Cerdas Mengolah Masa Tua

Maurits Pardosi

Bila ditanya mengenai pendapat kita akan masa depan, jawaban kita pasti beragam. Sebagian dari kita akan menyatakan bahwa masa pensiun adalah saat untuk menikmati hari tua dengan mengisi berbagai hal. Mereka mulai berpikir untuk berjalan-jalan, santai, dan menghabiskan dana pensiunnya. Namun, bagi sebagian orang, masa pensiun adalah malapetaka. Bahkan, banyak juga orang yang tidak siap menjalani masa pensiun. Kadangkala, masa pensiun seperti penjara, masa tidak bisa berbuat banyak lagi. Hal ini bisa saja timbul karena setiap orang belum tentu mempersiapkan diri untuk hari tuanya.

Survey yang dilakukan PT. Bank HSBC Indonesia mengenai masa pensiun yang bertajuk Future of Retirement, Bridging The Gap menunjukkan bahwa kesadaran mempersiapkan masa pensiun masih pada level mengkhwatirkan. Future of Retirement merupakan studi yang dilaksanakan terhadap 17.405 orang di 16 negara. Di Indonesia, survei ini direspon oleh 1.050 responden yang terdiri dari mereka yang usia produktif dan pensiun.

Hasil survey itu menunjukkan bahwa dari 68% responden yang menginginkan masa tua yang nyaman, hanya 30% yang telah sadar dan tergerak untuk mulai berinvestasi untuk masa pensiun mereka. Dari para responden didapatkan info bahwa sebanyak 2/3 responden usia kerja menyatakan akan lanjut bekerja setelah pensiun, seperti memulai berwirausaha (54%), sedangkan sisanya memilih untuk mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tabungan (29%), kembali mencari pekerjaan (25%), serta membangun kos-kosan atau menyewakan rumah (19%). Dari data yang diperoleh, 75 % responden akan mengharapkan anaknya membantu mereka di masa pensiunnya. Artinya, masa pensiun bisa jadi menyusahkan bagi orang lain (anaknya).

Untuk membantu masyarakat memanage keuangan di masa pensiun, Pemerintah telah membuat Undang-undang yang mengatur soal dana pensiun. Kepala Bagian Analisis Penyelenggaraan Biro Dana Pensiun Bapepam-LK, Yusman telah menyatakan bahwa pengelolaan dana pensiun harus dilakukan agar ada jaminan di masa pensiun. Sebenarnya, untuk menyisihkan sebanyak 10% hingga 20% dari gaji bukanlah hal sulit, namun masyarakat Indonesia belum menyadarinya. Faktanya, Indonesia hanya sanggup menyisihkan 6,64% dari gaji untuk dana pensiun.

Bila kita bandingkan dengan Negara-negara lain, Indonesia masih kurang memiliki kesadaran pentingnya dana pensiun. Pegawai di Yunani mendapat dana pensiun sebanyak 95,7% , Luxemburg (87,4%), Austria (76,6%), Italia (64,5%), Turki (64,5%), Slovenia (62,4), Finlandia (57,8%), Portugal (53,9%), Republik Ceko (50,2%),  Singapura menyisihkan dana pensiun mereka sebanyak 33%. Dengan melihat uraian ini, kita masih jauh dari negara-negara maju.

Masa Pensiun belum Terpikirkan

Kita harus menyadari bahwa setiap pekerja akan memasuki yang namanya masa pensiunan, masa beristirahat. Berdasarkan data persentase penduduk menurut kelompok umur yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, lansia di Inonesia sebanyak 8,9% dari 23,4 juta penduduk. Sebagai tambahan, banyak riset yang menunjukkan bahwa hanya 10% orang yang bisa mandiri secara finansial saat pensiun nanti. Artinya, mereka tidak bergantung pada anak dan tidak bekerja lagi. Masa pensiun bukan lagi masa untuk menyusahkan orang lain.

Regional Head of Agency Development Sequis Life, Fourrita Indah mengatakan baiknya seseorang menyisihkan 5% hingga 20% dari penghasilan bersih bulanan sebagai persiapan masa pensiun. Angka ini dikhusukan bagi mereka yang berkarya sebagai wiraswasta, sedangkan bagi karyawan bisa menabung lebih kecil dari wiraswasta. Sebab karyawan telah medapat sokongan dana di masa pensiun dengan adanya kewajiban fasilitas program Jaminan Hari Tua (JHT) dari perusahaan/ instansi.

Bagi orang yang mempersiapkan masa pensiunnya akan mengumpulkan dana pensiunnya sejak dini. Semakin banyak jumlah yang disisihkan masa sekarang,akan banyak pula yang akan diterima di masa pensiun. Salah satu penyebab 90% orang yang tidak siap menghadapi pensiun adalah karena kurangnya persiapan sejak usia muda. Maka, para pekerja di masa sekarang harus menyadari pentingnya sebuah perencanaan pensiun.

Dari hasil survey HSBC, kita bisa melihat bahwa warga Indonesia masih kurang memperhatikan dana pensiunannya di masa depan. Menabung demi masa pensiun termasuk cara terbaik bagi para pekerja aktif di masa sekarang agar kelak tidak tergantung terhadap pendapatan anak di kemudian hari. Kenyamanan finansial di masa pensiun mempengaruhi tingkat ketenangan hidup. Dalam hal ini, pensiunan Indonesia akan tetap banting tulang mendapatkan pemasukan finansian di masa pensiunannya. Pensiunan Indonesia berbeda dengan pensiunan di Negara maju. Masih menurut survey HSBC, pensiunan Australia hanya 3% yang membutuhkan bantuan finansial dari anaknya di masa depan, Amerika (3%), Perancis (1%), dan Kanada (1%).

Jadilah Melek Menabung

Ratapan para pensiunan di masa mendatang akan terbukti bila mereka tidak menabung sejak dini. Menabung tidak mempersoalkan jumlah uang. Yang paling utama adalah konsistensi. “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Ternyata, ketakutan menjalani masa pensiun disebabkan oleh minimnya persiapan sejak dini. Setelah melihat betapa minimnya persiapan masyarakat kita akan persiapan masa pensiun, maka salah satu tindakan yang harus dilakukan adalah menabung. Menabung berarti menyisihkan sebagian penghasilan di masa sekarang. Menabung merupakan salah satu bentuk cara pengelolaan uang secara bijak.

Barangkali, sesekali kita bisa saja belajar dari film yang mengajarkan melek menabung. After The Fall mengisahkan mantan agen asuransi yang dipecat karena alasan perampokan. Agen asuransi menyatakan bahwa pekerjaan yang tetap bukanlah jaminan di masa depan. Jaminan masa depan adalah bila kita menabung. Film The Pursuit of Happyness menceritakan bahwa pengelolaan uang yang tidak baik akan habis pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Film ini juga mengajarkan bagaimana cara untuk bangkit dari kegagalan.

Film Fun With Dick and Jane mengingatkan kita agar menggunakan uang secara bijak. Kebanyakan kaum muda menghabiskan uangnya dengan hidup bermewah-merah tanpa memikirkan kebutuhan di masa mendatang. Perlu diingat, pekerjaan yang sedang kita jalani bukanlah jaminan. Film Wall Street mengisahkan bagaimana perjuangan Bud menabung darui hari ke hari sehingga dia mampu menikmati hidupnya. Dia berpesan bahwa pendapatan yang dimilikinya dan jaminan finansial di masa tua tidak dating dari kecurangan jangka pendek, melainkan hasil jerih payah dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Dan pada akhirnya, kita tidak takut berjalan menuju hari tua, masa pensiun. Masa pensiunan bukan lagi penjara, melainkan alam bebas. Masa tua menjadi masa yang indah untuk mengukir kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Kehadiran kita di masa pensiun menjadi sumber inspirasi bagi kaum muda. Semoga!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai