guna mengembangkan OMK

Dalam penuturannya, Pembina OMK menyampaikan bahwa rasa damai dalam persaudaraan akan tetap hangat. Setiap OMK harus berani membangun misi dan misi masing-masing guna membangun dan membangkitkan semangat yang konstruktif. Pertemuan yang senantiasa dilangsungkan kiranya bermamfaat dalam membantu satu sama lain.

OMK tetap bersemangat walau hujan dan dingin

RP. Liberius menyampaikan bahwa tema pertemuan “malam keakraban” menyiratkan bahwa OMK harus tetap akrab. Sepanjang persiapan acara ini, beliau juga ikut mengamati dan menikmati persiapannya. Harapannya, OMK semakin mencintai waktu khusus yang diberikan paroki melalui pendampingan secara optimal.

RP. Meinrad Rumapea, OFM Cap. dan RP. Carolus Sembiring, OFM Cap. mengaffirmasi ungkapan parokus dengan adanya sikap sense of belonging. Acara ini sungguh menarik, di dalamnya termaktub sharing dan berbagi bersama. Beliau berpesan, “kamu bisa berbuat banyak agar dibanggakan orang lain, namun kamu harus banggakan Tuhan”.

RP. Carolus mengutarakan bahwa seni dan budaya harus digalakkan secara khusus bagi OMK. Rancangan museum yang sudah ada akan dikembangkan agar informasinya bukan hanya berkutat di seputar Berastagi, namun harus berkembang hingga skala internasional.

Pada sesi acara ini, utusan OMK Indonesian Youth Day (IYD), Asian Youth Day (AYD), dan World Youth Day (WYD). Ketiga kaum muda ini memaparkan pengalaman mereka selama mengikuti aneka kegiatan di sana. Bonifasius Sembiring menarasikan hidup doa sebuah keluarga di Manado, tempatnya live in. OMK di Manado sangat solid, tentu hal ini mengajarkan seluruh OMK akan pentingnya kebersamaan.

Utusan OMK untuk IYD, AYD, dan WYD berbagi pengalaman

Mariani Sitanggang, utusan OMK berastagi ke Yogyakarta. Bermodalkan Bahasa Inggris seadanya, dia nekad berangkat. Salah satu pesan yang bisa diperoleh saat teman live in adalah orang Malasya, pengguna Bahasa Inggris adalah jangan pernah menyepelekan potensi diri walau masih sedikit. Live in di Palembang sangat berkesan sebelum acara puncak di Yogyakarta. Seluruh pengalaman di Asian Youth Day, jadilah seperti pelangi; berbagi dari keterbatasan.

Jaya Sipayung, utusan OMK Keuskupan Agung Medan pada World Youth Day mengisahkan secuil pengalamannya. WYD dilaksanakan sekali dalam tiga tahun. Pertemuan OMK sedunia ini disimpulkan sebagai pengalaman penuh misteri. Berawal dari keinginan ambil bagian dalam perhelatan akbarvkaum muda sedunia, mimpi pada tahun 2005 terwujud pada tahun 2019. Pertemuan OMK sedunia ini menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Para peserta dibekali di Jakarta lewat retret di kantor KWI. Live in di stasi kecil di Panama. Dengan demikian, adanya pertukaran budaya, walau belum lihai dalam berbahasa asing. “Campur tangan Allah senantiasa hadir lewat pengalaman hidup, walau dalam kesulitan” ungkap Jaya. Perjumpaan dengan Paus kiranya menjadi pengalaman iman sebagai penyemangat menyongsong hari depan.

Segala kegiatan ini dirangkai panitia khusus untuk mengembangkan seni budaya. Jaspen, Ricky dan teman-teman yang lain membalut pertemuan ini dengan aksi musiknya yang memukau hingga acara berakhir.

Mengasah Ketajaman Persaudaraan Melalui Rekreasi OMK St. Damianus, Lau Simomo

Maurits PardosiOMK sedang berada di jembatan dan bersiap melompat ke sungaiOMK stasi St. Damianus, Lau Simomo merencanakan rekreasi ke daerah Tiga Binanga pada 19 Juli 2019. Kegiatan ini bermula dari bincang-bincang bersama setelah menggelar aksi mereka pada temu akbar OMK se Paroki St. Petrus dan Paulus, Kabanjahe. OMK terdiri dari beragam jenjang umur karena jumlah umat di stasi tersebut masih sedikit. Secara umum, mereka masih duduk di bangku SMP dan SMA. Sebagian dari mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi.Saling berbagi pada acara makan bersamaDalam rekreasi ini, orang tua yang diwakili oleh Pak Rulin dan Nande Rulin. Artinya, orang tua tetap memberikan perhatian terhadap kaum muda. Hal unik lainnya adalah kerjasama mereka dalam mempersiapkan kegiatan mereka. Ada yang menyediakan kayu bakar, makanan; daging, ikan, nasi, dan aneka bumbu. Salah satu OMK juga bersedia menyediakan pengangkutan ke tempat rekreasi.Kebersamaan tampak dalam permainan airOMK yang berjumlah tidak lebih dari tiga puluh orang ini menikmati rekreasi ini dengan penuh semangat. Tampaklah kebersamaan mereka lewat permainan air dan bernyanyi bersama. Canda tawa saling beradu saat yang satu bercerita dan yang lain mendengarkan.Sesudah acara makan siang, OMK berenang bersama. Sembari menikmati pesona sungai Tiga Binanga, tepatnya Sungai Namo Karang, Kecamatan Juhar, Kidupen OMK mencoba atraksinya melompat dari jembatan ke sungai.Sebelum pulang, Nande Rulin mengumpulkan OMK kembali guna menyemangati mereka atas perolehan prestasi. “Saya sungguh bangga melihat kalian, OMK atas keberhasilan beberapa pertandingan; bulutangkis, vocal solo, merangkai bunga, vocal group, dan lari goni. Seluruh hadiah dihibahkan guna biaya rekreasi. Kita rekreasi bukan karena ada hadiah pertandingan. Jadilah orang-orang yang peduli akan gereja kita” terang Nande Rulin.Foto bersama sebelum pulangAcara ini berlangsung meriah dan tentu selurun OMK bisa saling memperlihatkan kekuatan persaudaraan. Pak Rulin berharap bahwa kedepannya, OMK semakin memupuk persaudaraan agar tetap lestari.Sayonara..

“Terjadilah Padaku Seturut KehendakMu” Dikumandangkan Pada RayaYouth Day

Maurits Pardosi

RP. Togu Nestor Sinaga, OFM Cap, suster, pemerintah, orang tua, dan OMK telah bersiap melakukan kegiatan

Pada awal minggu di bulan Juli, tepatnya 4 hingga 7 Juli 2019. Youth Day yang dihelat tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan adanya live in (tinggal bersama) dengan keluarga yang lain. Mereka disebarkan di daerah Pematang Raya, Sirpang Sigodang, dan Pulian Baru. Pada tahun sebelumnya, para peserta hanya berkumpul di Paroki dan berkompetisi dengan beragam pertandingan.

Dengan langkah pasti, OMK mampu bergerak dan bersatu

Acara ini dimeriahkan dengan beragam acara, misalnya perlombaan Koor, Fashion Show, Futsal Putra, dan Volley Putri. Peserta yang hadir berasal dari 20 stasi yang tergabung dalam Paroki St. Stefanus, Martir, Raya. RP. Togu Nestor, OFM Cap., parokus Paroki St. Stefanus, Martir, Raya dan beberapa frater dari Pematangsiantar turut ambil bagian dalam kegian OMK ini sebagai pemerhati dan pendukung berlangsungnya kegiatan ini. Tentu, para peserta merasa gembira dengan adanya antusias parokus dan para frater.

Orang tua sangat mendukung kegiatan tersebut karena anak mereka mendapat edukasi iman secara nyata lewat perjumpaan mereka dengan umat yang lain, secara khusus melalui kegiatan live in. Agus Purba, salah satu orang tua menyampaikan bahwa kegiatan ini harus didukung karena sangat membantu OMK membina karakter mereka. Dengan demikian, OMK diharapkan mampu menjadi agen-agen perubahan di tengah masyarakat dan Gereja. Selebihnya, OMK semakin mampu berbela rasa dan berbagi satu sama lain.

Kaum Muda tetap bersemangat

Seluruh OMK di Paroki St. Stefanus, Martir, Raya sangat berharap bahwa kegiatan ini tetap berlanjut di tahun berikutnya. Ronita, salah satu OMK (peserta) mengutarakan pengalamannya bahwa dengan kegiatan live in tersebut, dia semakin mengenali dirinya dan mampu berbagi dengan orang lain. Selain menciptakan suasana hangat pada keluarga yang ditemuinya, dia juga dituntut bermurah hati dan tetap bersemangat mengembangkan diri. Semua nilai yang mereka dapatkan selama kegiatan semata-mata demi perkembangan diri mereka. Tak perlu takut untuk berubah, karena OMK dipanggil sebagai agen-agen perubahan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai