Gereja yang Menyelamatkanku

Maurits Pardosi

Parto Aprianto Paulinus Tambunan, kelahiran Saribudolok, 11 April 1991. Dia, anak kedua dari lima bersaudara. Dia menjadi tulang punggung dalam keluarga setelah ayahnya meninggal pada tahun 2009. Inilah kisah awal kegigihannya menapaki hidup. Bermodalkan pengetahuan di Seminari dan biara Kapusin selama beberapa tahun, dia berani mengambil keputusan untuk merantau ke luar Sumatera, tepatnya di Pulau Jawa.

Dia merantau ke Jawa tepatnya di Bogor bulan April 2014 dan tinggal sementara di rumah saudari ibunya. Sebagai perantau pemula, dia masih melihat situasi sekitarnya. Kegiatan sehari-harinya hanya mengantar dan menjemput anak-anak tantenya sekolah serta menjaga Counter HP yang lumayan jauh dari rumah mereka di daerah Jonggol-Cibarusah. Setelah beberapa minggu melakukan kebiasaan tersebut, di merasa bosan dan ingin sekali bekerja di sebuah pabrik, yang pasti ingin memperoleh upah.

Parto sedang bekerja di lapangan

Tak terasa bulan Juni 2014 pun tiba, dia bertemu dengan seorang teman yang berasal dari parokinya di Saribudolog (dia, anak stasi Naga Panei) via Facebook. Mereka belum pernah bertemu sekalipun sebelumnya. Setelah tegur sapa dan kenalan di Facebook, temannya memintanya datang ke Bekasi. Dia memperkenalkan pekerjaan sebagai karyawan di sebuah Koperasi Keliling. Dia berjanji pada dirinya harus tekun dalam menjalani hidupnya. Dia bersama temannya mulai aktif ke lapangan untuk menagih ke warung-warung kecil. Dia merasa kasihan pada setiap orang dijumpainya dan ingin mencari pekerjaan yang lain.

Babak baru dalam hidupnya – saat bertemu dengan seorang yang kebetulan punya rencana menjenguk orang sakit di sekitar Jakarta. Temannya mengajaknya ikut menjenguk orang sakit. Dalam perjalanan Bekasi ke Jakarta,  mereka saling kenal dan bercengkerama. Dalam pembicaraan yang mulai hangat, dia memberanikan diri menanya mengenai pekerjaan. Ada seorang cewek yang bertanya, kamu mau kerja di SLB Santa Lusia Bekasi gak? Spontan, saya setuju.

Sebelum memulai tahun ajaran baru, dia test di SLB Santa Lsuia Bekasi sebagai Tata Usaha. Dia diterima dengan masa percobaan 3 bulan. Tahun ajaran baru 2014 pun dimulai pada bulan Juli, saya diberi ruangan khusus. Belum sampai seminggu, Suster Elisa Simanjuntak, KSFL (Ketua Yayasan Pusat) memindahkannya ke unit SD Santa Lusia Bekasi. Dia menjalani pekerjaan dengan penuh  kegembiraan dan rasa syukur. Mimpinya kuliah perpajakan tidak mungkin karena pendapatannya masih kurang. Oleh karena itu, dia mencari tambahan pendapatan. Awal Oktober 2014, dia mulai bekerja di Waterpark Go Wet Grand Wisata sebagai operator Mesin.

Dia sangat yakin bahwa perjalanan hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan. Suatu ketika, tepat pada latihan Paduan Suara di Gereja ada seorang kakak yang menawarkan pekerjaan kepadanya sebagai IT Support di Kop BRI Jakarta Pusat. Tanpa pikir panjang, tawaran tersebut diterimanya dan lulus setelah mengikuti test dan interview di Jakarta Pusat.  Dia diterima bekerja di Kop BRI Jakarta Pusat.

Setelah mendapatkan penghasilang tetap, dia mendaftar kuliah di STIE Pertiwi Bekasi dengan mengambil jurusan Akuntansi Perpajakan. Dia masuk kelas karyawan yang kuliah hanya Jumat dan Sabtu. Dia mulai kuliah semester I pada bulan September 2015 dan sekarang, dia sedang menyusun Skripsi. Dari transkrip nilai sampai semester VII , IPKnya 3,85.

Pada Januari 2015 hingga Desember 2017, dia bekerja sebagai IT Support dan sering bekerja keluar kantor. Senin sampai jumat pasti memeriksa mesin-mesin ATM yang rusak, mesin-mesin hitung uang yg rusak, mesin EDC yang rusak bahkan yang baru untuk distaging menjadi milik BRI. Awal Januari 2018, dia minta dipindah ke bagian Accounting dan langsung di-ACC karena bagian Accounting memang lagi dibutuhkan. Alasan saya dipindahkan ke bagian Accounting dengan alasan jurusannya perihal jurnal-jurnal pembukuan, laporan-laporan keuangan serta yang berkaitan dengan pajak. Dan akhir-akhir ini, dia disibukkan penyusunan skripsi.

“Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, saya terkadang merasa dilema bahkan trilema antara pekerjaan, kuliah dan kegiatan di gereja dan organisasi di luar. Saya merasa membagi waktu antara semua kegiatan dan pekerjaan adalah tantangan yang sangat berat. Kadang susah, lelah tapi sudah terlanjur berkecimpung, yakin mengalir saja bahwa semua bisa dijalani dan ujungnya akan indah. Saya berharap, bagi kita kaum muda untuk mendekat dan terlibatlah dalam kegiatan gereja. Semoga kita semua kaum muda tidak mematikan asa yang sudah ada dan bernyala-nyala.” Begitulah ungkapan hatinya yang paling dalam.

Anak adalah Investasi di Masa Depan: Kegiatan Komisi Kerasulan Kepausan Indoesia (KKI) Keuskupan Agung Medan

Maurits Pardosi

Anggota Komisi KKI sedang memberikan materi dan arahan kepada peserta

Di Rumah Retret Jericho, Bingkawan, 18-19 Mei 2019 telah diselenggarakan kegiatan pembinaan Guru Sekolah Minggu dari Kuasi Paroki Simalingkar B. Acara ini berlangsung di tempat Retret Jericho, Bingkawan. Kegiatan ini diawali dengan bedah buku, “Aku Sahabat Yesus”. Buku ini memuat beragam kreatifitas pengajaran iman bagi anak sejak dini.

Dalam pembukaan acara, pemateri dan pendamping, RP. Martinus Nule, SVD, Sdr. Lundu Sitohang, dan Sdr. Germano Manalu memperkenalkan buku “Aku Sahabat Yesus”  mengenai latar belakang pembuatan buku dan implementasi buku pada zaman milenial ini. Peserta kegiatan ini berjumlah sekitar 40 orang. Mereka didampingi oleh RP. Martinus Nule, SVD, Sdr. Lundu Sitohang, dan Sdr. Germano. Kegiatan ini merupakan perwujudan salah satu bagian dari Top Pastoral Priority (TPP) Keuskupan Agung Medan perihal pembinaan anak.

Buku ini menyajikan beragam cara dan metode yang dapat ditempuh oleh Pembina Iman Anak (SEKAMI). Dalam buku ini, Pembina Iman Anak akan memperoleh beragam cerita seputar Kitab Suci, Gerak dan Lagu, Permainan yang menarasikan Kisah Kitab Suci. Semua yang termaktub dalam buku “Aku Sahabat Yesus” mampu menjawab tantangan zaman milenial, yakni cara menanggulangi pengajaran iman bagi anak yang terkesan monoton dan tidak berkembang. Gerakan ini juga bagian dari keprihatinan Paroki Simalingkar B akan pendidikan Iman Anak sejak dini.

Peserta melakukan kegiatan sebagai bekal untuk pengajaran iman Katolik kepada anak

Setelah mengulas buku pada hari pertama (18 Mei 2019), para peserta juga diajak dan dibina melakonkan apa yang ada dalam buku, secara khusus metode pengajaran iman. Hal ini tentunya mendapat sambutan hangat dari peserta kegiatan. Para peserta berharap bahwa kegiatan ini harus menjadi kegaiatan tahunan agar tetap up to date. Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dan antusias dari Vicaris Parokial, yang diwakilkan oleh RD. Ronal Sitanggang, DPP Paroki Simalingkar B, dan kerja sama dengan Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agung Medan.

Lundu Sitohang, sebagai pendamping kegiatan merasa gembira karena seluruh peserta mengamini bahwa kegiatan ini urgent di zaman now dan selalu berusaha mengembangkan pola pengajaran iman kepada anak sejak dini. Berkat kerjasama seluruh pihak, kegiatan ini berlangsung dengan baik dan semoga seluruh pengajar iman anak semakin bersemangat karena mereka juga bagian dari pelaku evangelisasi di gereja.

Pada penutupan acara, perwakilan Vicaris Parokial, RD. Ronal Sitanggang dan DPP menyampaikan terima kasih atas kegiatan yang berlangsung baik dan moga-moga seluruh peserta setelah mendapat pengetahuan baru menjadi agen perubahan dalam pengajaran iman anak di masa mendatang. Perlu diingat, anak adalah investasi kita di masa mendatang. Membina anak sejak dini adalah salah satu cara mempersiapkan masa depan yang cerah dan membahagiakan.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Maurits Pardosi

Peserta dari SMA St. Tarcisius, Dumai berpose di gereja Katolik Bukit Batrem Kota Dumai

Minggu, 19 Mei 2019, SMA St. Tarcisius Dumai mengadakan kunjungan sekaligus pelayanan ke gereja-gereja sekitar daerah Dumai. SMA yang berada di bawah naungan Yayasan Prayoga, Riau ini ingin memperkenalkan sekolahnya lewat beragam aksi yang mereka sajikan dalam setiap pelayanan mereka. Bu Rehna Tarigan, S.Pd., sebagai Kepala Sekolah sekaligus Koordinator Dumai membawa sejumlah guru dan siswa SMA St. Tarcisius untuk berkenalan langsung dengan masyarakat lewat pelayanan di Gereja GKPI Kota Dumai, yang sebelumnya di Gereja Katolik Stasi Bukit Batrem.

Dalam pelayanan, siswa-siswi bimbingan Pak Henro Simanullang, S. Fil dan Bu Jessy L. Lumbangaol, S. Pd. (sebagai pelatih koor) menampilkan suara apik SMA St. Tarcisius dan tentunya membuat umat GKPI Kota Dumai terkesima. Selain koor, mereka juga mengemukakan seputar SMA St. Tarcisius kepada seluruh jemaat yang hadir melalui sosialisasi.

Suasana gembira ditunjukkan guru dan siswa-siswi SMA St. Tarcisius, Dumai setelah mengadakan pelayanan di gereja GKPI Kota Dumai

Peserta dari SMA St. Tarcisius sebanyak 35 orang (siswa) ditambah 4 orang guru. Tentu, pelayanan ini dapat berjalan dengan baik berkat sumbangan pemikiran seluruh pendidik, tenaga pendidikan dan kependidikan di SMA St. Tarcisius Dumai dan secara khusus Ketua Penerima Peserta Didik Baru (PPDB), Pak Epidin Sihombing, S.Si.

Dari pengamatan para peserta SMA Tarcisius Dumai, seluruh umat di GKPI Kota Dumai antusias mengikuti rangkaian acara yang telah dipersiapkan secara matang. Penyambutan yang istimewa juga sudah mereka terima di tempat pelayanan sebelumnya hingga mereka dijamu dengan acara makan siang. Setelah tampil, mereka menyantap sajian dari jemaat GKPI Kota Dumai berupa makanan ringan yang menandakan antusias dan rasa cinta dari seluruh jemaat.

Seluruh civitas SMA St. Tarcisius, Dumai mengharapkan kesuksesan lewat bertambahnya jumlah siswa-siswi yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Dengan penuh kerendahan hati, SMA St. Tarcisius menerima siswa-siswi dari seluruh daerah Indonesia ini untuk dibina dan dididik di SMA St. Tarcisius, Dumai. Tentu, komunikasi tanpa perjumpaan adalah hal yang kurang sempurna. Maka, lewat pelayanan yang dilakukan guru dan anak didik SMA St. Tarcisius, Dumai, kiranya membuka hati kita untuk mendaftarkan anak kita ke sekolah tersebut.

Pendamping Bina Iman Anak (BIA) Sebagai Pengabar Kasih

Maurits Pardosi

OMK Paroki St. Petrus, Medan Timur telah dibekali oleh RP. Polyaman Purba, OFM Cap sebelum pelantikan di Rumah Retret Cinta Alam, Sibolangit

 

Paroki St. Petrus, Medan Timur, 19 Mei 2019 melangsungkan pelantikan Pendamping Bina Iman Anak ( BIA) pada misa kedua, pukul 09.00 WIB. Dalam pelantikan ini, parokus, RP. Hugolinus Malau, OFM Cap., menyampaikan pesan Kitab Suci yang menarasikan bahwa mengasihi menjadi way of life. Hal ini ditegaskannya lewat kata pengantar dalam Misa Kudus, “sepatutnya saling mengasihi adalah way of life atau habitus dalam hidup harian. Dalam pengantar Misa Kudus, parokus baru ini juga mengutarakan bahwa tindakan saling mengasihi merupakan warisan dari Yesus Kristus.

Pewarisan ilmu hidup (prinsip hidup dan cara hidup) dikaitkan dengan sejarah berdirinya Salib Kasih di Tapanuli Utara. Sosok Nomensen (kerap disapa oppung Nomensen). Dari atas bukit, sembari memandang panorama indah daerah Batak, dan berdoa, “hidup dan matiku, aku akan tetap berada di tempat ini untuk mewartakan Kerajaan Allah”. Muatan terdalam dari bangunan Salib Kasih adalah tiada kasih tanpa salib, dan sebaliknya.

Pelantikan Pendamping Bina Iman Anak menjadi momen bagi kita untuk berani mengajarkan kasih kepada anak-anak kita, sebagai generasi penerus. Dengan demikian, ajaran hidup saling mengasihi menjadi modal besar bagi anak-anak kita untuk sibuk berbagi kisah di kemudian hari.

Bila kita telisik lebih jauh, sudah banyak tokoh menjadi pejuang kasih. Mereka pernah ambil bagian dalam sejarah manusia, yang artinya kita semua punya peluang yang sama untuk berbagi kasih, misalnya Santo Maximilianus Kolbe.

Cinta yang didasari kasih akan menjadi habits bila pengajaran seputar kasih sejak usia dini, secara khusus bagi anak-anak kita. Melalui pelantikan ini, Pendamping BIA semakin mencintai panggilannya sekaligus kerelaannya sebagai pendamping Bina Iman Anak.

Dengan adanya surat keputusan dari Parokus Paroki St. Petrus, Medan Timur, para pendamping Bina Iman Anak telah siap menjadi pelaku kasih lewat ajaran dan tindakannya setiap hari sebagai pengajar iman kekatolikan pada anak-anak yang ada di paroki tersebut. Masa bakti mereka berlangsung selama tiga tahun.

Beberapa saudara-saudari kita yang dilantik yakni: Moito Simarmata, Karina Silaen, Lestiani Agnes Malau, Rosari Riniawati Manalu, Novita Lastiar Pakpahan, Novina Lastiar Pakpahan, Veronika Saragih, Nika Naediana Sihombing, Jontianus David Sinaga, Hotmar Krisnuel Situmorang, Aditya Fransiskus Nainggolan, Hipolitus Sipangkar, dan Sr. Sri Agustina Ginting, CAE (Koordinator) . Mereka dimintai Pak Altur Manullang, sebagi anggota DPP Paroki St. Petrus, Medan Timur mengucapkan janji mereka sebagai pendamping Bina Iman Anak. Seluruh umat bertepuk tangan sebagai bentuk dukungan bagi para pengajar iman anak yang baru saja dilantik oleh parokus. Selamat bertugas dan jadilah pengasih.

Semoga!

Kegembiraan para Pendamping BIA setelah dilantik
Para Pendamping BIA yang baru berpose setelah pelantikan

Sabar dalam Mengatasi Masalah dan Bijaksana dalam Bertindak

Maurits Pardosi

Pelayanan adalah undangan yang datang dari Alah. Sebagai ketua misdinar, Norita Pakpahan bersikukuh dan berupaya memberikan sesuatu yang terbaik dalam pelayanannya. Gadis, kelahiran Balige, 05 Desember 1998 ini mengetuai lebih dari 30 orang misdinar. Dalam tugasnya, dia kerap mengalah demi kebaikan bersama. Hal ini sangat lumrah karena rekan-rekannya masih terfolong muda untuk mencerna tindakan pelayanan dalam Gereja. Sebagai misdinar, dia mempunyai komitmen untuk membuat dirinya menjadi teladan. Sebagai panutan, dia tentu mempunyai tanggungjawab yang amat besar. Sebagai seorang gadis yang rendah hati, dia kerap berkonsultasi dengan petugas pastoral paroki (para pastor, frater, suster dan pengurus Gereja) guna mengembangkan hidup rohani para misdinar.

Di sela-sela kegiatan sekolah yang serba sibuk, dia selalu mengusahakan untuk mengikuti misa pagi yang diadakan di Gereja Paroki. Satu hal yang tidak pernah luput dari kebiasaannya adalah berdoa sebelum belajar. Gadis, yang berbintang Sagitarius ini ingin bercita-cita ingin menjadi seorang suster. Cita-cita ini lahir dari lubuk hati yang dalam setelah melihat kurangnya tenaga pastoral yang ada di paroki Balige untuk melayani stasi-stasi. Penyabet Juara I di SMU Negeri 2 Balige (Tahun Ajaran 2013-2014)  ini juga berpesan agar setiap kawula remaja berusaha untuk menanggapi zaman secara dewasa.

Sebagai gadis yang sederhana (dalam berbicara maupun berpakaian), dia mengarahkan rekan-rekannya untuk mampu saling berbagi dalam bidang keterampilan baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, dia dikenal sebagai orang yang komunikatif dan bersahaja. Sebagai seroang yang gemar membaca, dia juga mempunyai banyak pengetahuan untuk dibagikan kepada teman-temannya ketika ada perkumplan anggota misdinar. “Cerita cinta hidupnya akan diteruskannya dalam biara yang akan kutuju”, ungkapnya dengan senyum simpul. Faktanya, sekarang dia sedang menempuh pendidikan di Universitas Andalas, Padang dan memilih fakultas MIPA-Matematika.

Norita bersama teman sekampusnya di Universitas Andalas, Padang (SUMBAR)

Estafet Penggembalaan di Paroki St. Petrus, Medan Timur

Maurits Pardosi dan Altur Manullang

Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap menyampaikan sambutannya sebelum menyematkan ulos pamoting kepada Parokus baru St. Petrus, Medan Timur, RP. Hugolinus Malau, OFM Cap.

Paroki St. Petrus, Medan Timur – Kamis, 1 Mei 2019, umat Paroki St. Petrus, Medan Timur merasa bahagia sekaligus terharu atas kunjungan perdana Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap di gereja St. Petrus, Medan Timur. Seluruh umat yang hadir tentu berbangga hati atas kunjungan Uskup baru Keuskupan Agung Medan. Kehadiran Mgr. Kornelius ditemani RP. Mikael Manurung, OFM Cap. (Vikjen) bertujuan merayakan serah terima tugas pastor Paroki dari RP. Paulinus Simbolon, OFMCap kepada RP. Hugolinus Malau, OFMCap. Serah terima pelayanan ini termaktub dalam Misa Kudus yang bertepatan dengan pembukaan Bulan Maria (1 Mei).

Dalam kotbahnya, Mgr. Kornelius Sipayung menyatakan bahwa pastor paroki yang lama adalah orang yang transformatif, kreatif, inovatif, dan komunikatif. Hal itu nyata dan terasa dalam evangelisasi baik di lingkungan, komunitas-komunitas doa, wilayah, dan paroki. Pak Altur Manullang, salah satu pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) mengamini pernyataan uskup tersebut, “selama ini saya melihat bahwa komunikasi, kreatifitas, inovasi, dan transformasi yang dilakukan Pastor Paulinus membuat umat di Paroki Medan Timur ini semakin mengenal dan mendalami iman Katolik.” Artinya, berbagai usaha yang dilakukan pastor paroki sebelumnya kiranya bisa berlangsung di kemudian hari.

Setelah misa selesai, Uskup dan Vikjen bersama umat diundang untuk menghadiri acara ramah tamah. Dalam acara syukur ini, atas insiatif pastor paroki lama memangsungkan “Penyematan Ulos Pamoting” kepada RP. Hugolinus Malau OFMCap oleh Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap bersama oleh RP. Paulinus Simbolon OFMCap. Ulos Pamoting adalah ulos pengikat pinggang, ulos para pelayan agar gesit melayani, serta menjaga para pelayan dari marabahaya. Para pelayanpun akan berusaha sekuat tenaga melengkapi segala kekurangan, agar segala pekerjaan sesuai dengan harapan dan cita-cita bersama serta kebaikan bersama (bonum communae). Hal ini juga memperlihatkan bahwa kearifan budaya tetap diterima gereja sebagai sarana untuk mewartakan kasih Allah.

Penyematan ulos pamoting kepada Parokus baru

Dalam sambutannya, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap mengutip Injil Yoh 21: 18 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Rangkaian acara yang disajikan kiranya membuat pastor paroki yang baru semakin bersemangat mencari domba yang masih hilang di Paroki Medan Timur dan tetap membina komunikasi yang baik dengan umat. Keteladan Bunda Maria, kerendahan hati menjadi dasar pelayanan pastor paroki yang baru dan tentu kerja sama dari umat beriman amatlah dibutuhkan agar iman, harapan, dan kasih semakin membara di Paroki St. Petrus, Medan Timur. Semoga!

Memilih dengan Bijak: Alasan Keterjaminan Fasilitas

Maurits Pardosi

Nikmatny membaca buku

“Membuka jendela dunia dengan Buku” bukanlah ungkapan yang kosong. Merujuk kembali predikat yang dikenakan bagi bangsa kita sebagai bangsa pinutur, kita kerap mendapatkan informasi melalui percakapan (oral system). Sekarang, buku sudah tersedia yang memuat sejumlah informasi yang disajikan untuk kita semua sebagai pembaca. Lebih dahsyat lagi, buku yang kita peroleh bukan hanya torehan di atas kertas, namun juga melalui media elektronik. Saya, sebagai mahasiswa mencintai dan menggemari kedua jenis buku itu. Ketika harus memilih dari antara dua jenis buku ini, saya akan memilih buku kertas. Pilihan ini tentu didasarkan pada prinsip “hidup di dua alam (amfibi)”. Dengan buku kertas, saya dapat membacanya di daerah yang belum mendapatkan layanan arus listrik. Di sisi lain, dengan membaca buku, saya akan tertantang untuk menuliskan sesuatu dengan sebuah pena pada buku yang sedang saya baca. Dengan demikian, informasi yang baru saja saya baca akan mudah diingat.

Keterjaminan fasilitas adalah dasar untuk memilih metode yang terbaik. Kegemaran membaca dapat tersalurkan bila saya tetap menggunakan buku kertas. Walaupun agak repot, buku kertas tidak memberikan banyak kekuatiran untuk memilih tempat dan saat untuk membaca. Saya tidak kuatir bila daerah yang saya kunjungi tidak menyediakan arus listrik atau listrik padam dalam waktu yang panjang. Tidak ada penghalang bagi saya untuk tetap membaca buku. Dengan demikian, buku kertas masih dan akan tetap eksis walau era elektronik akan berkembang.

Wajah Baru Keuskupan Agung Medan

Maurits Pardosi

Secara ringkas, kita akan melihat lambang Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap., Uskup Agung Medan.Lambang tersebut adalah perisai yang terbagi menjadi tiga bagian horizontal. Di bagian atas, seekor burung merpati, Bintang Betlehem, Anak Domba Allah berwarna melambangkan gagasan Teologi Inkarnasi, Sabda yang menjadi daging. Di bagian tengah, dua tangan yang saling silang labang Fransiskan yang menunjuk latar belakang Mgr. Kornelius Sipayung sebagai seorang Fransiskan Kapusin. Di bagian bawah, dengan latar belakang warna abu-abu keperakan, adalah simbol tanah kelahiran dan gambaran situasi alami pastoral Keuskupan Agung Medan. Tiga buah gunung hijau melambangkan Pegunungan Bukit Barisan. Tanah subur berwarna coklat tua menggambarkan lahan pertanian.

Riak warna biru menggambarkan Danau Toba. Gambar lima roti dan dua ikan melambangkan hasil dari bumi serta pekerjaan tangan manusia dan melambangkan Ekaristi. Sebuah galero  atau topi klerus berwarna hijau, dengan 10 jumbai pada masing-masing sisinya berikut salib pancang dengan dua palang mendatar ini merupakan penanda seorang uskup agung. Pallium asesoris khas dianugerahkan Paus kepada para uskup agung metropolit. Pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan motto penggembalaan Uskup Kornel dalam Bahasa Latin: “Deus Meus et Omnia”, sebuah frase dari St. Fransiskus Assisi, yang artinya “Allahku dan Segalaku”.

Memandang dekat Masyarakat Simalungun

Banyak ahli yang menyatakan bahwa  masyarakat Simalungun merupakan keturunan dari Protomelayu yang datang sekitar tahun 1000 SM. Sejak awal protomelayu, yang diduga datang dari India ini, banyak mendiami daerah-daerah pesisir. Akan tetapi setelah kelompok II, yaitu Deutromelayu masuk,  mereka akhirnya terdesak dan masuk ke daerah pegunungan.[1]

Setelah berpindah sebagian sampai ke Batubara. Dan inilah diduga nenek moyang Simalungun. Dari tempat itu lahirlah perkampungan. Dan akhirnya lahirlah kerajaan yang disebut Kerajaan Najur. Ketika Kerajaan Najur berakhir, banyak dari masyarakat yang pergi menyeberangi laut tawar dan sampai di Samosir. Alasan kepergian ini diduga sebagai alasan untuk mencari pekerjaan. Setelah jangka waktu yang lama berpindah ke Samosir, banyak dari antara mereka yang tidak tahu lagi tentang sejarah Kerajaan Najur. Negeri Najur telah menjadi asing bagi mereka.

Karena situasi Samosir yang tidak mendukung, banyak dari antara mereka memutuskan mencari tempat lain. beberapa dari antara mereka sampai ke Najur. Dan ketika melihat situasi daerah itu, Simalungun. Kata itu berarti peninggalan yang sepi (sima, peninggalan, lungun=sepi) atau yang dirindukan (si = yang dan malungun = dirindukan). Dan nama itulah yang dipakai untuk menyebut bekas daerah Kerajaan Najur.[2]

Daerah Simalungun

Ketika Kerajaan Najur masih berdiri, mereka mempunyai daerah kekuasaan yang luas. Dan setelah Kerajaan itu runtuh, daerah-daerah yang sebelumnya merupakan daerah Kerajaan Najur disebut juga daerah Simalungun. Daerah Simalungun adalah daerah yang luas yang berbatasan dengan Kabupaten Karo, Kabupaten Toba, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Samosir. Daerah Kabupaten Simalungun mempunyai 31 kecamatan dan 302 desa.[3]

Daerah yang terletak di suhu udara yang dingin ini, merupakan daerah yang subur yang menghasilkan sayur-sayuran. Daerah Simalungun merupakan daerah yang mayoritas penduduknya hidup dari pertanian. Hasil pertanian merupakan komoditas utama dari simalungun. Selain itu banyak juga masyarakatnya yang hidup dengan maragad (yaitu mengambil air nira sebagai minuman dan gula merah). Masyarakat simalaungun merupakan masyarakat yang mengikuti garis keturunan ayah, patrilineal. Orang simalungun membubuhkan marga ayahnya di akhir nama kecilnya. Anggota dari satu marga dilarang kawin. Semua orang semarga merupakan kerabat.

Dalam masyarakat simalungun, sistem kekerabatan terkenal dengan istilah tolu sahhundulan dan lima saodoran. Kelompok tolu sahundulan  itu adalah: tondong (keluarga kerabat istri), sanina (keluarga kerabat satu marga) dan boru (pihak ipar). Kelompok yang tergolong lima saodoran adalah tondong, sanina, boru, tondong ni tondong dan anak boru mintori.[4] Dalam upacara adat, orang simalungun dengan sendirinya akan mengetahui di mana ia akan duduk dan menempatkan diri.


[1]  Sortaman Saragih, Orang Simalungun (Depok: CV Citama Vigora, 2008), hlm. 23.

[2]  Sortaman Saragih, Orang …, hlm. 42.

[3]  Sortaman Saragih, Orang …,  hlm. 21

[4]

Paham Poskolianisme

Maurits Pardosi

Semangat rakyat Indonesia menyambut kemerdekaan

Paham diawali dengan munculnya Subaltern Studies yang mempromosikan tentang diskusi yang sitematis dan informative dengenai tema-tema subaltern dalam bidang kajian Asia Selatan, yang menggambarkan proyek mereka untuk mengkaji tentang atribut umum subordinasi dalam masyarakat Asia Selatan yang diekspresikan dalam betuk klas, kasta, umur, gender dan pekerjaan atau dengan cara lain.

Arsip kolonial menyajikan versi-versi pengetahuan dan agensi yang diproduksi untuk merespon tekanan-tekanan partikular dari pengalaman kolonial, sebagai refrensi bagi arti dunia Timur pada zaman itu. Pemahaman poskolonialisme dapat diteguhkan dengan adanya pandangan para ahli tentang dampak masa kolonial, yang menjadi basis untuk mengantar pada pandangan-pandangan ini. Ada ungkapan: “dan pada hari penindasan berhenti, manusia baru akan lahir, tetapi saya harus mengatakannya, karena dekolonisasi telah menunjukkannya: ini bukanlah persolan cara terjadinya. Kehidupan yang terjajah untuk waktu yang lama selama kita melihat bahwa benar-benar ada manusia baru”. Ungkapan ini menegaskan betapa besar pengaruh masa kolonial terhadap tekanan psikologi manusia yang dapat menciptakan banyak penyimpangan secara psikis dalam ruang ligkup manusia dan kebudayaannya. 

Dalam komentarnya terhadap Black Skin, White Masks-nya Frantz Fanon, seorang kritikus poskolonial, Homi Bhabba, meyatakan bahwa ingatan merupakan jembatan yang penting dan kadang berbahaya antar kolonialisme dan persoalan identitas. Ini merupakan kenangan yang menyakitkan, peletakan bersama di masa lalu yang tak dikenang untuk memaknai trauma masa kini. Teori ini menggambarkan betapa pentingnya ingatan yang dapat menjadikan sesuatu yang terjadi di masa lampau menjadi refrensi kita untuk semakin melihat keadaan diri masa kini. Hal ini sangat menguntungkan kita untuk mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada diri kita tanpa kita sadari terus-menerus, misalnya trauma yang mendalam pada zaman kolonial. Hal itu dapat membawa kita kepada penyimpangan-penyimpangan yang dapat membahayakan kita sendiri dan orang lain. Banyak contoh lain yang dapat menyakitkan diri kita, yang dapat menyebabkan trauma yang mendalam, misalnya masalah rasisme dan sejarahnya, yang hingga kini juga masalah yang santer dalam ranah kehidupan manusia yang plural.

Maka dapat kita simpulkan bahwa muatan poskolialitas yang terlupakan secara efektif mengungkapkan cerita tentang hubungan yang ambivalen dan simbiotik antar penjajah dengan yang dijajah.  Jika dihubungkan dengan situasi Eropa dalam ranah kolonialisme, proses historis dimana “Barat” berusaha secara sistematis utnuk mengahancurkan atau menafikan perbedaan perbedaan nilai-nilai cultural dari bangsa “non- Barat”. Dalam hubungan antara “tuan-budak”, Hegel mempunyai elaborasi filosofis yakni: tuan dan budak pada awalnya terkunci pada sebuah perjuangan hingga matiyagn bersifat kompusif.

Kolonialisme tidak berakhir dengan berakhirnya pendudukan kolonial, sebab hal itu sangat berpengaruh besar bagi psikologi manusia yang terjajah pada masa kolonialisme. Dampaknya memiliki makna ganda yakni masa kolonial yang berdampak pada masa poskolonial. Prinsip yang mendasari Fanon  tentang “kebebasan total”, mensyaratkan tokoh yang diperbudak dari si terjajah untuk menolak pengakuan istimewa terhadap si “tuan” colonial. Dalam ungkapan Fanon: “kolonialisme menginginkan segala hal yang bersal dari darinya. Namun, ciri psikologis yang dominan dari si terjajah harus ditarik sebelum dilakukannya invitasi dari si penakluk”.

Periode kolonialis merupakan periode yang sangat memepegaruhi psikologi dan personalitas setiap orang dalam kedudukan sebagai orang yang terjajah. Itu dapat dibenarkan lewat penelitian dan pandangan para ahli poskolialisme yang lahir dari kalangan Timur, yang pada masa paham orientalisme mereka tidak mendapat respon, sebab yang dapat emnjadi orientalis hanyalah orang Eropa yang mengkalim dunia Timur sebagai hasil imajinasi mereka dan merupakan boneka bagi mereka, yang dapat diberi interpretasi secara bebas. Dan hal in sangat berpengaruh lahirnya para cendikiawan yang dapat  menantang paham yang berdasar pada egosentrisme semata. Mereka memaang sudah terkontaminasi dengan budaya materil , yang adalah ciri khas mereka. Itu terjadi, saat mereka datang menjajah dunia Timur bukan semata-mata menjajah tetapi mempelajari budaya dalam lintas Timur.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai