Maurits Pardosi
Kata,
kalimat adalah sarana yang kita gunakan untuk mengungkapkan ide yang ada dalam
pikiran kita. Gagasan bukanlah sebuah gagasan, jika gagasan itu tidakdisertai dengan kata. Dalam pergaulan
sehari-hari, kata menjadi bahan pertikaian dan perselisihan karena hal yang ingin
disasar tidak mencapai target dan sasaran. Maka, dalam tulisan ini penulis
ingin memaparkan pandangan seorang filsuf yang membahas tentang bahasa dan
spesifikasinya adalah penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-hari.
Dalam garapan ini, kita akan melihat bagaimana filsafat memberi penerangan bagi
kita dalam penggunaan bahasa yang benar dalam pergaulan sehari-hari.
Setelah perang dunia II, universitas Oxford menjadi pusat perhatian
dalam filsafat analitis. Oxford membahas perihal ordinary language philsophy. Dalam hal ini para filsufnya sangat
dipengaruhi pemikiran Wittgenstein. Salah satu faktor kelambanan Wittgenstein
memasuki Oxford adalah tidak adanya dalam
adat istiadat yang kuat universitas ini. Oxford juga mengangkat seorang
professor, maka Wittgenstein tidak cepat memasuki univeritas ini. Gilbert Ryle
dipengaruhi oleh Wittgenstein saat mengajar di Cambridge. Oxford juga
menggumuli pandangan Aristoteles perihal filologi klasik (Yunani dan Latin).
Maka pemahaman mereka perihal filsafat analitis mendapat pengaruh dari
pandangan Aristoteles. Salah satu pemikiran Aristoteles perihal bahasa
sehari-hari, yakni Ethic Nicomacea. Pemikiran ini mempengaruhi pola pikir
Gilbert Ryle.[1]
Perkembangan filsafat analitik diambilalih oleh tokoh dari Oxford di antaranya adalah
Gilbert Ryle dan John Austin. Konsep filsafat Ryle sedikit banyak dipengaruhi
oleh pemikiran Moore terutama titik tolak pada penggunaan bahasa biasa. Dapat
juga dikatakan bahwa konsep filsafat bahasa biasa Ryle merupakan pengembangan
lebih lanjut dari yang dirintis oleh Wittgenstein. [2]
Gilbert Ryle
(1900-1976) belajar filologi klasik dan filsafat di unive trsitas di Oxford
pada tahun 1945 dan menjadi professor di sana. Pada tahun 1947 dia mengganti
Moore sebagai pemimpin majalah Mind
dan memegang jabatan ini pada tahun 1971. Ada satu karya Gilbert Ryle yang
terkenal, yakni : The Concept of Mind (1949) dan beberapa ceramah yang
dibawakan di Cambridge diterbitkan dengan judul Dilemmas (1954). Ryle juga menulis buku yang menyangkut salah satu masalah sejarah filsafat Yunani,
yakni Plato’s Progress (1966). Buku The Concept of Mind dimaksudkan untuk
menyelidiki konsep-konsep yang menyangkut hidup psikis, misalnya: pencerapan
(sensation), persepsi, fantasi, pengingatan, pemikiran, pengertian, kehendak,
motif dan lain-lain. Dalam garapannya, Ryle menekankan aspek penggunaan bahasa.
Dia menganalisi kata-kata secara terperinci dan mendalam. Ada satu contoh
menarik dari pengalaman Ryle tentang penggunaan kategori yang salah. “seorang
turis berjalan-jalan untuk mengelilingi universitas Oxford. Dia melihat
perpustakaan dan bangunannnya. Dalam perjalanannya, dia bertanya “dimana
universitas Oxford?”. Sang turis tidak mengerti bahwa Univeritas Oxford terdiri
dari beberapa college. Universitas adalah kumpulan dari beberapa college yang
dilembagakan.[3]
Untuk memperdalam
pemahaman Gilbert Ryle akan penggunaan bahasa sehari-hari, maka penulis akan
memaparkan beberapa poin penting dalam pemikiran Gilbert Ryle.
- Penggunaan Bahasa Biasa (Ordinary
Language)
Bagi Ryle kesalahan filsafat yang paling
menggelikan adalah saat menggunakan bahasa baku (ordinary use) dianggap sama dengan penggunaan bahasa sehari-hari (ordinary usage). Alasannya adalah bahwa
bahasa yang digunakan dalam bahasa sehari-hari belum tentu mencerminkan bahasa
yang baku. Yang dimaksud dengan penggunaan bahasa baku adalah mengunakan bahasa
yang sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar serta pemakaian
istilah yang baku (bdk. dalam bahasa Indonesia, bahasa baku berarti sesuai
dengan EYD). Sedangkan yang dimaksud dengan bahasa sehari-hari adalah bahasa
pergaulan, seperti pemakaian bahasa daerah atau pun pemakaian bahasa yang tidak
didasarkan pada tuntunan tata bahasa yang baik dan benar, dan penggunaan istilah
asing yang belum dibakukan. Menurut Ryle, filsafat bahasa seharusnya diarahkan
pada penggunaan bahasa baku, bukan pada penggunaan bahasa sehari-hari.
Tujuannya adalah agar kita dapat memberikan penjelasan yang memadai bagi
penggunaan ungkapan yang standart.[4]
Penggunaan ungkapan yang standar (ordinarily use expresions) adalah
pengunaan istilah atau ungkapan teknis dalam bidang ilmu pengetahuan yang
mempunyai arti yang tepat. Untuk memeriksa ketepatan penggunaan istilah teknis
diperlukan penjelasan (clarification)
yang memadai. Penjelasan yang memadai itu dapat ditempuh melalui penggunaan
bahasa baku, bukan bahasa sehari-hari. Misalnya, untuk menjelaskan istilah
“permintaan” dalam bidang Ekonomi, kita harus menggunakan bahasa baku sehingga
kita dapat membatasi pengertian istilah “permintaan” pada lingkup Ilmu Ekonomi
saja. Apabila kita menjelaskan istilah tersebut dengan menggunakan bahasa
sehari-hari, maka akan timbul kesalahpahaman terhadap arti istilah itu yang
sesungguhnya. Oleh karena itu, Ryle menyarankan agar para filsuf mencari
penggunaan ungkapan yang standar sebagaimana menemukan penggunaan yang pasti
dan benar dari suatu alat, yaitu dengan cara memanipulasi alat itu sendiri.[5]
Ryle menyimpulkan penggunaan bahasa itu
dengan menyatakan bahwa kita semua mengetahui cara menerapkan setiap kata, dan
kita pun mengerti manakala orang lain menerapkannya. Penyalahgunaan atau pun
penyimpangan dari bahasa biasa timbul karena adanya pertentangan di antara
kelas-kelas dari ungkapan yang kita gunakan dalam bahasa biasa. Penggunaan istilah dalam filsafat kerap
membingungkan pendengarnya karena menghasilkan banyak penafsiran. Dalam hal
ini, ada tendensi bahwa istilah menyebabkan ambiguitas dalam pengertiannya. Penggunaan
istilah sering digunakan dengan coba-coba (trial
and error). Maka, dalam penggunaan bahasa sehari-hari, setiap penguna harus mengetahui dengan benar
akan penerapan bahasa itu sendiri.[6]
- Kesalahan atau Kegalatan
Kategori (Category Mistake)
Istilah kegalatan kategori adalah salah satu
teori Ryle yang menyoroti masalah penyimpangan atau penyalahgunaan bahasa
biasa. Kegalatan kategori adalah kekeliruan atau kegalatan yang terjadi apabila
seseorang menggambarkan fakta yang sebenarnya dengan menggunakan kategori lain.
Singkatnya, “category mistake” adalah
penggunaan kalimat yang predikatnya tidak termasuk kategori yang khas untuk
subjeknya.[7]
Misalnya, orang mengatakan bahwa angka tiga adalah jantan dan angka empat
adalah betina. Kata jantan dan betina termasuk dalam kategori Ilmu Hayat.
