Maurits Pardosi dan OMK Paroki St. Petrus Medan Timur

31 Mei 2019, Umat Paroki St. Petrus, Medan Timur berarak bersama dari gerbang antara gereja dan pastoran sambil memegang lilin bernyala. Antusias umat beriman tergambar dari kesatuan hati mendaraskan doa rosario. Perarakan berakhir di depan gereja yang ditandai dengan mematikan lilinnya sebelum memasuki gereja.
Misa kudus berlangsung hikmat, seperti biasanya karena setiap minggu, umat selalu mendapat katekese akan nilai keheningan dalam gereja. Nikmatnya keheningan tentu membantu umat meresapkan Sabda Allah yang dikumandangkan oleh imam dari altar dan mimbar. Misa kudus dilayani ole dua imam: RP. Hugolinus Malau, OFM Cap. dan RP. Polyaman Purba, OFM Cap.
Dalam kotbahnya, RP. Polyaman Purba menarasikan mengenai Elisabet, sosok yang rendah hati dan penuh keyakinan akan penyelenggaraan Allah dalam banalitasnya. Kerendahan hati ini tentu telah ditunjukkan oleh Bunda Maria lewat kesediaan dan penyerahan dirinya pada Allah. Dan yang paling melekat dalam ingatan kita adalah kunjungan Maria kepada Elisabet. Hal ini juga bisa kita teladani lewat tutur sapa kita setiap hari. Misalnya, lewat senyum seseorang, kita bisa merasakan nilai terdalam yang disampaikan orang tersebut.
Setelah Misa Kudus, umat juga merayakan kebersamaan melalui santapan sederhana; panitia menyediakan makanan ringan untuk dinikmati bersama. “Kebiasaan seperti ini membantu umat memahami kebersamaan sebagai keluarga mengingat pudarnya kebersamaan dalam keluarga akibat penjajahan oleh gadget” Kristof Sinaga (30), salah satu OMK Paroki.
Melalui acara penutupan Bulan Maria dan Pesta ‘Maria Mengunjungi Elisabet, Saudarinya’, umat beriman bisa meneladan Bunda Maria, sebagai agen-agen kerendahan hati dalam hidup harian.