Maurits Pardosi

Kesiapan Parto melayani di gereja
Parto Aprianto Paulinus Tambunan, kelahiran Saribudolok, 11 April 1991. Dia, anak kedua dari lima bersaudara. Dia menjadi tulang punggung dalam keluarga setelah ayahnya meninggal pada tahun 2009. Inilah kisah awal kegigihannya menapaki hidup. Bermodalkan pengetahuan di Seminari dan biara Kapusin selama beberapa tahun, dia berani mengambil keputusan untuk merantau ke luar Sumatera, tepatnya di Pulau Jawa.
Dia merantau ke Jawa tepatnya di Bogor bulan April 2014 dan tinggal sementara di rumah saudari ibunya. Sebagai perantau pemula, dia masih melihat situasi sekitarnya. Kegiatan sehari-harinya hanya mengantar dan menjemput anak-anak tantenya sekolah serta menjaga Counter HP yang lumayan jauh dari rumah mereka di daerah Jonggol-Cibarusah. Setelah beberapa minggu melakukan kebiasaan tersebut, di merasa bosan dan ingin sekali bekerja di sebuah pabrik, yang pasti ingin memperoleh upah.

Tak terasa bulan Juni 2014 pun tiba, dia bertemu dengan seorang teman yang berasal dari parokinya di Saribudolog (dia, anak stasi Naga Panei) via Facebook. Mereka belum pernah bertemu sekalipun sebelumnya. Setelah tegur sapa dan kenalan di Facebook, temannya memintanya datang ke Bekasi. Dia memperkenalkan pekerjaan sebagai karyawan di sebuah Koperasi Keliling. Dia berjanji pada dirinya harus tekun dalam menjalani hidupnya. Dia bersama temannya mulai aktif ke lapangan untuk menagih ke warung-warung kecil. Dia merasa kasihan pada setiap orang dijumpainya dan ingin mencari pekerjaan yang lain.
Babak baru dalam hidupnya – saat bertemu dengan seorang yang kebetulan punya rencana menjenguk orang sakit di sekitar Jakarta. Temannya mengajaknya ikut menjenguk orang sakit. Dalam perjalanan Bekasi ke Jakarta, mereka saling kenal dan bercengkerama. Dalam pembicaraan yang mulai hangat, dia memberanikan diri menanya mengenai pekerjaan. Ada seorang cewek yang bertanya, kamu mau kerja di SLB Santa Lusia Bekasi gak? Spontan, saya setuju.

Parto sangat yakin bahwa dia tidak bisa hidup tanpa orang lain
Sebelum memulai tahun ajaran baru, dia test di SLB Santa Lsuia Bekasi sebagai Tata Usaha. Dia diterima dengan masa percobaan 3 bulan. Tahun ajaran baru 2014 pun dimulai pada bulan Juli, saya diberi ruangan khusus. Belum sampai seminggu, Suster Elisa Simanjuntak, KSFL (Ketua Yayasan Pusat) memindahkannya ke unit SD Santa Lusia Bekasi. Dia menjalani pekerjaan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Mimpinya kuliah perpajakan tidak mungkin karena pendapatannya masih kurang. Oleh karena itu, dia mencari tambahan pendapatan. Awal Oktober 2014, dia mulai bekerja di Waterpark Go Wet Grand Wisata sebagai operator Mesin.
Dia sangat yakin bahwa perjalanan hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan. Suatu ketika, tepat pada latihan Paduan Suara di Gereja ada seorang kakak yang menawarkan pekerjaan kepadanya sebagai IT Support di Kop BRI Jakarta Pusat. Tanpa pikir panjang, tawaran tersebut diterimanya dan lulus setelah mengikuti test dan interview di Jakarta Pusat. Dia diterima bekerja di Kop BRI Jakarta Pusat.
Setelah mendapatkan penghasilang tetap, dia mendaftar kuliah di STIE Pertiwi Bekasi dengan mengambil jurusan Akuntansi Perpajakan. Dia masuk kelas karyawan yang kuliah hanya Jumat dan Sabtu. Dia mulai kuliah semester I pada bulan September 2015 dan sekarang, dia sedang menyusun Skripsi. Dari transkrip nilai sampai semester VII , IPKnya 3,85.
Pada Januari 2015 hingga Desember 2017, dia bekerja sebagai IT Support dan sering bekerja keluar kantor. Senin sampai jumat pasti memeriksa mesin-mesin ATM yang rusak, mesin-mesin hitung uang yg rusak, mesin EDC yang rusak bahkan yang baru untuk distaging menjadi milik BRI. Awal Januari 2018, dia minta dipindah ke bagian Accounting dan langsung di-ACC karena bagian Accounting memang lagi dibutuhkan. Alasan saya dipindahkan ke bagian Accounting dengan alasan jurusannya perihal jurnal-jurnal pembukuan, laporan-laporan keuangan serta yang berkaitan dengan pajak. Dan akhir-akhir ini, dia disibukkan penyusunan skripsi.
“Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, saya terkadang merasa dilema bahkan trilema antara pekerjaan, kuliah dan kegiatan di gereja dan organisasi di luar. Saya merasa membagi waktu antara semua kegiatan dan pekerjaan adalah tantangan yang sangat berat. Kadang susah, lelah tapi sudah terlanjur berkecimpung, yakin mengalir saja bahwa semua bisa dijalani dan ujungnya akan indah. Saya berharap, bagi kita kaum muda untuk mendekat dan terlibatlah dalam kegiatan gereja. Semoga kita semua kaum muda tidak mematikan asa yang sudah ada dan bernyala-nyala.” Begitulah ungkapan hatinya yang paling dalam.