Sedangkan angka masuk kategori Ilmu Hitung. Jadi kegalatan kategori merupakan
pertentangan umum “bentuk logis” atau kategori dari ungkapan yang bertentangan
satu sama lain.[8]
Melalui konsep “kegalatan kategori”, Ryle
mengkritik konsep dualisme Descartes[9]:
dua substansi dalam diri manusia, yaitu substansi yang berpikir (Res Cogitans) dan substansi yang berkeluasan (Res Extensa). Artinya, manusia mengenal dirinya sebagai makhluk yang berpikir dan
sekaligus makhluk yang tidak berpikir. Manusia hanya bersifat lapang dan luas (res ekstensa). Menurut Ryle, sangatlah
aneh dua substansi yang begitu berbeda dapat bergabung secara harmonis dalam diri manusia. Dalam hal ini, para filsuf kerap
mencampuradukkan kategori-kategori yang berlainan. Setiap kata harus menunjuk suatu
disposisi agar pengertian suatu kata itu menjadi terang dan berbeda (clara et distincta).[10]
- Kelemahan Bahasa Filsafat
Ryle menguraikan beberapa kelemahan bahasa
filsafat, tertutama mencakup penggunaan berbagai jenis kata yang tidak pernah
ditunjuk dengan jelas oleh para filsuf apa arti dan maksud sebenarnya dari kata
itu. Kelemahan itu antara lain:
- Penggunaan dispositional
statements, yaitu pernyataan yang menunjuk pada sifat atau kebiasaan
tertentu. Menurut Ryle, pernyataan yang menunjuk pada sifat atau kebiasaan harus dibedakan dari
pernyataan yang menunjuk pada suatu peristiwa. Contoh: seorang pria yang
disebut sebagai perokok, tidak berarti pria itu sekarang sedang merokok. Kata
“perokok” menunjuk pada sifat atau kebiasaan (disposisi), bukan menunjuk pada
peristiwa “pria itu sedang merokok”. Dengan demikian, jelaslah ada perbedaan
logis antara penggambaran kebiasaan (dispositions)
dengan penggambaran suatu peristiwa (occurences).
- Pengunaan jenis kata kerja mengacu tugas (Task Verb) dan kata kerja mengacu tujuan (Achievement Verbs). Menurut Ryle, meskipun ke dua jenis kata kerja ini cenderung
menunjukkan aktivitas yang sama (satu kata kerja tertentu), namun kekuatan
logis yang terkandung di antara ke dua jenis kata kerja itu berbeda. Satu
perbedaan besar antara kekuatan logis yang terkandung dalam jenis kata kerja
mengacu tugas dengan jenis kata kerja mengacu tujuan adalah bahwa dalam
penerapan kata kerja mengacu tujuan, kita menjelaskan beberapa bentuk peristiwa
yang meliputi dan mengatasi hal-hal yang terkandung di dalam tindakan yang
dilakukan, melebihi pelaksanaan suatu tugas.
Contoh: bagi seorang pelari yang ingin
menang dalam perlombaan, tidak cukup hanya berlari (mengacu pada tugas), tetapi
juga harus mampu meninggalkan saingan untuk menang (mengacu pada tugas).
Dengan membedakan kekuatan logis yang
terkandung dalam dua jenis kata kerja itu, Ryle mau menunjukkan bahwa banyak
jenis kata kerja yang digunakan (terutama dalam filsafat), gagal memperhatikan
bahwa beberapa jenis kata kerja sekaligus berfungsi sebagai kata kerja mengacu
tugas sekaligus mengacu tujuan.[11]
- Persamaan
dan Perbedaan Pandangan Gilbert Ryle dengan Wittgenstein
Dalam pembahasan ini,
pandangan Gilbert Ryle tidak pernah lepas dari pandangan Wittgenstein. Hal ini
didasarkan pada karya-karya ataupun pengajaran Wittgenstein mempengaruhi Ryle.
4.1
Persamaan Pandangan Ryle dengan Wittgenstein
Ada persamaan pemikiran di antara ke tiga
tokoh. Para filsuf Filsafat Bahasa Biasa mengalihkan perhatian dari bahasa
logika pada titik tolak penggunaan bahasa biasa. Mereka mulai meragukan
keampuhan bahasa logika dalam penentuan makna suatu ungkapan. Mereka fokus pada
penggunaan bahasa biasa. Intinya, para filsuf bahasa biasa mengarahkan
perhatian pada pengunaan bahasa biasa. Oleh sebab itulah aliran filsafat ini
dikenal dengan nama “Filsafat Bahasa Biasa”. Kesamaan ini bisa kita lihat dari
pemikiran setiap tokoh. Konsep filsafat
bahasa biasa Ryle merupakan pengembangan lebih lanjut dari apa yang telah
dirintis oleh Wittgenstein II. Sama seperti Wittgenstein II, Ryle juga
memfokuskan perhatian pada penggunaan bahasa biasa. Hanya saja, Ryle mebuat
spsesifikasi pengunaan bahasa biasa. Dia lebih menekankan penggunaan bahasa
biasa yang baku. Kendati pun demikian, pokok utama pemikiran Ryle adalah
penggunaan bahasa biasa.
4.2
Perbedaan Pandangan Ryle dengan Wittgenstein
Kendatipun Wittgenstein II dan Ryle adalah sama-sama pengikut
paham Filsafat Bahasa Biasa dan fokus pada penggunaan bahasa biasa, namun
terdapat juga perbedaan di antara mereka. Mereka memiliki kekhasan
masing-masing. Ryle berbeda dengan Wittgenstein II. Ryle membedakan pengunaan
bahasa biasa yang baku dengan bahasa biasa menurut kebiasaan sehari-hari. dia
menekankan penggunaan bahasa biasa yang baku. Bagi Ryle, kesalahan filsafat
yang paling menggelikan adalah saat penggunaan bahasa biasa yang baku dianggap sama dengan
penggunaan
bahasa biasa non-baku (kebiasaan sehari-hari). Alasanya ialah karena bahasa
sehari-hari belum tentu mencerminkan bahasa yang baku. Menurut Ryle, filsafat
bahasa seharusnya diarahkan pada penggunaan bahasa yang baku, bukan pada penggunaan bahasa biasa
menurut kebiasaan sehari-hari. Tujuannya adalah agar kita dapat memberikan penjelasan yang memadai dari suatu ungkapan.[12]
Pendapat ini jelas berbeda bahkan
bertentangan dengan pandangan Wittgenstein II yang mengarahkan perhatian pada
penggunaan
bahasa biasa menurut kebiasaan sehari-hari. Bahasa biasa yang baku berarti
memenuhi tuntunan tata bahasa yang baik dan benar. Bahasa biasa menurut
kebiasaan sehari-hari berarti mengunakan bahasa pergaulan (bahasa daerah) dan
istilah asing yang belum baku yang tidak didasarkan pada tuntunan tata bahasa
yang baik dan benar. Tujuan mengarahkan teknik analisa bahasa itu pada penggunaan bahasa yang baku
adalah supaya kita dapat memberikan penjelasan yang memadai dari suatu
ungkapan. Yang khas lagi dari Ryle istilah Category-Mistake
(kegalatan kategori). Kegalatan kategori adalah kekeliruan yang terjadi
manakala seseorang menggambarkan fakta yang sebenarnya termasuk kategori yang
satu dengan menggunakan ciri-ciri logis yang menandai kategori lainnya. Contoh: “Angka
tiga adalah jantan dan angka empat adalah betina.” Kekeliruan kalimat itu
adalah jantan dan betina termasuk kategori ilmu hayat sedangkan angka tiga dan empat masuk
kategori ilmu hitung.[13]
Bagaimana mungkin bahasa ini dipakai untuk
menjelaskan maksud filsafat bagi dunia? Oleh karena itu, filsafat hendaknya
mengunakan bahasa filsafat yang baku (misalnya Bahasa Indonesia sesuai EYD)
sehingga orang lebih mengerti maksud filsafat. Jadi dalam hal ini penulis
setuju dengan pendapat Ryle yang mengarahkan perhatian pada penggunaan bahasa
biasa yang baku. Kegalatan kategori yang dikemukakan Ryle juga sangat tepat untuk mengkritik
bahasa filsafat. Ada juga kalimat, tidak bermakana karena kegalatan kategori.
Kegalatan kategori berarti predikatnya tidak termasuk kategori yang khas untuk
subjeknya. Contoh: “Angka genap lebih merah dari pada angka ganjil.” Kalimat
tersebut tidak bermakna karena kata “merah” masuk kategori warna, sedangkan
kata “ganjil” masuk dalam kategori angka.
Bagi penulis, pemikiran Gilbert Ryle menjadi
ajakan untuk berefleksi tentang penggunaan bahasa dalam hidup sehari-hari. Zaman ini, bahasa sudah mengalami
kerusakan karena bahasa pergaulan (bahasa SMS). Banyak orang terutama orang
muda mengungkapkan isi pikiranya dengan bahasa yang tidak baku. Orang lain
tidak mengerti makna ungkapannya, sehingga maksud si penutur tidak sampai kepada penerima pesan.
Kiranya dengan mengetahui pemikiran Gilbert Ryle, setiap orang secara khusus
penulis bisa mengungkapkan maksudnya dengan bahasa yang jelas dan dipahami oleh
orang lain. Penulis sebagai calon petugas pastoral, hendaknya bisa berbahasa dengan baik dan
benar, tidak bicara sembarangan, melainkan sesuai dengan pemikiran filsuf
Filsafat Bahasa Biasa, sehingga warta injil bisa dipahami orang yang mendengar.
Aliran Filsafat Analitik ini dikenal dengan
nama Filsafat Bahasa Biasa. Para penganut aliran ini mengarahkan perhatian pada
penggunaan bahasa biasa bagi maksud-maksud filsafat. Memberi penjelasan sesuai
dengan tata permainan bahasa dan menghindari kegalatan kategori, serta
memperhatikan jenis ucapan dan tindakan bahasa yang dipakai berarti memberi
penjelasan tentang filsafat dengan tepat. Penganut aliran ini mengajak para
filsuf untuk menyampaikan maksud filsafatnya dengan menggunakan bahasa biasa,
sehingga orang mengerti apa yang disampaikan. Dengan demikian, filsafat memberi
jalan keluar bagi orang yang tersesat , bukan sebaliknya.
[1] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman,
(Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 56.
[2] Rizal Mutansyir, Filsafat Analitik: Sejarah, Perkembangan dan
Peranan Para Tokonhya, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), hlm. 92.
[3] K. Bertens, Filsafat Barat …, hlm. 56-57.
[4] Rizal Mutansyir, Filsafat Analitik:…, hlm. 93
[5] Rizal Mutansyir, Filsafat Analitik:…, hlm. 94
[6] Rizal Mutansyir, Filsafat Analitik:…, hlm. 95-96.
[7] Adelbert Snijders, Manusia & Kebenaran, (Yogyakarta:
Kanisius, 2006), hlm.139.
[8] K. Bertens, Filsafat Barat …, hlm. 58.
[9]Gilbert Ryle juga menyerang konsep dualisme
Descartes. Salah satu tulisan Descartes yang mendapat sorotan. Ryle
menyindir tulisan Descartes dengan menyebut
pandangan Descartes “the myth of the ghost in the machine”. Roh atau psike
dianggap sebagai salah satu yang dapat dibandingkan dengan tubuh dan tetapi
berbeda dengannya, karena tidak bersifat spasial, tidak terbuka untuk orang
lain dan hanya dikenal dengan introspeksi.
[10] K. Bertens, Filsafat Barat …, hlm. 58-59.
[11] Rizal Mutansyir, Filsafat Analitik:…, hlm. 99-102, (bdk.
K. Bertens, Filsafat Barat …, hlm.
59)
[12] Adelbert Snijders, Manusia & Kebenaran, …, hlm.138-139.
[13] Adelbert Snijders, Manusia & Kebenaran …, hlm.139