Membudayakan Perjumpaan melalui Kearifan Lokal

Maurits Pardosi

Indahnya kebersamaan diperlihatkan kaum muda. (Foto diambil dari Jateng Pos)

Samosir, 31 Mei – 1 Juni 2019. Beberapa hari terkahir ini, secara khusus di daerah Sumatera Utara, pemberitaan memuat informasi seputar Gondang Naposo yang berlangsung pada Jumat 31 Mei hingga 1 Juni 2019, di Pantai Tandarabun, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Acara ini disebut Festival Gondang Naposo.

“Festival Gondang Naposo ini sungguh unik. Bagi yang masih jomblo atau bagi yang sudah berpasangan tapi pingin mengenang indahnya masa berpacaran dulu, datang saja ke festival ini. Siapa tahu dengan ikut festival ini, bisa menemukan cinta dan pasangan hidupnya, dan bagi yang sudah berpasangan semakin menambah kemesraan di antara mereka,” kata Bupati Samosir sekaligus umat Paroki St. Mikael, Pangururan, Rapidin Simbolon, di Samosir. Kalimat ini diambil dari laman Tribun Medan. Pak Rapidin Simbolon juga adalah salah satu umat Paroki St. Mikael, Pangururan- Samosir.

Komunikasi yang sejati adalah perjumpaan yang beralaskan cinta (Foto diambil dari IDN Times Sumut)

Dalam sebuah perbincangan dengan RP. Erisando Pardosi, OFM Cap., beliau mengutarakan nada kecemasannya akan relasi di zaman sekarang. “Orang tidak mau lagi bertemu, cukup dengan media sosial. Seyogianya, komunikasi sejati termaktub dalam perjumpaan. Media Sosial merupakan alternatif, bukan jalan satu-satunya. Sekaitan dengan Festival Gondang Naposo, perjumpaan kembali dinarasikan melalui kegiatan berbalut khazanah tradisional.”

Perjumpaan akan menghadirkan cinta. Dengan demikian, Festival Gondang Naposo ini merupakan salah satu cara ampuh menularkan virus kebersamaan dan perjumpaan bagi kaum muda, kaum milenial. Mari meneladi Bunda Maria yang berani mengunjungi (menjumpai) Elisabet, saudarinya.



Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Jemput Cintamu di Gondang Naposo Pulau Samosir, Dimeriahkan Marsada Band dan Naff, http://medan.tribunnews.com/2019/05/30/jemput-cintamu-di-gondang-naposo-pulau-samosir-dimeriahkan-marsada-band-dan-naff.
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Liston Damanik

Misa Penutupan Bulan Maria di Paroki St. Petrus, Medan Timur

Maurits Pardosi dan OMK Paroki St. Petrus Medan Timur

Gereja Paroki St. Petrus, Medan Timur

31 Mei 2019, Umat Paroki St. Petrus, Medan Timur berarak bersama dari gerbang antara gereja dan pastoran sambil memegang lilin bernyala. Antusias umat beriman tergambar dari kesatuan hati mendaraskan doa rosario. Perarakan berakhir di depan gereja yang ditandai dengan mematikan lilinnya sebelum memasuki gereja.

Misa kudus berlangsung hikmat, seperti biasanya karena setiap minggu, umat selalu mendapat katekese akan nilai keheningan dalam gereja. Nikmatnya keheningan tentu membantu umat meresapkan Sabda Allah yang dikumandangkan oleh imam dari altar dan mimbar. Misa kudus dilayani ole dua imam: RP. Hugolinus Malau, OFM Cap. dan RP. Polyaman Purba, OFM Cap.

Dalam kotbahnya, RP. Polyaman Purba menarasikan mengenai Elisabet, sosok yang rendah hati dan penuh keyakinan akan penyelenggaraan Allah dalam banalitasnya. Kerendahan hati ini tentu telah ditunjukkan oleh Bunda Maria lewat kesediaan dan penyerahan dirinya pada Allah. Dan yang paling melekat dalam ingatan kita adalah kunjungan Maria kepada Elisabet. Hal ini juga bisa kita teladani lewat tutur sapa kita setiap hari. Misalnya, lewat senyum seseorang, kita bisa merasakan nilai terdalam yang disampaikan orang tersebut.

Setelah Misa Kudus, umat juga merayakan kebersamaan melalui santapan sederhana; panitia menyediakan makanan ringan untuk dinikmati bersama. “Kebiasaan seperti ini membantu umat memahami kebersamaan sebagai keluarga mengingat pudarnya kebersamaan dalam keluarga akibat penjajahan oleh gadget” Kristof Sinaga (30), salah satu OMK Paroki.

Melalui acara penutupan Bulan Maria dan Pesta ‘Maria Mengunjungi Elisabet, Saudarinya’, umat beriman bisa meneladan Bunda Maria, sebagai agen-agen kerendahan hati dalam hidup harian.

Menjadikan Doa sebagai Habit

Maurits Pardosi dan Sr. Lidwina Marbun, KSSY

Guru dan Anak SD St. Vincentius,  Pakpak Bharat sedang berdoa

Guru dan siswa sedang berdoa rosario

Sejenak berbincang dengan Kepala Sekolah Sekolah Dasar St. Vincentius, Pakpak Bharat, Sr. Lidwina Marbun, S. Pd. mengenai kegiatan rutin mereka setiap hari Rabu dan Jumat. Sekolah ini baru saja berdiri, pada tahun 2015. Artinya, siswa mereka baru mencapai kelas IV.

Bertepatan hari ini, hari rabu terakhir pada bulan Maria ini, sekolah ini mengadakan Doa Rosario bersama.

Hal ini bermula dari inisiatif Kepala Sekolah dan tentunya mendapat sambutan hangat dari seluruh guru dan pegawai hingga kegiatan ini berlangsung dengan baik. Acara doa Rosario ini berlangsung pada pukul 08.00 WIB di aula sekolah. Dalam devosi ini, anak didik juga berkontribusi sebagai petugas yang diarahkan oleh guru-guru pendamping.

Anak-anak bergembira setelah mengadakan doa rosario

Kesempatan berahmat ini juga menjadi salah satu cara menarasikan kepada anak bagaimana indahnya berdoa dan bersyukur. Kebetulan, hari ini merupakan hari terakhir ujian, kesempatan ini didedikasikan sekolah sebagai kesempatan emas untuk berkumpul bersama dan berdoa. Dalam devosi ini, mereka menggunakan rosario, hadiah mereka saat pesta pelindung bulan September yang lalu.

Dalam penutup perbincangan, Kepala Sekolah mengutarakan bahwa dia ingin menanamkan rasa menghargai akan pemberian yg telah mereka terima dari setiap moment di sekolah. “Dan saat ini ujian baru saja selesai, seluruh warga sekolah bersyukur karena mereka telah mengikuti ujian dengan baik semoga apa pun hasilnya mereka mampu bersyukur” ungkap Sr. Lidwina Marbun pada penutup perbincangan.

Festival dan Perayaan Paskah Stasi St. Yosep, Sukamaju-Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Tanjung Selamat

Maurits Pardosi dan Benly Hong Malau

Umat Stasi St. Yosep, Sukamaju sedang mengikuti Misa Kudus

Minggu, 26 Mei 2019, Stasi St. Yosep, Sukamaju menyelenggarakan festival dan perayaan Paskah. Acara ini secara sah dibuka oleh Panitia pukul 09.00 WIB. Seluruh peserta lomba berjumlah tujuh lingkungan ditambah dengan satu pelayanan kategorial, OMK. Dalam beragam pertandingan ini, Suster dan Guru yang bertugas di SD Asisi diminta sebagai juri. Sebagai acara pertama adalah perlombaan lektor (membaca Kitab Suci), dilanjutkan dengan homili (renungan), dan mazmur. Karena hari semakin siang dan umat butuh istirahat, maka Panitia melanjutkan kegiatan setelah santap siang bersama.

Kegiatan masih terus berlanjut dengan perlombaan Koor (paduan suara) dan pada pukul 15.30, Panitia mengumumkan para juara lomba. Ternyata, OMK menyabet juara I pada beberapa kategori; Lektor, Mazmur, dan Koor.

Berselang beberapa menit setelah pengumuman juara, tepatnya pukul 16.00, Umat mengikuti Misa Kudus. Misa Kudus ini dilayani oleh parokus, RP. Yohanes Surono, OSC. Dalam kotbahnya, parokus menekankan kedamaian surgawi dan duniawi. Hal ini bisa ditemukan melalu kebersamaan dan persaudaraan sebagai umat beriman. Tentu, seluruh hidup harian kita harus tertuju pada Kristus, sang Kebangkitan.

Hong, wakil Ketua OMK Stasi St. Yosep, Sukamaju menyampaikan bahwa melalui kegiatan berahmat ini, semua umat mampu menjalin kekompakan antar lingkungan, begitu juga dengan OMK.

OMK Stasi St. Yosep, Sukamaju meluapkan kegembiraannya setelah mengantongi beberapa gelar juara

Seluruh kegiatan ini dapat berjalan dengan baik karena berkat kerja sama antar umat; WKRI bersedia mendekorasi gereja, Lingkungan St. Mikael menjadi petugas Misa Kudus, OMK berpatisipasi aktif dalam persiapan pesta. Secara khusus, umat juga berterima kasih bagi seluruh panitia; Fransiskus A Sijabat (Ketua), Binora Sinaga (Wakil Ketua), Ita Sartika Malau (Sekretaris), Piliana Malau (Bendahara), dan seluruh seksi yang bertugas.

Membeli Mimpi melalui Doa dan Usaha

Maurits Pardosi

Damiana Simanjuntak, si puteri kampung tersenyum penuh syukur atas sebagian dari perjalanan hidupnya sebagai anak kuliah di luar negeri

“Sukses adalah milik semua orang”. Ungkapan ini sungguh benar adanya dalam perjalanan hidup Damiana Simanjuntak, putri dari L. Simanjuntak  dan U. br. Simangunsong. Dami, nama panggilannya adalah seorang gadis yang berasal dari salah satu perkampungan di Parsoburan, yakni Panamparan. Semenjak kecil, dia sudah bertekad menempuh kesuksesan melalui pendidikan. Sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara, dia sering mengurung niatnya untuk sekolah di luar kampungnya karena dia harus mendahulukan kebutuhan kakak-kakaknya.

Selama duduk di Sekolah Dasar, dia harus berjuang merintangi medan menuju sekolahnya. Dia  bersama teman-temannya berjalan berjam-jam menuju sekolah. Setelah enam tahun berkanjang dalam situasi tersebut, dia meneruskan pendidikannya di SLTP Sw. Kartini, Parsoburan. Sejak meniti pendidikan di SLTP, cakrawala akan dunia pendidikan terbuka lebar. Walaupun dia mempunyai niat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, masalah klasik anak kampung pun terjadi padanya – lemahnya finansial.

Harapannya hampir pupus karena dia mengkwatirkan keadaan ekonomi keluarga. Disela-sela kesibukannya, dia selalu meluangkan waktunya untuk berdoa kepada Tuhan. Melalui doanya, dia mendapatkan kekuatan untuk tetap berjalan. “Setiap kali aku berdoa, aku semakin merasa yakin untuk meraih mimpiku. Memang, mimpiku terlalu tinggi bagi seorang anak kampung, namun tidak ada yang mustahil bagi Yesus” dia mengungkapnya kepada penulis dengan mata berkaca-kaca.

“Kematian adalah kehidupan tanpa mimpi”  ungkapnya. Dengan segala doa dan upaya, dia berhasil menyabet gelar Strata Satu di Universitas Sumatera Utara dan Gelar Master di National Dong Hwa University, Taiwan. “Aku telah diajari oleh Tuhan, alam, keluarga, dan sahabat tentang harga sebuah impian. Setiap orang bisa membeli mimpinya dengan perjuangan. Perjuangan yang telah kulakukan tetap berada pada level mengawali karena membeli mimpi itu berjalan sepanjang waktu.” Demikian penuturan gadis berumur 29 tahun ini yang tengah menjalani tugas sebagai Dosen Fakultas Ekonomi Atma Jaya Yogyakarta beberapa saat.

Dia ingin sekali melanjutkan pendidikannya guna menyabet gelar Doktor. Maka, dia belajar gigih mempersiapkan diri dan segera berangkat ke Ceko. Perjalanannya di Ceko tidak begitu mulus, dan akhirnya dia kembali ke tanah air dengan harapan bisa berangkat lagi ke luar negeri.

Hingga saat ini, dia tetap berniat menuliskan kisahnya dalam sebuah buku yang kiranya menginspirasi banyak orang, khususnya kaum muda yang berasal dari keluarga miskin. “Selama nafas ada, mimpi selalu ada”. Dia juga mengharapkan kesehatan bagi seluruh anggota keluarganya di kampung, secara khusus ibunya.

Mendalami Toleransi melalui Grup Musik

Maurits Pardosi

Taman Budaya, 22 Mei 2019. Armando Sihaloho baru saja wisuda di Auditorium Universitas Sumatera Utara, dari Fakultas Ilmu Budaya jurusan Etnomusikologi USU. Tidak lama setelah dia wisuda, dia langsung mempersiapkan diri untuk tampil di Taman Budaya Sumatera Utara. Alasannya, dia harus membantu temannya dalam Pementasan Karya (Pemkar) yang bertema, “work in progress“.

Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) jurusan Pendidikan Musik Unimed (Universitas Negeri Medan). Kegiatan ini bertujuan menampilkan hasil karya para komposer muda dari Fakultas Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) jurusan Pendidikan Musik Unimed (Universitas Negeri Medan). Dalam pementasan ini, seluruh peserta mempertontonkan hasil ciptaan, garapan, dan aransemen para komposer muda.

Yogi, salah satu pemain musik dari Sanggar Idaman menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan berbagi. Bagi Armando, kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan panggilan berbagi bagi siapapun melalui bakat dan talenta dari Tuhan. Saling berbagi itu bersifat universal. Armando sendiri kulaih di USU, namun dia ikut membantu temannya dari Unimed dalam pementasan. Inilah gambaran bahwa berbagi itu universal.

Armando, peneladan Bunda Maria menyampaikan bahwa kaum muda Katolik harus semakin membuka diri pada yang lain. Komunitas-komunitas bakat di luar gereja pun turut membentuk lainnya untuk menggali makna toleransi dan keterbukaan. “Zaman sekarang kadang disebut sebagai zaman penuh kotak-kotak, gabb, dan makin memenjarakan orang-orang yang tidak suka berbagi. Oleh karena itu, saya tetap belajar dari banyak orang dalam dunia musik mengenai toleransi” ungkapnya sehabis penampilan di Taman Budaya, Sumatera Utara (22 Mei 2019).

IMG-20190525-WA0005.jpg

Armando berpose dengan tim lain (peserta) di Bukit Bintang Malaysia di Taman Botani Shah Alam, Kuala  Lumpur – Malaysia

Pengorbanan dirinya tampak ketika dia tidak bersungut-sungut walau setelah wisuda, dia harus membantu temannya tanpa merayakan wisudanya bersama keluarga. Barangkali, ini menjadi satu hal yang pantas kita pelajari sebagai kaum muda Katolik. Pada akhir perbincangan, Armando Sihaloho menyampaikan bahwa pemberian dirinya terhadap gereja – khususnya penggarapan musik KYD (KAM Youth Day), AYD (Asian Youth Day), dan WYD (World Youth Day)- merupakan tanggung jawabnya sebagai insan yang telah menerima bakat dari Tuhan. Artinya, pemberian diri adalah bagian dari rasa syukur. Seluruh kebaikannya tak lepas dari pendidikan orangtuanya yang sangat fair dan terbuka. Bravo, sdr. Armando Sihaloho.

Inisiatif Umat Katolik dan Karang Taruna Semangat Gunung Perbaiki Jalan Rusak

Maurits Pardosi dan RP. Liberius Sihombing, OFM Cap

Semangat umat dan Karang Taruna Semangat Gunung memperbaiki jalan

Umat Gereja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Semangat Gunung pada 21 Mei 2019 bersama dengan Karang Taruna Semangat Gunung berusaha semaksimal mungkin memperbaiki jalan rusak menuju Gereja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Semangat Gunung. Ide ini berawal dari pembicaraan di sermon rayon oleh RP Liberius Sihombing, OFM Cap. Ide ini merupakan perwujudan tema Pastoral Keuskupan Agung Medan, “Masyarakat Katolik yang Bermasyarakat”.

Kerjasama sebagai landasan bekerja

RP. Liberius Sihombing, OFM Cap, selaku parokus mengetengahkan aksi ini setelah pihak pemerintah yang telah berjanji akan memperbaiki jalan menuju Gereja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Semangat Gunung belum juga terlaksana. “Tak mungkin kita terus menunggu janji, kita harus melakukan aksi nyata apalagi hal ini sangat berkaitan dengan tema Pastoral Keuskupan Agung Medan” tutur RP Liberius Sihombing, OFM Cap.

Umat dan Karang Taruna Semangat Gunung berharap perbaikan jalan ini segera selesai

Ternyata, berkat koordinasi Rajin Sinaga (Panitia Pembangunan), Robinta Sembiring (Ketua Dewan Stasi), Nella br. Ginting (Bendahara), umat Stasi St. Antonius Padua Semangat Gunung, dan Karang Taruna Semangat Gunung, proses perbaikan jalan benar-benar terlaksana dengan baik. Seluruh kegiatan ini bertujuan memperlancar acara pemberkatan Gereja Stasi St. Antonius Padua, Semangat Gunung pada 25 Mei 2019. Parokus sangat berharap seluruh rencana, khususnya pemberkatan gereja baru berlangsung dengan hikmat.

Proses Pembangunan Gereja Stasi St. Petrus, Parsiroan-Tigalingga

Maurits Pardosi dan Marsell Sinaga

Kerjasama umat Stasi St. Petrus, Parsiroan-Tigalingga

Setelah peletakan batu pertama pada tanggal 27 Februari 2019, proses pembangunan fisik gereja masih berlanjut. RP Eligius Ipong Suponidi, O. Carm, Vikaris Episkopal (Vikep) St. Andreas, Sidikalang dan empat orang imam lainnya (RP Willy Purwanto, O.Carm, RP Yustinus Sumaryono, O.Carm, RP Yansen O.Carm, RP Kardiaman Simbolon O.Carm ) turut ambil bagian dalam Misa Peletakan Batu Pertama. Dalam Misa Kudus tersebut, Vikep mengetengahkan perlunya kerja sama yang apik di antara umat agar proses pembangunan fisik gereja dapat berjalan dengan baik. Proses pembangunan fisik gereja ini juga menggambarkan totalitas umat akan pembangunan Gereja (lebih menyangkut setiap pribadi umat) yang sebenarnya. Artinya, pembangunan fisik gereja mengajarkan betapa pentingnya kebersamaan dalam mengembangkan iman.

Bahu-membahu dalam membangun fisik gereja

Ketua Dewan Stasi, Pandapotan Simbolon mengerahkan seluruh umat untuk bahu-membahu dalam proses pembangunan gereja. Beragam cara telah mereka lakukan agar pembangunan tetap berjalan dengan baik, misalnya membentuk kepanitian pembangunan, gotong-royong, dan saling koordinasi antara umat dan parokus -serta sebaliknya. Stasi, yang berjumlah 85 Kepala Keluarga (KK) ini kiranya semakin akrab dan membina persaudaraan agar cita-cita mereka. Hingga kini, proses pengerjaannya masih sebatas gotong royong yang dipandu oleh dua orang tukang dan dua orang rekan tukang.

Seluruh umat stasi ini sangat berharap akan berbagai cara setiap orang yang solider untuk membantu dan meringankan tangan memberikan dukungan material dan non material. Mereka juga meyediakan kotak sumbangan melalui rekening BRI 5379-01-011614-53-5 a.n Pembangunan Gereja stasi St. Petrus Parsiroan, Paroki Santa Maria Bunda Karmel Tigalingga.

Rahmat Bagi SMA St. Maria, Tarutung di Bulan Mei, Bulan Maria

Maurits Pardosi dan Albert Sinaga

Kondisi SMA St. Maria setelah terbakar

Tarutung, 21 Mei 2019. SMA St. Maria, Tarutung bergembira akan acara rehab bangunan yang selama ini tidak bisa digunakan karena terbakar. Acara permulaan rehab ini dihadiri oleh Wakil Ketua Yayasan St. Yoseph, Medan, Albert Sinaga, S. Pd. M.Pd dan Koordinator Yayasan St. Yoseph, Medan untuk wilayah Tobasa, Drs. Jansudin Saragih, dan perwakilan Millionare Club Indonesia (MCI), Bu Heleria Barasa.

Pak Albert Sinaga, Wakil Ketua Yayasan St. Yoseph, Medan meguatkan civitas akademika SMA St. Maria, Tarutung

Kunjungan ini disambut hangat seluruh civitas akademika SMA St. Maria, Tarutung, secara khusus Kepala Sekolah SMA St. Maria, Tarutung, Drs. Edy Gorat. Dalam acara ini, Bu Heleria Barasa memberikan partisipasi berupa bantuan finansial yang diserahkan langsung kepada Kepala Sekolah SMA St. Maria, Tarutung.

Bu Heleria menyampaikan bantuan finansial kepada Kepala Sekolah SMA St. Maria, Tarutung

Dua hari sebelumnya, civitas akademika SMA St. Maria, Tarutung telah mendapat kunjungan dari berbagai kalangan guna menyemangati mereka kembali. Peristiwa ini tentunya tidak menyurutkan semangat siswa-siswi SMA St. Maria, Tarutung dalam mengembangkan diri lewat pendidikan yang berkarakter. “Saya ikut dalam acara peresmian bangunan ini pada tahun 2000. Saya ingat betul kata sambutan Bupati Taput, R. E. Nainggolan yang menyatakan bahwa dia sangat menyadari bahwa potensi alam Taput sangat miskin, bahkan Tapanuli ini masuk dalam peta kemiskinan. Oleh karena itu, dia sebagai bupati sangat senang atas kehadiran SMA St. Maria, Tarutung ini, sebab hanya melalui pendidikanlah, Tapanuli Utara ini akan maju ketika dikelola oleh produk pendidikan yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal” begitulah ungkapan hati Pak Albert Sinaga.

Pada hari ini, Pihak Yayasan St. Yoseph, Medan berkunjung dan Bu Heleria untuk menyemangati civitas akademika SMA St. Maria, Tarutung. Mereka menyampaikan motivasi bagi bapak/ibu guru di SMA St. Maria, Tarutung serta berharap bahwa bangunan yang baru telah bisa digunakan pada ajaran baru. Semoga semangat tidak pernah pudar sebagai pendidik dan terdidik, karena pendidikan modal besar menuju perubahan ke arah yang lebih baik.

Menarasikan Makna Kolekte di Paroki St. Petrus, Medan Timur

Maurits Pardosi dan Altur Manullang

Paroki St. Petrus, Medan Timur, pada 18 Mei 2019 mengadakan pertemuan Dewan Pastoral Paroki dengan RD. Moses Tampubolon, salah satu anggota penanganan keuangan Keuskupan Agung Medan, Dalam pertemuan ini, RD. Moses Tampubolon menyampaikan betapa mulianya makna persembahan yang selalu kita hantarkan saat Misa Kudus atau Liturgi Sabda di gereja. “Kerapkali, pemikiran umat tertuju pada jumlah kolekte, padahal seyogianya kita seharusnya meyakini bahwa kolekte yang kita berikan adalah persembahan kepada Tuhan, yang kemudian dikelola oleh keuskupan” begitulah ungkapan beliau dalam pertemuan tersebut. Uraian seputar kolekte membuat para pendengar semakin diteguhkan akan indahnya nilai terdalam dibalik kolekte yang kita berikan. Dari sebagian peserta juga menduga bahwa uraian mengenai hubungan ajaran iman dengan tata kelola kolekte sering terlupakan.

Pertemuan ini diikuti oleh Dewan Pastoral dan anggotanya dan para imam yang melayani di Paroki St. Petrus, Medan Timur. Dengan penyajian materi ini menitikberatkan pada pengelolaan laporan keuangan yang lebih up to date (sesuai dengan zaman). Melalui pertemuan ini, para peserta semakin bersemangat mempelajari tata kelola laporan keuangan agar lebih terperinci dan transparan serta dapat memajukan umat paroki. Hal ini akan berkesinambungan dengan adanya diskusi lebih lanjut perihal bagaimana pengelolaan keuangan paroki dengan ajaran iman katolik. Inilah sebuah tanda bahwa pembelajaran berlaku sepanjang hayat dan sejarah.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai