
Eropa punya anggapan bahwa dunia Timur merupakan sebagai barang temuan mereka. Bahkan sejak zaman dahulu mereka telah menemukan sesuatu yang menarik untuk dikaji dan ditelaah tanpa suatu usaha yang sangat banyak. Ini semua merupakan bukti yang nyata, yang membuat orang Eropa merasa terkesan dan tertarik untuk meneliti dunia Timur. Bagi orang Eropa, dunia Timur merupakan daerah jajahan yang bersebelahan dengan kawasan mereka yang mereka anggap sebagai daerah yang terkaya, terbesar, dan tertua. Selain itu, dunia Timur dianggap sebagai sumber bagi perdaban dan bahasa Eropa, dan juga sebagai saingan atas bangsa Eropa dan sebagai dari imajinasi Eropa yang terdalam. Maka tak lain dan tak bukan, Timur adalah Eropa yang lain.
Dalam dunia Eropa terdapat bagian-bagian yang punya pandangan tersendiri terhadap orang Timur, yakni : orang Inggris dan Prancis yang beranggapan bahwa dunia Timur juga turut mendefenisikan “Eropa” (Barat) sebagai citra, ide, kepribadian, dan pengalaman tandingannya. Meski demikian tidak ada defenisi dari dunia Timur yang semata-mata bersifat imjinatif. Ini merupakan gambaran hubungan yang sangat dekat, yang tak dapat terpisahkan dariperdaban dan kebudayaan Eropa. Ini sangat tampak dalam institusi, kosakata, kesarjanaan, pencitraan, dan doktrin ajaran pendukungnya, makna birokrasi dan gaya-gaya kolonialnya.
Sebaliknya, pemahaman Amerika tentang Timur tampak jauh lebih longgar daripada Prancis dan Inggris (meskipun saat berada di Jepang, Korea, dan Indo-China, saya telah berusaha menumbuhkan kesadaran tentang “ Dunia Timur”, yang lebih jernih dan realistis). Bahkan peran politik dan ekonomi Amerika yang semakin meluas di Timur Dekat (Rimur Tengah) telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang dunia Timur sat ini.
Defenisi tentang orientalis mendapat pengertian yang kabur, dimana siapapun yang mengajar, menulis, atau melakukan penelitian tentang Dunia Timur entah dia seorang antropolog, sosiolog, sejarawan atau filolog, disebut seorang orientalis dan kajian mereka disebut orientalisme. Dalam hal ini terkandung sikap penjajah yang congkak atas jajahannya, sebab defenisi ini mengandung konotasi negatif. Namun banyak juga doktrin yang dikaji dalam paham ini dalam kajian akademis. Maka dapat disimpulkan pemahaman orintalisme dalam zaman ini hanya sebatas dunia Eropa mendominasi. Menta ulang, dan menetapkan kekuasaan mereka terhadap dunia Timur.
Orintalisme telah membuat dunia Timur(baik dahulu dan sekarang ) sebagai subjek pemikiran atau tindakan yang benar-benar terbatas. Walaupun demikian pemahaman ini tidak berarti menentukan seluk beluk tentang dunia Timur. Secara historis dan kutural, terdapat perbedaan kualitatif dan kuantitatif antar keterlibatan Inggris-Prancis di Timur dengan keterlibatan Negara-negara Eropa Atlantik lainnya, hingga masa kemunculan Amerika sebagai negara adidaya sesudah Perang Dunia II. Orientalisme dalam situsasi ini berbicara tentang proyek-proyek kebudayaan Inggris dan Prancis yang meliputi tanah India dan Levant (negeri-negeri sebelah timur Laut Tengah), teks-teks Injil dan tanah-tanah Injili, perdagangan rempah-rempah, bala-tentara colonial, penguasa kolonial, barisan besar kaum sarjana, sejumlah besar “pakar” dan “kaki-tangan” ketimuran, serangkaian ide-ide “ketimuram” yang kompleks (depositisme Timur dan sensualitas Timur), berbagai sekte Timur Filsafat Timur, dan beragam kearifannya yang disesuaikan dengan kepentingan lokal Eropa, yang adalah gambaran dunia Timur. Pandangan Vico yang mengatakan bahwa manusia mengukir dan menciptakan sejarahnya sendiri dan apa yang bisa mereka ketahui merupakan sesuatu yang telah mereka ciptakan. Maka budaya Timur memiliki sejarah, pemikiran, kosakata dan citranya sendiri. Dari awal pemahaman ini muncul beberapa pandangan yang dapat diterima akal sehat. Pandangan pertama, budaya Timur merupakan suatu gagasan atau sebuah produk yang bersifat imajinatif yang tidak memiliki realitas. Pandangan kedua, gagasan, kebudayaan dan sejarah tidak dapat dipahami atau dipelajari dengan sungguh-sungguh tanpa mempelajari kekuatan, atau lebih tepatnya kofigurasi-konfigurasi kekuasaannya. Dalam hal ini budaya Timur ditimurkan. Maka relasi yang terjalin antara dua budaya merupakan relasi kekuasaan, dominasi, dan hegemoni yang kompleks.








