Misteri adalah sebuah jawaban

Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. (Uskup Agung Medan)

The different is not always the best, but the best is always different (yang berbeda tidak selalu terbaik, namun yang terbaik selalu berbeda. Inilah menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul sebelum Uskup yang baru terpilih. Dalam sebuah perjalanan, tentu banyak tanya yang tidak selalu bisa terjawab. Kehebatan kata “mistery” ternyata bisa menyelamatkan banyak pertanyaan kita. Inilah jawaban yang selalu ada dalam Gereja kita.

Terpilihnya Mgr. Kornelus Sipayung bisa jadi menjadi jawaban atas kehausan umat Keuskupan Agung Medan pada zaman ini. Dan semua respon kita tentu didasari oleh kata misteri, termasuk respon saya dalam tulisan ini. Saya, secara pribadi tidak bisa memastikan bahwa Uskup yang baru ini adalah orang yang sudah kukenal lebih dalam, namun paling tidak dengan berkenalan selama satu tahun dalam sebuah komunitas, saya akan memaparkan sebagian pengenalan saya mengenai beliau.

Pater Kornelus (begitulah ungkapan kepada beliau sebelum menjadi Uskup) adalah sosok yang selalu berusaha untuk tetap hidup dalam koridor ciri khas kekapusinan. Ketiga kaul yang senantiasa diikrarkan menjadi pedoman dalam perjalanan hidupnya. Jatuh bangun adalah hal yang pasti dalam sebuah perjalanan, namun situasi yang demikian tidak selalu stabil tidak menjadi penghalang dalam perjalanan. Oleh karena itu, ketiga simpul yang ada dalam singulum bukanlah jaminan bahwa pengguna singulum telah sesuai dengan spiritualitas ketiga simpul tersebut. Spiritulitas tersebut hanya dijawab dengan kesetiaan. Dan, hal itu ada dalam diri Pater Kornelus sendiri.

Kini, Pater Kornelus Sipayung memangku pelayanan sebagai Uskup. Tugas pelayanan ini merupakan sebuah kebanggaan sekaligus tantangan. Pelayanan seorang Uskup adalah panggilan misteri Allah. Dalam semangat kerjasama dengan seluruh imam di Keuskupan Agung Medan, kiranya bisa menggelorakan iman dan menjadi oase bagi umat beriman. Dengan penuh pengharapan, semangat kerendahan hati St. Fransiskus Assisi kiranya menjadi kasut dan tongkat bagi uskup baru dalam menggembalakan umat beriman.

Sejarah hidup uskup yang baru di masa lalu menjadi cermin untuk melangkah ke depan sekaligus menjadi rambu-rambu untuk menyongsong hari esok. Akhir kata saya mengutip ungkapan Tom Hanks, “orang yang mencari makna kehidupan adalah mereka yang telah membentuk pikirannya dan tindakannya untuk sebuah tujuan yang membuat hidup mereka paling bermakna”.

Maurits Pardosi

Memandang dekat atau menandang jauh?

Maurits Pardosi

Memandang gunung dari kejauhan

Dalam sebuah percakapan yang tak disengaja alias jumpa di tempat angkringan, kami berlima berkumpul. Semua yang berkumpul di sana adalah mantan seminaris, frater dan ada juga seorang imam. Pertemuan ini menyoal masalah panggilan hidup. Masing-masing menuturkan dinamika hidupnya seturut profesinya. Bagi sebagian orang, panggilan itu adalah waktu untuk berbuah, kesempatan menunjukkan kasih kepada setiap orang di sekitar. Sebagian orang juga mengatakan bahwa panggilan itu adalah pemberian Tuhan secara cuma-cuma. Ada juga yang menyatakan bahwa panggilan tanda cinta Tuhan kepada manusia.

Menikmati gunung Pusuk Buhit dari dekat

Seorang Bapak Keluarga yang berkerja di sebuah perusahaan besar mengatakan bahwa hidup berkeluarga amatlah susah. Kesusahannya bukan sebatas menafkahi hidup, yang paling berat adalah menjaga keharmonisan dalam keluarga – banyak godaan dan cobaan dalam sebauh keluarga, khususnya kesetiaan. Dia sampai pada kesimpulan bahwa lebih enak menjadi seorang biarawan daripada memilih berkeluarga. Tak mau kalah, si anak muda juga menuturkan persoalan hidupnya; susahnya mendapat pekerjaan yang menetap, mencari jodoh yang tepat, dan menikmati hidup di luar ini. Kisah ini berakhir dengan sebuah kesimpulan bahwa lebih tenang hidup menjadi seorang biarawan.

Setelah si anak muda dan si bapak keluarga bertutur perihal kesukaran-kesukaran hidupnya, si imam dan frater mulai bercerita seputar hidup mereka. Sang frater menceritakan perjuangan hidupnya menjadi seorang frater yang tak kalah serunya dibanding pengalaman kedua umat beriman tadi. Perjalanan menjadi seorang frater bukanlah gampang,selalu ada kerikil tajam dalam setiap tapak perjalanan mereka. Kesetiaan untuk hidup terikat pada ketiga kaul ternyata tidak seindah yang kita lihat manakala mereka tampil di depan umat. Begitu jugalah perjuangan seorang imam, mereka ternyata mengalami banyak pemurnian dalam setiap langkah mereka. Seluruh perjalanan mereka mengalami gangguan dan ancaman pabila mereka melangkah di luar garis ketiga kaul.

Di media sosial, sering kita melihat bagaiamana antara umat dan biarawan/wati saling bertukar informasi seputar panggilan hidup. Saat si biarawan/wati sedang dimabuk galau, si umat menyambangi sembari menguatkan, begitulah sebaliknya. Keduanya berinteraksi dan saling menguatkan satu sama lain. Hal ini bisa kita jumpai sendiri di status FB, Instagram, dan lain sejenisnya. Kisah haru, suka, duka, dan keterpurukan pun diumbar di media sosial yang kemudian mendapat sambutan dari para pelihat. Begitulah komunikasi terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana perjalananan hidup masing-masing kita? Ternyata semuanya memiliki logikanya sendiri.

Tak Ada kata Mengeluh

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengeluh hanyalah pekerjaan orang malas. Wah, rasanya ini terlalu tajam bagi kami, pegiat malas. Pertemuan yang telah terjadi di atas adalah salah satu bentuk pertukaran informasi yang di dalamnya ada termuat unsur kemalasan, yakni kemalasan untuk menjalani hidup. Sepintas, ungkapan ini rasanya menusuk hingga sumsum tulang kita karena terlalu tajam, boleh juga kasar. Tapi, benarlah demikian; hanya orang malas yang paling doyan mengeluh.

Kita pernah mendengar nama Jack Ma, pendiri Alibaba.com – dalam sebuah aksi panggungnya sebagai motivator, dia menyatakan bahwa salah satu opium bagi orang yang suka mengeluh adalah rasa malas. Dalam hal ini, keluhan-keluhan yang kita lontarkan berasal dari rasa malas kita untuk menjalani sesuatu. Tidak bisa dipungkiri, hanya orang malaslah yang paling banyak mengeluh dalam hidupnya.

Kita sendirilah yang mendefenisikan hidup kita. Pernyataan ini tidak bisa dibantah karena yang menjalani hidup kita, ya kita sendiri. Defenisi hidup belum bisa kita buat selama kita masih menjalaninya. Defenisi barulah ada setelah kita sudah berhneti menjalani hidup. Mengapa? Perjalanan setiap manusia adalah perjalanan kualitas. David T. Kearns menyatakan bahwa dalam lomba meraih kualitas, tidak ada yang namanya garis finis. Perjalanan hidup manusia adalah dinamis dan kualitas juga demikian adanya. Kualitas perjalanan hidup berarti bekerja keras melakukan yang terbaik. Kualitas adalah sesuatu yang paling dicari setelah sikap dan reputasi.

Fakta di lapangan, kita lebih sering melihat orang gembira berkutat dalam pembandingan dirinya terhadap orang lain. “Coba lihat dia, aku tidak seberuntung dia. Jadi, aku yakin bahwa dia lebih bahagia.” Dia duduk sambil merenung, bahkan menangisi dirinya. Dia merasa terpuruk dan mengatakan kepada dirinya bahwa dia adalah orang yang malang, tidak seberuntung orang lain. Terlelap dalam keluhan dan ratapan tidak akan menambah apa-apa, malah menambah beban di pundak yang membuat dia sulit bangkit dari keterpurukannya.

Memandang secara Objektif

Akhirnya sampailah pada titik akhir. Setelah kita mengulas mengenai cara pandang terhadap pilihan orang lain, kita semakin yakin bahwa hidup untuk dijalani, bukan disesali. Sejak awal, hidup kita bukanlah sesuatu yang kebetulan. Hidup itu adalah anugerah dari Allah. Kita terpilih dan lahir ke dunia dari sekian jutaan bahkan miliyaran calon manusia. Kita terlahir sebagai pemenang dan peraih medali kehidupan.

Setelah kita lahir ke dunia ini, kita diselimuti kekuatiran dan kegundahan akan hari esok. Mengapa? Setiap orang tidak ada yang tahu akan hari esok. Itulah dasar kekuatiran dan kegalauan. Nah, kegalauan ini semakin menjalar hingga timbul sebuah pertanyaan, mengapa dia berbahagia, tidak seperti aku?” Penyesalan demi penyesalan silih berganti hari demi hari hingga sampai pada titik, yakni putus asa.

Dengan demikian, kita harus memilih memang hidup atau dari dekat atau dari jauh. Saya sendiri sangat tertarik dengan percakapan di atas. Waktu itu, kami sedang berada di sebuah angkringan, berhadapan langsung dengan Pusuk Buhit, Samosir. Sembari menyeruput kopi, kami mulai obrol dan berbagi info. Yang mau saya sampaikan bahwa kadangkala, manusia lebih sering memandang hidup dari jauh bak memandang gunung dari kejauhan, seperti kami di angkringan tersebut.

Dari jauh, Pusuk Buhit itu menyejukkan mata karena hutannya hijau dan luas serta indah, apalagi dibubuhi dengan keindahan Danau Toba di bawahnya. Begitulah cara kita memandang, lebih indah memandang dari jauh. Setelah kita mendekat ke sana, kebanyakan dari kita akan menyesal karena gunung itu tidak seindah dari pandangan jauh. Gunung itu telah gundul dan dipenuhi oleh ilalang serta semak belukar. Barangkali, begitu kita sampai di gunung tersebut, deretan ratapan dan putus asa akan mengalun indah dari mulut kita. Kita bakal cepat-cepat segera menyudahi perjalanan, segera turun dari gunung tersebut.

Dengan goretan atau ungkapan hati ini, kita sedang diajak untuk memandang hidup apakah dari dekat atau jauh. Memandang hidup dari jauh biasanya membawa kita pada pembandingan hidup kita dengan orang lain yang menghasilkan putus asa. Kita lahir bukan untuk putus asa melainkan bersyukur atas apa yang kita miliki.

Pada akhir catatan angkringan ini, kita sepakat dengan ungkapan John F. Kennedy, “jika kita tidak sanggup mengakhiri perbedaan kita sekarang, setidaknya kita akan dapat membuat dunia aman menerima keberagaman”.

Lukisan Mural di SMA St. Thomas III, Medan

Maurits Pardosi

Lukisan mural Albert Einstein, hasil karya SMA St. Thomas III, Medan

Pada suatu perjalanan yang tak disengaja, saya mendapati aneka gambar tertuang di atas permukaan dinding. Sederetan gambar tersebut menarasikan perjuangan para tokoh (pejuang) Nasional. Seluruh gambar terangkum dalam sebuah ungkapan, “Jas Merah” (Jangan sampai melupakan sejarah). Ungkapan ini lahir dari kedalaman refleksi salah satu founding fathers (para bapak pendiri) negara kita, Ir. Soekarno (Presiden I Negara Kesatuan Republik Indonesia). Lukisan dinding itu dikenal dengan lukisan mural (Mural berasal kata dari bahasa Latin, murus: dinding).

Menurut catatan sejarah, seni mural ini telah ada sejak zaman prasejarah (kurang lebih 31.500 tahun yang silam). Pertama sekali ditemukan di daerah Selatan Prancis, pada sebuah gua di Lascaux. Gambar yang ada di dinding gua ini menggunakan cat air (berasal dari sari buah. Hal ini bisa diterima akal karena pada zaman prasejarah, cat air belum ditemukan. Selain di Gua Lascaux, lukisan mural yang terkenal adalah karya Pablo Picasso. Salah satu karyanya yang terkenal dinamai Guernica (Guernica y Luno), yang dikerjakan pada saat terjadinya perang sipil di Spanyol pada tahun 1937. Tujuan pembuatan mural ini adalah untuk mengenangkan peristiwa pengeboman tentara Jerman yang melululantahkan sebuah desa kecil, dan korbannya mayoritas berdarah Spanyol.

Dengan perkembangan zaman, tradisi melukis dinding, bukan semata-mata hanya berupa gambar, namun juga berupa kata-kata hiasan (ungkapan-ungkapan bernas). Secara gamblang, graffiti diartikan sebagai coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur. Maka, perbedaan mural dengan graffiti sudah bisa tentukan. Tentu hal ini menolong kita menyimpulkan apakah lukisan dinding itu atau mural atau graffiti.

Secara umum, mural disajikan sebagai bentuk ungkapan, mengkritisi masalah sosial lewat gambar di dinding jalanan, trotoar, kini mural menjadi “bisnis manis seni lukis“. Namun, saat ini, mural menjadi salah satu pilihan untuk mempercantik interior. Bahkan mural juga menjadi daya tarik tersendiri sebagai spot foto yang menarik. Maka, tidak mengherankan bahwa kini banyak sekali cafe, restoran, hotel, apartemen hingga rumah menggunakan lukisan dinding atau mural sebagai Point of View dari sebuah ruangan. Mural memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung cafe atau resto. Mural yang dibuat disesuaikan dengan selera, konsep cafe/restonya sendiri hingga menjadi media branding secara tidak langsung.

Ir. Soekarno (Presiden pertama Indonesia) pada lukisan Mural SMA St. Thomas III, Medan

Bernarasi Melalui Mural

Nah, kita akan mengurai perihal kegiatan Sekolah SMA St. Thomas III seputar seni mural. Seorang gurum muda, Yon Riko Setiawan Pandiangan, alumni seni rupa Unimed tahun 2018 ini mengawali idenya menuangkan ceritanya di dinding sekolah. Sejauh pengamatannya sebagai guru, dinding hanya digunakan sebagai pembatas areal sekolah. Ekspresi anak-anak yang tertuan di permukaan dinding hanya sebatas kejahilan saja, maklumlah namanya juga masih muda (lingkungna putih abu-abu).

Yon Riko, pemuda kelahiran Hutaraja, 19 Oktober 1995 ini mengkolaborasi antara minat siswa mencoret dinding dengan lukisan mural. Sebagai guru Seni-Budaya, dia mengajak beberapa siswa yang berminat melukis dan mengajari mereka secara teratur. Selain melampiaskan idenya pada permukaan dinding sekolah melalui lukisan, dia juga harus memilih tema yang bersangkutan dengan sekolah (ranah pendidikan). Inilah yang menjadi pertimbangan baginya merangkul siswa yang ingin mengembangkan bakatnya sebagai pelukis mural.

Ternyata benar, siswa meneyambutnya dengan gembira hati. Dinding sekolah kini memiliki nilai estetis. Beberapa gambar yang disajikan di dinding sekolah mengantar setiap orang yang melihatnya pada sebuah pelajaran sekolah; Ir. Soekarno (mengingatkan kita lagi pada “Jas Merah: Jangan sampai melupakan sejarah”), B.J. Habibie, R. A. Kartini, dan Albert Einsten (penemu hukum kekekalan massa: E= mc2). Betapa menariknya bila dinding juga mampu menarasikan bagi kita akan nilai-nilai pendidikan. Artinya, dinding bukan hanya sebatas saksi kejahilan para kaum muda, namun sebagai saksi kreativitas yang takkan pernah mati.

Proses pengerjaan tidak harus menelan banyak waktu, yang penting segala sesuatu dilakukan dengan tulus dan hati yang jujur. Inilah semangat awal pengerjaan segala karya mural yang ada di dinding sekolah St. Thomas III. Drs. Jadores Simbolon, sebagai Kepala Sekolah St. Thomas III memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kinerja Pak Yon Riko dan para siswa. Bahkan, dia sangat bangga pada kinerja guru dan anak didiknya karena salah satu tujuan sekolah guna mengembangkan kreativitas anak-anak dapat ditampung oleh guru-guru yang kreatif.

Persahabatan dan Harapan

Kinerja Drs. Jadores Simbolon memperlihatkan bagaimana persahabatan (keakraban) antara pendidik dan terdidik terbina dengan baik. Saat guru memberikan pandangan guna mencerdaskan anak, baik kinerja otak maupun seni, Kepala Sekolah dengan tangan terbuka menerima aspirasi tersebut. Inilah yang dinamakan sebagai proses pendidikan yang up to date. Pihak sekolah mampu menjawab tantangan dunia pendidikan zaman now untuk semakin mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain.

Dengan adanya apresiasi seni (dan apresiasi di bidang lain) di sekolah, guru dan murid menjadi sahabat. Hal ini membuat para siswa menjadi kerasan dan termotivasi mencari dan akhirnya menemukan bakat dan talentanya (soft-soft skill) yang kemudian menjadi modal di masa depan. Pengenalan seni lukisan mural ini memperlihatkan reaksi positif akan kebiasaan siswa mencoret dinding. Coretan dinding yang biasanya liar kini bisa terkontrol dengan hasil seni yang mendidik.

Di balik persahabatan yang sudah terajut hingga kini dengan baik (Pendidik dan terdidik) di SMA St. Thomas III, ada harapan yang terus akan terjamin, yakni pengembangan bakat-bakat anak, secara khusus bagian seni tanpa harus meninggalkan bakat-bakat yang lain. Dalam sejarah pendidikan dunia, kita bisa mendapatkan pencerahan bahwa sekolah-sekolah yang unggul adalah sekolah-sekolah yang menghargai seni dan budaya. Seluruh manusia yang berada di kawasan pendidikan bukanlah semata-mata pecinta sains, namun sebagaian dari mereka adalah pecinta seni – di kemudian hari, mereka yang akan menjadi seniman-seniman.

Dalam persahabatan yang akrab, keterjalinan komunikasi amatlah penting. Hal ini telah dipahami Kepala Sekolah SMA St. Thomas III, Medan, Drs. Jadores Simbolon melalui berbagai langkah strategis untuk mengembangkan minat siswa/i. Perkembangan seni mural di sekolah ini adalah bentuk kerja sama yang sungguh dan tulus antara pendidik dan terdidik. Sebuah bangunan menara di Babel tidak pernah selesai karena tidak ada komunikasi yang baik. Seni mural di St. Thomas menjadi inspirasi bagi kita untuk mengembangkan seni yang dibalut dengan komunikasi yang baik antara pendidik dan terdidik.

Maka, pendidik dan terdidik adalah sahabat – sehingga filosofi persahabatan akan terwujud, “aku dan sahabat sama-sama menyanyikan lagu cinta. Dan, di saat aku lupa lagu tersebut, sahabat akan menyanyikannya bagiku agar aku tak sempat melupakan lagu itu, lagu cinta.” Semoga!

Pak Yon Riko Pandiangan merupakan sosok di balik perkembangan mural di SMA St. Thomas III, Medan

Bertutur melalui Foto

Maurits Pardosi

“Kenangan tidak bisa dibeli”. Ungkapan ini bisa saja membantu kita menghargai para fotgrafer, seniman foto. Ungkapan lahir dari pembicaraan singkat dari seorang fotografer, Pak Altur Manullang. Di sebuah ruko, dengan nama GOEWIN PRODUCTION, dia berkisah seputar pengalamannya sebagai seorang fotografer.

Pak Altur sedang mengambil foto dalam acara Gereja

Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berjalan beriringan dengan peningkatan perhatian banyak orang akan pentingnya pengarsipan. Fakta-fakta sejarah bisa saja diperoleh bukan semata-mata dari tulisan, namun juga dari berbagai foto yang tersimpan. Ini membuktikan bahwa sudah sedini mungkin kita memperhatikan betapa pentingnya dokumen foto sebagai bukti sejarah, atau paling tidak sebagai kenangan yang bisa saja dilihat kapan saja.

Bila kita telisik pengertiannya, fotografi adalah adalah seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film. Memang benar, kebanyakan jika anda mencari pengertian fotografi jawabannya hampir sama semua yaitu proses melukis dengan menggunakan media cahaya. Tetapi yang paling utama adalah bagaimana cara mendalami seni fotografi tersebut. Fotografi adalah sebuah kegiatan atau proses menghasilkan suatu seni gambar/ foto melalui media cahaya dengan alat yang disebut kamera dengan maksud dan tujuan tertentu.

Bila pengertian fotografi adalah proses seni melukis dengan media cahaya, maka setiap orang bisa melakukan kegiatan fotografi jika mempunyai sebuah kamera, tetapi apakah semua orang dapat menghasilkan sebuah seni? Seni adalah sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan atau intisari dari kreativitas. Seni yang paling utama dalam fotografi adalah komposisi, dengan komposisi yang baik maka foto yang dihasilkan akan mempunyai makna dan cerita yang bisa disampaikan.

Untuk menghasilkan sebuah hasil karya yang bagus atau menarik ada beberapa faktor, faktor yang paling utama adalah faktor pencahayaan, tanpa cahaya atau pencahayaan yang baik akan terlalu sulit untuk menghasilkan hasil karya yang bagus, untuk itu dibutuhkan faktor yang kedua. Faktor kedua adalah fotografer, foktor ini juga penting, karena tanpa fotografer proses fotografi tidak akan terjadi. Dalam hal ini, fotografer akan dituntut dan di uji seni atau kreatifitasnya untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus atau menarik.

Fotografer adalah sebuah profesi, fotografer hidup dengan fotografi. Faktor yang ketiga adalah kamera, tanpa kamera proses fotografi pun tidak  terjadi. Kamera adalah alat pokok pada kegiatan fotografi. Faktor yang terakhir adalah faktor pendukung seperti lensa cadangan, alat bantu cahaya reflektor, tripod, dan lain-lainnya. Tidak perlu menggunakan kamera yang mahal untuk menciptakan sebuah karya seni fotografi. Setelah faktor-faktor di atas menjadi satu, seorang fotograferlah yang kemudian menjadi faktor utama untuk menciptakan sebuah seni foto yang bagus dan menarik. Sebuah Foto yang bagus itu adalah relatif, dan foto yang jelek adalah mutlak.

Pak Altur menyampaikan bahwa fotografi adalah adalah kegiatan seni, dan jenis fotografi ada bermacam-macam. Untuk itu dibutuhkan seorang fotografer yang betul-betul mengerti seni dan jenis fotografi yang ada pada dirinya.  Tetap semangat belajar fotografi dan tingkatkan kualitas fotografi Indonesia. Inilah yang membuat bahwa fotografi adalah seni yang pantas diperhitungkan, bukan untuk disepelekan. Karena untuk menghasilkan foto yang bagus dibutuhkan pemahaman mengenai fotografi dan tentunya sentuhan rasa (berhubungan dengan sense dan hati). Foto yang bagus akan berhasil menciptakan cerita tersendiri.

Fotografi bukanlah seni jalanan

Bagaimana bila kita ditugaskan untuk pengambilan foto dalam sebuah perang? Atau bagaimana bila kita dihunjuk sebagai fotografer pada event-event besar, misalnya Tahbisan Uskup, Tahbisan Imam, Tahbisan Diakon, Kaul Kekal para frater dan suster, serta pengambilan foto pernikahan? Moment penting dalam sejarah dan perjalanan hidup tersimpan rapi dalam arsip fotografi. Tidak usah terlalu jauh, kita baru saja menyaksikan Tahbisan uskup baru, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap. Para fotografer menjadi bagian dari sejarah Keuskupan Agung Medan yang kemudian bahan kenangan di masa depan.

Banyak kalangan meyakini bahwa fotografi adalah karya seni jalanan. Mengapa demikian? Fotografi memegang peranan penting dalam perjalanan sejarah manusia. Fakta-fakta yang didokumentasikan menjadi bukti kuat terjadinya sebuah peristiwa. Sesuatu yang sangat penting seyogianya tidak dipandang sebelah mata. Belum lagi bila kita lihat harga sebuah kamera dan perjuangan para fotografer mengambil gambar. Resiko pengambilan foto pun tidak semudah yang kita bayangkan. Hal ini kiranya bisa membantu kita memahami bahwa profesi fotografi bukanlah seni jalanan.

Dalam lingkungan gereja, dokumentasi (pengarsipan) foto kurang mendapat sambutan hangat. Padahal, bila kita ingin menuliskan sejarah gereja dan kebutuhan lain, foto amatlah penting sebagai dokumen yang kuat. Bisa kita bayangkan, bila foto-foto yang menggambarkan aneka peristiwa di dalam lingkungan gereja tidak diarsipkan dengan baik, maka yang terjadi adalah kurangnya kekuatan sejarah.

Pak Altur semenjak dua puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1998 sudah menyadari bahwa foto adalah karya seni pembebas jiwa. Salah satu kelebihan foto, kita bisa berkomunikasi dengan masa lalu – bernostalgia dengan kenangan. Menurutnya, menjadi fotografer adalah panggilan jiwa. Fotografi adalah salah satu jenis seni yang menjunjung tinggi kejujuran dan keseimbangan. Apalagi kemajuan teknologi terbarukan akan mempermudah kita berbohong dari sudut fotografi, namun beliau tetap memperjuangkan kejujuran dan keseimbangan.

Pak Altur, sebagai pekerja di sebuah perusahaan ternama selalu berupaya berkontribusi bagi Gereja melalui panggilannya sebagai fotografer. Dia mengambil momen-momen bersejarah dan mengabadikannya dalam bentuk foto bukanlah karena diminta dari Gereja, namun lahir dari inisiatif sendiri. Kebaikan tidak selalu lahir dari tuntutan pihak luar, namun hati nurani dan pikirannya sudah lama menyadari bahwa pengarsipan sangat penting.

Berangkat dari penuturan dan kesaksian umat pada saat penulisan kembali sejarah Gereja, kita kerap sekali mengalami kebuntuan karena kurangnya data-data. Maka, bisa saja ada momen-momen penting dalam perjalanan sejarah gereja yang tidak dimasukkan karena data yang kurang. Padahal, kekosongan atau lompatan waktu dalam sejarah bisa saja menimbulkan masalah di kemudian hari. Misalnya, nama seorang tokoh gereja tidak disebutkan dalam sejarah akan menimbulkan kegaduhan bagi anggota keluarga tokoh di kemudian hari. Nah, inilah salah satu yang sedini mungkin harus diantisipasi.

Mulai berbenah diri

Kemajuan teknologi dan komunikasi sudah mengalami perkembangan sekarang. Hal ini mempengaruhi sistem kerja manusia. Setiap orang sudah sangat tergantung dengan kemajuan teknologi dan komunkasi. Media sosial  saat ini seharusnya menjadi wadah bagi untuk berkembang, khususnya mengoptimalkan pelayananan kita pada Gereja secara kreatif. Salah satunya adalah melayani Gereja dengan fotografi. Harus diingat bahwa fotografi bukanlah seni jalanan.

“Tempora mutantur et nos mutamur in illis”, ungkapan ini kiranya membuat kita agar tetap bersemangat berbenah diri. Jangan menyangka, bahwa sejarah gereja kita di masa lalu sudah cukup untuk menampilkan siapa diri kita. Sejarah Gereja akan tetap berjalan, dan kitalah yang menjadi subjeknya. Pak Altur sendiri memberi kesaksian bahwa kaum muda harus didorong lagi lebih militan terhadap Gereja, yang siap berkontribusi, dan sebaliknya gereja juga harus memberi perhatian terhadap kaum muda.

Umur tidak menjadi hambatan bagi setiap orang mengembangkan diri. Hal ini menjadi modal Pak Altur Manullang mengembangkan bakat terpendamnya sebagai fotografer. Sejak awal, dia telah menyadari bahwa pengarsipan foto sangatlah penting. Momen-momen penting dalam hidup harus diabadikan melalui foto. Baginya, tulisan tanpa foto ibarat makanan tanpa garam.

Era sekarang, akses mengembangkan diri tidaklah begitu sulit. Hal mendasar yang harus disadari adalah media sosial adalah ladang berkomunikasi dan bertukar informasi, khsususnya melalui foto. Media sosial bersedia sebagai penyimpanan data kita manakala dibutuhkan di kemudian hari. Oleh karena itu, pengabadian karya pasti terjamin. Maka, tidak perlu takut apakah karya sudah tersimpan rapi, dan karya tersebut dapat diambil kapan saja dan di mana saja (anytime and anywhere).

Dengan demikian, sudah saatnya kita berbenah diri dan membuka diri terhadap peluang yang disajikan kemajuan teknologi terbarukan saat ini. Hasil tongkrongan bersama Pak Altur ini menjadi penumbuh semangat bagi kaum muda untuk selalu berusaha berbenah diri dan mengembangkan diri beriringan dengan perkembangan zaman. Salah satu gagasan yang sangat menarik untuk dikembangkan saat ini adalah fotografi, sebagai pengabadi kenangan karena kenangan di masa lalu tidak bisa terulang kembali.

Kembali pada ungkapan awal di atas bahwa kenangan tidak bisa dibeli. Seluruh kenangan dan perjalanan sejarah bisa diakomodasi oleh seni fotografi. Selain pengabadi kenangan, fotografi adalah seni yang dinamis seturut perkembangan zaman. Bila Pak Altur, pecinta foto yang sudah tua tetap bertahan dan produktif hingga saat ini, bagaimana kaum muda? Dia sendiri telah menjadi bagian dari sejarah Keuskupan Agung Medan saat menjadi fotografer pada acara tahbisan uskup yang baru, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap.  Cita-cita yang tertanam sejak dulu akhirnya terpenuhi. Dulu, ia hanya menyaksikan dengan mata tahbisan Mgr. Pius Datubara pada 43 tahun yang lalu, sekarang dia menjadi pengabadi momen bersejarah bagi Keuskupan Agung Medan. Sudah saatnya membenahi diri (membenahi pengarsipan) kita dengan mendekatkan diri pada dunia fotografi.

Bulan Mei, Bulan Maria

Maurits Pardosi

Bulan Mei sangat akrab di telinga kita sebagai bulan khusus untuk Bunda Maria. Biasanya, di setiap lingkungan atau komunitas kecil kita selalu diadakan devosi Rosario sebagai bukti kedekatan kita kepada Bunda Maria, bunda seluruh mahlauk hidup. Oleh karena itu, amatlah penting bagi kita untuk mengenal asal-usul devosi Rosario.

Kata Rosario berasal dari bahasa latin , rosarium (dari akar kata Latin, rosa= bunga mawar), yang berarti karangan bunga mawar. Dalam Yes 11: 1 ” suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”Tunas yaitu keturunan baru dari Isai dan Taruk itu melambangan Maria. Buah melambangkan Yesus yang lahir dari Maria. Anna, Ibu Maria semula adalah wanita mandul, tetapi kemudian secara ajaib mengandung Maria. Maria seorang perawan yang secara ajaib melahirkan Yesus. Sehingga tak mengherankan Maria digambarkan sebagai Mawar yang ajaib. Lebih dalam lagi penjelasan mengenai Rosario diajarkan oleh Santo Louis de Montfort. Beliau menjelaskan bahwa mawar itu melambangkan Yesus dan Maria dalam kehidupan, kematian dan keabadian. Daunnya adalah misteri kegembiraan, durinya adalah misteri sengsara, bunganya adalah misteri kemuliaan, kuncupnya adalah masa kanak-kanak Yesus dan Maria, kelopaknya yang terbuka adalah lambang penderitaan mereka. Mawar yangmerekah melambangkan kemenanan serta kemuliaan Yesus dan Maria.

Ada 2 tradisi mengenai asal usul Doa Rosario ini.

1.  Versi pertama adalah pada awal abad XII

Bunda Maria menampakkan dirinya dan memberikan rosario pada Santo Dominikus pendiriOrdo Dominikan dan meminta Dominiskus untuk mewartakan rosario ini. Pada masa itu, Santo Dominikus sedang berjuang melawan kaum bidaah Albigensian. Bunda Maria berjanji bahwa karya kerasulannya akan berhasil jika Dominikus dengan setia mendoakan dan mewartakan Doa Rosario ini. Dalam sejarah akhirnya, Dominikus dan pengikutnya dari abad XII sampai abad XIV berhasil memusnahkan bidaah Albigensian dengan jalan menggalakkan Doa Rosario dan merenungkan misteri-misteri penyelamatan. Bersama-sana dengan Ordo Kartusian (yang membagi doa salam maria dalam biji puluhan dan menyisipkan doa Bapa Kami di antara tiap perpuluhannya) menerbitkan buku penuntun, berkothbah tentang peranan doa rosari dan menggalakkan Persekutuan Rosario.

Santo-santo besar lainnya seperti Petrus Kanisius, Philipus Neri, Louis de Montfort, Beato de la Roche, hanya mengikuti jejak Santo Dominikus. Bisa dimaklumi sehinggaakhirnya dunia menyakini bahwa Doa Rosario ini berasal dari Santo Dominiskus meskipun pada awal abad 5 pada masa Santo Benedictus, orang sudah mengenal untaian biji rosario untuk menghitung doa vocal yang didaraskan berulang-ulang. Versi kedua, setelah mapan secara historis kemudian mulai mendapat dukungan dari lingkungan kepausan dan dimasukkan dalam bulla kepausan (surat resmi kepausan menyangkut ajaran Gereja yang harus diimani). Hal ini karena Gereja melihat Doa Rosario menjadi doa perang suci baik ketika Santo Dominikus berperang melawan kaum Albigensian dan kemenangan Armada Laut Kristen atas Turki di Lepanto Timur Tengah tanggal 7 Oktober 1571.

Perlu diketahui Armada Laut Turki dibawah pimpinan Halifasha adalah armada laut yang kuat dan sudah menghancurkan semua pelabuhan Katolik di Eropa – Armada Laut Kristen adalah gabungan dari Armada Laut Eropa dibawah pimpinan Don Yuan dari Austria yang tidak memiliki kekuatan yang berarti. Don Yuan dari Austria terkenal mempunyai devosi yang kuada pada Bunda Maria. Pertempuran ini seperti pertempuran Daud dan Goliath. Armada Laut Kristen ketika maju berperang setiap anggotanya memegang rosario di tangan kanan dan senjata di tangan kiri. Sementara itu, Paus Pius V menyerukan kepada setiap orang Katolik di Eropa bersatu berdoa Rosario. Pada saat perang berkobar

Persekutuan Rosario Roma sedang mengadakan pertemuan di gereja Minerva, markas besar Ordo Dominikas. Kala itu mereka mendaraskan rosario dengan intensi khusus yakni agar Gereja menang atas musuh-musuhnya. Sehingga Paus Clemens XI ( tahun 1667- 1669) kemudian menentukan hari Minggu pertama bulan Oktober sebagai Pesta Rosario Santa Perawan Maria untuk memperingati kemenangan diLepanto. Isi dokumen dalam bulla kepausan memberikan indulgensi bagi mereka yang berdoa rosario demi ujud yang tercantum dalam bulla tersebut. Dukungan kepausan ini memang tidak untuk mengukuhkan kebenaran mistik Santo Dominikus sebagai fakta sejarah tetapi lebih berupa dukungan untuk mengembangkan devosi kepada Bunda Maria. Tradisi ini memang pernah populer tap secara historis kurang dikenal luas.

2. Versi kedua ini berpusat pada devosi kepada Yesus dan Maria yang muncul pada abad XII

Pada saat itu ada kerinduan dari Gereja mengikutsertakan rahib dan umat yang tidak mampu membaca menawarkan doa alternatif sebagai ganti mendaraskan 150 mazmur dalam ibadat harian. Karena itu sebagai pengganti mazmur mereka mendaraskan 150 doa bapa kami dengan mengunakan manik manik. Berkembangya devosi kepada Yesus dan Maria maka manik manik itu dipakai untuk mendoakan doa salam maria. Usaha ini sudah dirintis oleh Santo Petrus Damanianus ( sekitar 1072). Doa salam maria lahir dari proses yang panjang dan baru sempurna terbentuk pada abad XV. Doa ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah salam malaikat Gabriel kepada Maria, sekitar tahun 1260-an digabungkan denagn Pujian Elizabeth kepada Maria. Kata ‘YESUS’ sendiri baru ditambahkan pada abad XIII. Bagian kedua ” Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini,sekarang dan waktu kami mati. Amin.” Bagian ini ditambahkan pada abad XV, sebagai hal yang logis berkenaan dengan ajaran MARIA SEBAGAI BUNDA ALLAH (THEOTOKOS) pada konsili Efesus tahun 431.

Umat beriman sedang mengadakan devosi Rosario

PANDANGAN ROMANO GUARDINI MENGENAI LITURGI

Perayaan Liturgi dalam Gereja Katolik

Perkembangan liturgi sangat pesat, yang ditandai adanya banyak pemikir yang mencoba mendefenisikan ilmu liturgi. Mengenai ilmu liturgi. Refleksi tentang ilmu liturgi telah ada sebelum lahirnya Romano Guardini, misalnya Bartolomeo Gavanti, Giuseppe Catalani, Giovanni Michele Cavalieri dan Philipp Hartmann serta Georg Kieffer pada masa rubrikistis.[1] Perkembangan pun mulai terasa setelah maraknya refleksi mengenai upacara atau ibadat serta teologis dan sistematis. Para ahli bersemangat untuk menggali kekayaan liturgi Gereja dan mencari arah dan bentuk pembaharuan liturgi. Ada pandangan A, Gerhards mengenai pembahasan Ilmu Liturgi, yakni: penelitian Ilmu Liturgi, teologi liturgi dan pastoral liturgi. Pada refleksi liturgi mengenai tata gerak liturgi, Romano Guardini hadir sebagai kontributor.

Romano Guardini dalah seorang teolog. Ungkapannya yang terkenal “bangkitnya Gereja dalam Jiwa” membuat semangat dan keberanian teologi yang sedang terpojok.[1] Romano Guardini menambahkan kepekaan akan nilai-nilai agung Liturgi Romawi dengan bukunya “The Spirit of the Liturgy”. Perlu diperhatikan juga mengenai perbandingan atas karya-karya tua mengenai doa-doa Gereja Romawi yakni Sacramentarium Leonianum dan Sacramentarium Gelasianum. Dalam kuliahnya, Romano Guardini menekankan pembaharuan liturgi dalam ranah gerak dan tata liturgi.  Pada tahun 1918 dia menerbitkan bukunya yang berjudul Vom Geist der Liturgie (the Spirit of Liturgy), yang menjadi protes atas tata liturgi dalam Gereja Protestan.Guardini menyatakan bahwa objek liturgi adalah gereja.[2]Romano Guardini melawan praktek  Liturgi Protestantisme dan Modernisme. Semua tata gerak liturgi mempunyai makna dan alasan mendasar untuk melakukannya pada saat liturgi. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang dimiliki setiap orang yang terlibat dalam perayaan liturgi tersebut. Misalnya, membuat tanda salib, menepuk dada, mengecup altar dan buku Injil. Umat harus tahu mengapa imam mengatupkan tangan dan menengadah. Romano Guardini menegaskan bahwa tidak perlu adanya rumus-rumus liturgi, yang sangat sulit dipahami umat beriman. Dengan pemahaman yang baik, umat beriman akan dapat melakukan liturgi dengan baik. Hal itu terjadi secara natural.[3]

Pada liturgi, Allah disembah melalui gerak dan iman. Oleh karena itu, gereja harus mengerti tata gerak secara penuh. Pengetahuan yang dimiliki harus mendasar. Romano Guardini juga mengharapkan adanya penelitian mengenai tata gerak dalam liturgi. Pada masa mudanya, Romano Guardini melihat liturgy sebagai suatu keterpaksaan bagi umat beriman. Hal ini dinyatakan karena partisipasi umat beriman yang kurang dalam acara liturgi. Umat beriman lebih pada pendengar, penonton atau orang yang selalu gelisah untuk melihat imam mempersembahkan misa sendirian di depan. Hal ini membuat banyak umat melakukan devosi untuk memenuhi kerinduan mereka atas kehadiranTuhan.[4] Dia kerap menyebutkan bahwa liturgi (pada masa itu) merupakan liturgy yang kosong. Disi lain, umat beriman dapat aktif ketika adanya acara orchestra (koor) yang diselipkan pada acara liturg tersebut. Hal itu pun kerap meresahkan hati umat beriman. Perayaan liturgy pada saat itu membuat umat kering dan malas untuk melakukannya. Realitas tersebut Romano Guardini hadir sebagai pembaharu liturgi dalam skop tata dan gerak liturgi.[5]Guardini kerap dinyatakan sebagai wakil tesis skolastik yang menyatakan bahwa Keindahan adalah pancaran kebenaran. Keindahan melayani kebenaran, dan keindahan bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri.  Dia membahas mnegenai keunggulan Logos atas ethos, yang berarti keunggulan kata-kata atas perbuatan, keunggulan kebenaran atas tujuan. Liturgi berbeda dari kehidupan sehari-hari.[6]

Romano Guardini telah memberikan perubahan yang baik atas perkembangan liturgi. Romano Guardini lebih menekankan aspek gerak dan kata-kata yang digunakan dalam liturgi. Dia menegaskan bahwa liturgi harus melibatkan umat beriman agar benar bahwa objek liturgi adalah Gereja. Gereja merupakan medium untuk bertubuhnya tata dan gerak liturgy. Pada masa kini, kita telah mencicipi perjuangan Romano Guardini dengan adanya tata gerak dan kata-kata liturgy yang dapat kita pahami secara universal. Kebenaran tetap menjadi kebenaran sebab dia tidak perduli entah kebenaran itu bermanfaat bagi kehendak.


[1] Anscar J. Cupungco, Handbook for Liturgical Studies (Collegeville Minnsota: The Liturgical Press, 1997), hlm. 171.

[2] Alcuin Reid,The Organic Development of the Liturgy (San Fransisco: Ignatius Press, 2005), hlm. 92-93.

[3] Alcuin Reid,The Organic …, hlm. 93-95.

[4] Anscar J. Cupungco, Handbook …, hlm. 171-172.

[5] Theodor Klauser, A Short History of Western Liturgy (Germany: Oxford University Press, 1979), hlm. 43-44.

[6] Theodor Klauser, A Short History …, hlm. 115-116.



[1] Jack Heraty, New Chatolic Encyclopedia, (New York: The University of America, 1967), hlm. 865.

Religiusitas

Religiusitas adalah seperangkat ide atau pengetahuan tentang the sacred dan sikap yang melingkupinya (implikasi dari keyakinan tersebut). Religiusitas dapat bertumbuh dengan adanya the sacred. Menurut Rudolf Otto, sifat the sacred adalah fascinosum (menyenangkan) sekaligus termendum (menakutkan). Rudolf Otto menyatakan bahwa agama mempunyai dua unsur yang paradoksal dan bukan kontradiktif. Ketika masyarakat menjadi takut, maka tindakan untuk menunjukkan ketakutan tersebut adalah menyembah, sedangkan  tindakan yang dilakukan untuk menujukkan rasa senang adalah membuat nyanyian yang menggambarkan kegembiaraan.

The sacred dapat dibawa (portable) dan tidak dapat dibawa (importable). The sacred yang dapat dibawa adalah ide keyakinan yang dapat bereksistensi walaupun tidak empiris. Salah satu contoh the sacred yang dapat dibawa adalah pengetahuan tentang agama. The sacred yang tidak dapat dibawa adalah sesuatu yang tidak dapat dibawa walaupun hal itu mengandung nilai sakral. Salah satu contoh the sacred yang tidak dapat dibawa adalah sebuah gereja. Seorang peziarah melakukan perjalanan karena the sacred yang mereka yakini tidak dapat dibawa, hanya dapat dikunjungi.

The Sacred dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Sifat destruktif selalu dihubungkan dengan hal-hal yang keramat dan sifat konstruktif selalu dihubungkan dengan hal-hal yang suci (sakral). Kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang pasti atas alasan untuk menjadikan sesuatu menjadi sesuatu yang the sacred. The sacred tidak pernah lahir dari objek, namun lahir dari kekaguman subjek atas objek tersebut. Perasaan kagum terhadap objek sakral tetap dilestarikan, sehingga subjek tidak sekadar memberikan sifat-sifat sakral kepada objek. Disisi lain, the sacred dapat membuat subjek berimajinasi atas objek.

Untuk menghindari adanya pencemaran terhadap the sacred, maka pemeluknya membuat larangan-larangan atau hal-hal tabu. Larangan ini menjadikan the sacred tidak dapat disentuh kecuali otoritas yang berwenang. Durkheim mengatakan bahwa salah satu komunitas moral adalah agama. Dalam agama mereka saling menjaga the sacred dan membuat larangan-larangan guna memagari the sacred.

Setiap orang adalah mahluk religius

Ajaran Gereja tentang Sakramen Tobat

Sakramen tobat mendapat perhatian oleh Gereja. Perhatian Gereja akan Sakramen Tobat tertuang dalam Konsili Vatikan II. Pada awalnya, Konsili menggunakan istilah “sakramen tobat” (LG 28), yang mengutamakan pernyataan tobat dan “orang beriman yang bertobat”. Pada Konsili ini, hubungan dengan Gereja juga mendapat sorotan. Mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja (LG 11). Oleh karena itu, peninjauan ulang akan sakramen tobat adalah hal yang penting. Peristiwa ini dilakukan pada tahun 1973.[1]

Pertobatan mempunyai kandungan bahwa pendosa harus berpaling kepada Allah dengan segenap hati. Pernyataan tobat dinyatakan dalam pengakuan kepada Gereja dan pelaksanaan penitensi yang diberikan Gereja dan pembaharuan hidup. Sakramen tobat menjadi sempurna jika pendosa, dengan pengakuan sakramental menyatakan pengakuannya kepada Gereja. Hal yang utama, jika pendosa bersama imam merayakan liturgi Gereja dan selalu melakukan pembaharuan diri. Dengan demikian, sakramen tobat tidak jatuh pada upacara secara kultis semata, namun pembaharuan diri secara terus menerus. Seorang pentobat harus melakukan dua hal dalam sakramen tobat, yakni: pengakuan dan penitensi (denda). Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pentobat diharapkan melakukan matiraga sukarela dan laku-tapa. Dalam hal ini, indulgensi sangat dibutuhkan yakni penghapusan dari hukuman-hukuman sementara karena jasa-jasa anggota Gereja yang lain, khususnya para santo-santa, bahkan karena karya Tuhan sendiri. Hal ini dapat dilakukan dalam doa-doa.[2]

Sakramen tobat merupakan pemulihan hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Relasi yang terputus mengakibatkan chaos (kekacauan). Dengan demikian perlu pengadaan pemulihan hubungan yang akrab dengan Allah dan sesama. Dalam diri sesama, Allah juga hadir. Maka, kerusakan hubungan dengan sesama akan menimbulkan kerusakan hubungan manusia dengan Allah. Dalam sakramen tobat terungkap iman orang yang berdosa. Pandangan mengenai sakramen tobat tidak berubah total dari pemahaman sebelum konsili maupun sesudah konsili, yakni adanya campur tangan Allah dan dorongan Roh Kudus.[3]


[1] Konferensi Wali Gereja,  Iman Katolik …, 431.

[2]FXS. Purwaharsanto, dkk (tim terjemahan), Kitab Hukum Kanonik,  (Bogor: Obor, 1991), hlm. 281-282.

[3] FXS. Purwaharsanto, dkk (tim terjemahan), …., hlm. 282.

Pertobatan Religius

Pertobatan religius menjadi dasar untuk melakukan pertobatan intelektual dan moral. Lonergen mengutarakan bahwa pertobatan religius merupakan landasan untuk mencapai transendensi diri dalam pertobatan intelektual dan moral, sehingga manusia mampu melakukan pertobatan secara sempurna.Lonergen menyebutkan bahwa pertobatan religius adalah pertobatan adikodrati. Kegembiraan dalam mengambil pilihan adalah tanda yang tampak dalam pertobatan religius. Manusia mampu melepaskan keterikatan akan hal-hal duniawi, jika manusia sampai pada pertobatan religius.[1]


[1] William Chang, …, hlm. 193-194.

Pertobatan Moral

Pertobatan moral mengetengahkan perihal keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan (option) seseorang. Pertobatan ini harus melampaui sekadar keinginan dan kepuasan perasaan kepada keharusan dan kebenaran. Menurut Lonergen, pertobatan moral merupakan sebuah transendensi diri yang sejati. Kesejatian manusia terungkap jika manusia tidak tinggal pada tataran perasaan dan kepuasan hati, namun manusia harus mampu mencapai kebenaran dan keharusan dalam pilihan. Pertobatan moral harus mengindahkan adanya kebebasan dan tanggung jawab. Dengan pertobatan moral, manusia dengan sendirinya mencintai Allah dan sesamanya.[1]


[1] William Chang, …, hlm. 192-193.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai