Gali Tradisi-tradisi Gereja Katolik di Tengah Keluarga melalui Kursus Katekese

Maurits Pardosi

Para peserta memancarkan senyum untuk mengikuti kursus

Batang Kuis, 15 Juni 2019, Paroki Santa Agatha Batang Kuis adakan Kursus Katekese yang dihadiri oleh para pengurus dari 10 stasi. Kursus ini dihadiri oleh 60 orang. Kursus yang diadakan dari tanggal 15-16 Juni 2019 ini berlangsung di Aula Santa Lusia Sei Rotan-Batang Kuis. Dalam kegiatan ini, Komisi Kateketik Keuskupan Agung Medan bersedia menjadi fasilitator.

Melalui kursus ini, peserta mendapatkan informasi mengenai Tradisi-tradisi Gereja Katolik di tengah Keluarga. Kursus ini juga sebagai pemacu semangat para peserta berbagi ilmu kepada umat yang lain secara khusus perihal tema tersebut. Karena peserta bisa saja seorang katekis (pewarta) yang melayani umat baik di sekolah-sekolah, sekolah minggu, Lingkungan, dan Paroki. dan lingkungan stasi. Artinya, para peserta diharapkan sanggup dan mampu menyebarkan pengajaran ini kepada setiap bidang pelayanannya.

Para peserta serius mengikuti kursus yang telah dipersiapkan penyaji

Proses kursus ini bertumpu pada sesi tanya-jawab. Peserta diberikan kesempatan bertanya kepada penyaji materi agar materi tersebut dapat dipahami secara benar. Hal ini sangat lumrah karena ajaran Gereja tidak selalu gampang dimengerti. Tince Delfina Sitanggang,salah seorang guru agama katolik menyampaikan, “kursus katekese ini bermanfaat menambah pengetahuan dan memperteguh iman tentang kekatolikan.”

Setelah kursus berakhir, para peserta diajak mengikuti misa, sebagai puncak kegiatan. Pada misa ini, para peserta diteguhkan kembali agar berani menjadi agen kebaikan dan kasih di tengah masyarakat.

Bintang Misioner, Pancarkan Sinarmu

Maurits Pardosi

RP Albinus Ginting, OFM Cap bersama dengan pendamping SEKAMI Paroki Padre Pio, Helvetia

Monteluco, Rumah Retret Susteran FCJM, Pematangsiantar, selama tiga hari para pendamping SEKAMI dari Paroki Padre Pio, Helvetia mengadakan retret. Retret ini dipandu oleh Lundu Sitohang dan Germano Manalu. Tema Retret ini, “Bintang Misioner, Pancarkan Sinarmu” berkumandang pada yiel-yiel yang telah mereka persiapkan.

Kegiatan, yang diikuti sebanyak 50 peserta dari tujuh stasi. Kegiatan ini telah dirancang sedemikian rupa agar setiap pendamping merasa at home saat mengikuti alur acara. Lundu Sitohang dan Germano Manalu tak henti-hentinya mengajak setiap peserta untuk membina persaudaraan di antara semua peserta.

Peserta baru saja mengikuti kegiatan outbond

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diisi dengan beragam kegiatan; perkenalan, pembekalan awal, diskusi, outbond, berkreasi seputar pendampingan SEKAMI (menggubah lagu yang viral masa kini dengan muatan Kitab Suci dan SEKAMI), dan Misa Kudus.

Sebagai bentuk antusias Paroki Padre Pio, Helvetia, RP. Albinus Ginting, OFM Cap ikut serta dalam retret ini. Hal ini tentu menambah semangat para peserta. Dalam pemaparan, para pendamping memperkuat persaudaraan peserta melalui perkenalan dan ice breaking.

Pertemuan yang penuh dengan suasana persaudaraan

Seluruh kegiatan ini bermuara dari kenyataan masa kini bahwa kaum muda sedang terserang bahaya gadget. Oleh karena itu, pendamping mengarahkan semua peserta agar bijak menggunakan medsos dengan adanya kreasi bermuatan Kitab Suci dan SEKAMI. Tentu dengan penggunaan medsos secara bijak akan membuat para peserta tetap tergugah dan bersemangat dalam pelayanan mereka.

Pada akhir kegiatan, RP Albinus Ginting, OFM Cap menutuo acara dengan Misa Kudus. Dalam Misa Kudus ini, RP Albinus Ginting, OFM Cap menandaskan bahwa mereka adalah bintang-bintang yang mampu menerangi lewat pelayanan dalam Gereja. Lundu Sitohang bersama Germano Manalu menerima respon postif dari kegiatan tersebut. Mereka juga berharap bahwa setiap peserta tetap bersemangat dalam melayani Gereja di masa yang akan datang.

Berkutat dalam Zona Iman, bukan Zona Nyaman

Maurits Pardosi

Pendamping SEKAMI Paroki Hayam Wuruk tersenyum dan bergembira saat berpose

Bingkawan, Rumah Reret Jericho, pada tanggal 7-9 Juni 2019, para pendamping SEKAMI se Paroki Hayam Wuruk mengadakan retret. Retret ini bertujuan menyemarakkan kembali semangat para pendamping SEKAMI di tempat mereka masing-masing. Retret ini didampingi oleh RP. Martinus Nule, SVD, Lundu Sitohang, dan Germano Manalu yang tergabung dalam Komisi Kerasulan Kepausan Indonesia (KKI) untuk Keuskupan Agung Medan.

Pembukaan acara ini diawali dengan perkenalan satu dengan yang lain. Perkenalan ini menjadi penghangat kembali tali persaudaraan yang telah dirajut selama ini. Dalam pembukaan, Lundu Sitohang memaparkan bagaimana seorang pendamping SEKAMI harus menyadari bahwa mereka ikut ambil bagian dalam pelayanan dan evangelisasi. SEKAMI adalah jantung misi Gereja karena setiap anak adalah masa depan Gereja. Dengan kesadaran ini, para pendamping SEKAMI harus berani meninggalkan zona nyamannya dan beranjak ke zona iman.

Peserta tampak bersemangat dalam kegiatan outbond

“Berkutat dan bergumul dalam pelayanan Gereja tidak semudah yang kita banyangkan. Banyak hal yang harus dikorbankan, termasuk kebebasan diri sebagai manusia, secara khusus kaum muda” demikian ungkapan Lundu Sitohang dalam pencerahannya pada awal pertemuan. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film yang menarasikan perjuangan orang Kristen di Tiongkok. Salah satu tokoh utamanya memperlihatkan bagaimana umat Kristen bergumul dalam iman di hadapan orang komunis; ditolak dan dibantai, namun tetap teguh dalam iman.

Suasana ini menggambarkan bahwa mereka siap berkutat dalam zona iman, bukan zona nyaman

Dalam pemaparan lanjutan oleh RP Martinus Nule, SVD, beliau menegaskan partisipasi aktif umat beriman dalam pelayanan Gereja. Sesi ini juga memperbincangkan seputar tokoh-tokoh umat beriman yang menjadi pendiri SEKAMI. Pemberian diri para tokoh tersebut kiranya memperkuat komitmen para pendamping di masa sekarang. Dengan pencerahan dari RP Martinus Nule, SVD, para pendamping diajak untuk berdiskusi dalam dinamika kelompok. Para peserta saling berbagi pengalaman dan berusaha membuat program ke depan dalam pendampingan SEKAMI di Stasi masing-masing.

Keesokan harinya, para peserta dibekali melalui kegiatan outbond. Kegiatan ini kiranya menguatkan para pendamping agar tetap tangguh menghadapi zaman masa sekarang. Karena tanpa ketangguhan, para peserta akan gampang tergilas zaman milenial ini, secara khusus dalam pendampingan SEKAMI.

Sr. Franselin, KSSY, Koordinator SEKAMI di Paroki Hayam Wuruk menitipkan pesan kepada para peserta agar mereka tetap bersemangat dan setia dalam mendampingi SEKAMI. Para peserta mengikuti alur kegiatan dengan penuh semangat dan berbangga hati sebagai pelayan.

Katekis Generasi Muda (KGM) Bernostalgia saat Menghadiri Pesta Pernikahan di Sirpang Sigodang

Keseruan berfoto bersama dengan sahabat di KGM

“Alangkah indahnya hidup bersaudara bagaikan segelas kopi, yang sama-sama melarutkan diri untuk mencipta secangkir kopi mantap” demikian ungkapan Andi Girsang, salah satu anggota KGM. Pernikahan menjadi salah satu momen bagi seluruh anggota KGM bertemu dan bernostalgia. Hal yang sama juga mereka rasakan saat pernikahan Andi Hotmartua Girsang dengan Sri Ulina Saragih.

Hotris, Elia, Donald, Marsel, Vincent dan beberapa anggota KGM bercengkerama saat berada di luar gereja setelah acara pemberkatan usai. Kesempatan berahmat ini menjadi ruang bagi mereka berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.

“Selama menjadi KGM, saya merasa gembira mengemban tugas yang dipercayakan keuskupan lewat penugasan dari Paroki Tigalingga dan Jalan Sibolga. Pelayanan ini menjadi wadah bagiku belajar mendampingi kaum muda yang selalu mendapat hambatan dan tantangan” demikian ungkap Marsel Sinaga.

“Saya jauh-jauh datang dari Aek Kanopan untuk menghadiri pernikahan sahabat KGM. Kunjungan seperti ini adalah suatu tanda bahwa setiap pelayan di gereja tersebut haruslah tetap padu dan harmonis. Pelayanan yang kami sajikan juga merupakan hasil mufakt bersama saat pembicaraan bersama dengan pimpinan yakni RP. Alexander Silaen, OFM Cap” Donal berkisah setelah acara berakhir.

Saat dimintai keterangan RP. Alexander Silaen, OFM Cap perihal kerjasama di antara anggota KGM. “Pada tahun 2017 dan 2018, para anggota KGM telah menyusun buku yang akan segera terbit. Hal ini merupakan salah satu produksi yang terbilang gemilang. Kekuatan kaum muda, khususnya para pengurus KGM ini mampu memberikan diri secara total dalam pelayanan. Mereka benar-benar mengemban tugas berat tersebut dengan penuh tanggung jawab” demikian penuturan beliau sekaligus penutup perbincangan hari ini

Para Suster KSSY Berbagi Cinta di Hari Lebaran

Maurits Pardosi

Para Suster KSSY bergembira bersama keluarga Pak Gumun

Medan, 5 Juni 2019, tiga orang suster KSSY sedang berkunjung ke rumah pensiunan karyawan Karya Wisata Medan. Sr. Kristin, KSSY, Sr. Grace, KSSY, Sr. Donasia, KSSY, dan Sr. Albina, KSSY bersilaturahmi ke rumah Pak Gumun, pensiunan karyawaan Karya Wisata 13 tahun yang lalu. Perjumpaan seperti ini bukanlah pertama kali dilakukan. Walaupun demikian, pertemuan yang secara rutin tidak mengubah nilai cinta yang terkandung di dalamnya.

Sebelum Pak Gumun pensiun, beliau senantiasa setia mengantar makanan di saat lebaran ke susteran bersama dengan keluarga. Nah, saat ini, Pak Gumun tidak sanggup lagi bergerak bebas, para suster KSSY yang mengunjungi beliau. Ini salah satu gambaran bahwa cinta itu berbalas dan berbagi. Saling mengunjungi adalah bagian dari spiritualitas para suster KSSY layaknya St. Yosef.

Sangat terasa kedekatan keluarga Pak Gumun terhadap para suster KSSY

Dalam perjumpaan ini, para suster sudah dianggap Pak Gumun sebagai putri atau bagian dari keluarga mereka. Anak, puteri, dan cucu Pak Gumun juga sudah menganggap para suster KSSY sebagai bagian dari keluarga. Kesempatan ini menjadi momen berahmat untuk menciptakan keharmonisan dan toleransi. Mereka saling bercengkerama tentang cita dan asa yang sedang dan akan mereka jalani.

“Sebagai seorang kakek, Pak Gumun menempatkan dirinya sebagai orang tua yang bijaksana dalam mendidik anak serta cucunya. Pak Gumun dan istrinya tidak bisa lagi berbicara dan sudah pikun. Mereka hanya menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh putrinya. Saya melihat bahwa dia seorang pejuang dalam keluarga. Tentu ini menjadi inspirasi bagi kita” demikian penuturan Sr. Albina, KSSY.

Sr Albina juga menyampaikan bahwa persaudaraan itu bersifar universal, harus mampu menembus batas-batas SARA. Persaudaraan tidak sebatas karena satu keyakinan. Persaudaraan merupakan sayap yang membawa kita kepada banyak orang dan kalangan. Semoga!

Pembukaan Acara PORSENI OMK Tanah Jawa

Maurits Pardosi

RP Joseph Rajagukguk, Parokus Paroki Kristus Raja, Tanah Jawa bergembira saat membuka acara PORSENI Paroki Kristus Raja, Tanah Jawa 2019

Paroki Kristus Raja, Tanah Jawa membuka secara resmi Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) melalui pengesahan dari parokus, RP. Joseph Rajagukguk, OF Cap. Pelepasan balon menjadi ciri khas Paroki Kristus Raja, Tanah Jawa saat memulai acara akbar, secara khusus pada pembukaan PORSENI tahun 2019 ini.

Sesuai dengan kesepakatan pun mufakat bersama dalam rapat Dewan Paroki, acara ini akan berlangsung pada tanggal 5 Juni dan berakhir dengan Misa Kudus pada 7 Juni 2019. Acara ini bertema, “Orang Muda Katolik Memasyarakat”. Pelepasan Balon, sebagai lambang pembukaan acara oleh Pastor Paroki, Dewan Pastoral Pengurus Harian (DPPH) berlangsung di depan Aula Paroki pada pukul 15.30.

Pelepasan Balon tepat di depan Aula Paroki

Setelah acara pembuka, OMK Paroki Kristus Raja mengadakan parade. Dalam acara ini, seluruh OMK dari stasi datang dan bermalam di Paroki. Dalam situasi ini, Paroki juga sedang mengedukasi setiap kaum muda untuk mampu hidup bersama dengan orang lain, saling berkomunikasi dan tentu bisa saling berbagi dalam suka dan duka.

Para Peserta Parade sudah bersiap dengan pakaian adat

Bu Aulita Sinaga, salah satu orang tua menyampaikan bahwa acara seperti ini merupakan salah satu cara Paroki untuk mengumpulkan kaum muda. Zaman ini kerap membuat kaum muda merasa sendiri di tengah keramaian karena asyik sendiri. Hal ini bisa diretas dengan adanya kegiatan OMK secara bersama; tinggal bersama dan berbagi dalam sebuah kelompok kecil dan besar. Acara ini masih berlangsung dua hari ke depan.

Belajar tak pernah Berhenti: Guru dan Pegawai SD St. Ignatius, Medan Johor belajar Hypnoteaching

Maurits Pardosi

Guru dan Pegawai SD St. Ignatius, Medan Johor meluapkan kegermbiraan dengan berpose setelah acara berakhir

Sabtu, 1 Juni 2019, guru dan pegawai SD St. Ignatius, Medan Johor mengadakan pembelajaran khusus mengenai hypnoteaching di The Hill, Sibolangit. Acara ini dipandu oleh Yoseph Tien. Pembelajaran ini berlangsung selama satu hari yang dimulai pada pukul 09.00 setelah ibadat bersama dilakukan.

Acara ini bertema, “Pemamfaatan Potensi Pikiran dalam mengajar secara Cerdas dan Efektif”. Dalam kursus ini, para guru dan pegawai civitas SD St. Ignatius, Medan Johor berusaha semaksimal mungkin menangkap pembelajaran karena hal ini sangat berguna bagi pengembangan diri dalam mengajar di kelas. Arofati Zega, S. Pd., Kepala Sekolah SD St. Ignatius, Medan Johor menyatakan bahwa pembelajaran ini amat penting khususnya bagi guru sendiri agar mampu memanage diri; tetap tampil prima dan fresh saat mengajar. Tentu, dengan suasana relax, guru mampu memberikan pengajaran dengan fresh juga.

Pak Yoseph Tien bersama dengan pengurus Yayasan Seri Amal

Lenni Hutapea, salah satu pegawai di sekolah tersebut menyampaikan bahwa pembelajaran ini menjadi hal penting bagi dirinya karena dengan pengetahuan ini, dia semakin mampu membuat dirinya berkembang dalam mengajar anak. Hal ini juga senada dengan pengalaman guru dan pegawai yang lain.

Pertemuan yang berakhir pada pukul 17.00 menjadi pengalaman berharga bagi setiap guru dan pegawai di SD St. Ignatius, Medan Johor. Kita sepakat bahwa pendidikan berlangsung sepanjang masa, “Long Life education“. Pembelajaran ini dengan sengaja mereka sepakati di hari libur agar tidak mengganggu suasana belajar di sekolah. Acara ini juga diikuti oleh pengurus Yayasan Seri Amal.

Menarasikan Misi melalui School of Missionary Animators oleh Keuskupan Agung Medan

Maurits Pardosi

Peserta berpose dengan harapan dan bangga sebagai Pendamping SEKAMI

Bingkawan, Rumah Retret Jericho pada tanggal 1-2 Juni 2019, Keuskupan Agung Medan melalui Komisi Kerasulan Kepausan Indonesia (KKI) mengadakan kegiatan School of Missionary Animators. Kegiatan ini diikuti oleh pelayan di gereja Maria Bunda Pertolongan Abadi, Binjai. Jumlah peserta sekitar 76 orang. Pelayan yang dimaksud adalah para pendamping SEKAMI; ada yang sudah melayani pendampingan SEKAMI selama 20 tahun, 10 tahun, 5 tahun, 1 tahun dan juga ada yang baru (pelayan yang ingin dikader). Variasi lamanya waktu pengabdian membuat suasana semakin hangat, khususnya saat berbincang seputar pelayanan gereja. Seluruh kegiatan diawali dengan ibadat pembukaan dan ice breaking guna menghangatkan suasana.

Sebagian peserta tampil di depan teman-temannya

Pada sesi pertama, RP. Martinus Nule, SVD mengemukakan seputar pemakaian kata “SEKAMI” sebagai pengganti kata Asmika, Sekolah Minggu, Bina Iman Anak dan ungkapan lain yang kerap kita dengar untuk menunjukkan pendampingan anak-anak. “Kita harus membuat penyeragaman tentang nama” ungkap RP. Martinus Nule, SVD, sebagai bagian dari Komisi KKI. Dari pemaparan beliau, peserta juga mendapat informasi bahwa KKI membawahi pendampingan anak pun remaja.

Pada sesi yang berikutnya, RP. Martinus Nule, SVD melanjutkan pemaparannya mengeai spiritualitas pendamping SEKAMI; di dalamnya termaktub dasar pengabdian dan tujuan pengabdian. Pada sesi ini beliau menegaskan bahwa yang dibutuhkan Gereja dari seorang pendamping SEKAMI adalah sekeping hati yang mau melayani dan mencintai anak, bukan pangkat, gelar, dan jabatan.

Lundu Sitohang memaparkan berbagai hal mengenai pelayanan yang kreatif

Pada tanggal 2 Juni, Lundu Sitohang mengarahkan peserta untuk berpacu diri mengenal pendampingan anak yang up to date. Menurutnya, pendampingan anak pastilah berubah dan dinamis. Dalam perbincangan kali ini, dia mengatakan bahwa para pendampinglah yang harus mengerti kebutuhan anak, bukan sebaliknya. Maka, setiap pendamping anak harus mengerti berbagai metode pengajaran yang mutakhir bagi anak.

Lundu Sitohang mempraktekkan cara menarasikan Kitab Suci lewat alat peraga

Dalam pembekalan yang disajikan Lundu Sitohang, para peserta mendapat hal-hal baru, misalnya kreasi tepuk, gerak dan lagu. “Bila para pendamping masih kesulitan mencipta gerak dan lagu yang baru, maka pendamping bisa saja berkreasi lewat lagu-lagu yang sedang booming di telinga anak-anak dengan adanya muatan Kitab Suci dan SEKAMI sehingga anak-anak lebih mudah mengikuti pendampingnya” demikian penuturan Lundu Sitohang. Hal lain yang disarankan beliau adalah pengguanaan alat peraga guna mempermudah anak memahami isi Kitab Suci; dengan adanya teka-teki silang, menjodohkan kata, mencari kata dalam Kitab Suci, membuat pembatas buku berisi nas Kitab Suci, dan kreasi lainnya. Setelah pembekalan dari Lundu Sitohang, para peserta mempersiapkan bahannya untuk dipraktekkan.

Para pendamping diminta tampil seolah-olah di depan anak-anak. Hal ini merupakan cara terbaik untuk membatinkan seluruh materi dalam praktek yang sebenarnya di lapangan. Elia Sudarman Munthe, sebagai Ketua Panitia merasa bergembira akan kegiatan tersebut. Dia juga menitipkan pesan kepada peserta agar mereka mengembangkan beragam hal yang sudah mereka dapatkan dalam pendampingan anak di Paroki dan Stasi mereka masing-masing. Para peserta juga merasa tertarik berjibaku di kemudian hari karena mereka sudah dibekali dengan bermacam metode dan cara yang lebih fun dan tetap berisi mendampingi anak-anak.

Berbagi sejak Dini: Pentas Seni TK Assisi, Balige

Maurits Pardosi

Anak-anak TK Assisi sedang beraksi di atas panggung

Sabtu, 1 Juni 2019, TK Assisi, Balige mementaskan kebolehan mereka di bagian seni kepada seluruh penonton. Pementasan ini adalah kerja keras para guru dan pelatih mereka. Yang paling menarik dari penampilan mereka adalah kemampuan memadukan berbagai kekayaan tradisional dalam satu garapan seni yang memukau. Kepaduan penampilan mereka mengundang tepuk tangan riuh dari penonton.

Kegiatan mereka bervariasi; menari, menyanyi, musik, dan beberapa kegiatan lain sehubungan dengan seni. Tentu, kegiatan ini diramu sebaik mungkin karena hal ini merupakan kegiatan penutupan Tahun Ajaran 2018/2019. Kepala sekolah mereka juga menyampaikan bahwa anak didik mereka antusias mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini terlihat dari persiapan mereka dari beberapa waktu yang lalu. “Dengan rangkaian persiapan ini, kita tetap belajar menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan dengan metode yang lembut dan tepat” demikian ungkapnya.

“Dari penampilan ini, anak-anak kita sedang mengajarkan pada kita bagaimana caranya berbagi; berbagi kemampuan kepada setiap orang. Dalam hal ini, para pengajar di sekolah ini berusaha menanamkan nilai berbagi” ungkap Manahan Simanjuntak, ayah salah satu anak didik TK Assisi, Balige. “Pematangan kemampuan anak atau mengasah bakat mereka sejak dini harus dilakukan agar mereka bisa mengerti bakatnya sejak dini yang kemudian dikembangkan serta dibagikan” demikian penuturan Leonardo Simanullang, salah satu orang tua siswa.

Antusias para penonton saat melihat para penari di atas panggung

Mengarak Patung Bunda Maria pada Penutupan Bulan Maria di Paroki Santa Agatha, Batang Kuis-Medan

Maurits Pardosi dan Marta Ernawati Hutauruk

Umat Paroki Santa Agatha, Batangkuis-Medan sedang mengarak patung Bunda Maria

Jumat, 31 Mei 2019, Paroki Santa Agatha, Batang Kuis-Medan. Dalam penutupan Bulan Maria tahun ini, Paroki Santa Agatha, Batangkuis-Medan melakukan hal yang unik dan menginspirasi umat beriman lainnya. Mereka mengarak patung Bunda Maria sepanjang kira-kira 1 km. Umat Rayon II Paroki Santa Agatha, Batang Kuis-Medan yang terdiri dari enam stasi mengadakan Perarakan Patung Bunda Maria yang dipimpin oleh Frater Johannes. Perarakan tersebut dimulai dari Stasi Santo Fransiskus Asisi Pardomuan Nauli pada pukul 17.30 WIB. Acara ini diawali dengan lagu pembukaan dan doa Rosario dan penyalaan lilin. Kemudian, umat berarak menuju stasi Santa Theresia Janji Matogu.

Dalam suasana hikmat, umat melantunkan doa rosario sepanjang perarakan. Sepanjang perarakan patung Bunda Maria, dalam setiap pergantian perpuluhan doa rosario, mereka menyanyikan lagu-lagu seputar Maria, Bunda Yesus. Dengan lilin bercahaya di tangan, mereka berjalan hingga sampai pada tujuan. Perarakan berakhir di gereja Santa Theresia Janji Matogu, kemudian dilanjutkan dengan perayaam Misa yang dipimpin oleh Pastor RD. Blasius Ola Doren.

Marta Ernawati Hutauruk, salah satu umat Rayon II Paroki Santa Agatha, Batang Kuis-Medan menyampaikan bahwa kegiatan ini membantunya mendalami ajaran Iman seputar Bunda Maria. Bunda Maria, bunda seluruh mahluk, tokoh kerendahan hati mengajak kita menjadi penyalur berkat lewat perjumpaan kita kepada setiap orang.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai