Paham Orientalisme

Santri Jawa

Eropa punya anggapan bahwa dunia Timur merupakan sebagai barang temuan mereka. Bahkan sejak zaman dahulu mereka telah menemukan sesuatu yang menarik untuk dikaji dan ditelaah tanpa suatu usaha yang sangat banyak. Ini semua merupakan bukti yang nyata, yang membuat orang Eropa merasa terkesan dan tertarik untuk meneliti dunia Timur. Bagi orang Eropa, dunia Timur merupakan daerah jajahan yang bersebelahan dengan kawasan mereka yang mereka anggap sebagai daerah yang terkaya, terbesar, dan tertua. Selain itu, dunia Timur dianggap sebagai sumber bagi perdaban dan bahasa Eropa, dan juga sebagai saingan atas bangsa Eropa dan sebagai dari imajinasi Eropa yang terdalam. Maka tak lain dan tak bukan, Timur adalah Eropa yang lain.

Dalam dunia Eropa terdapat bagian-bagian yang punya pandangan tersendiri terhadap  orang Timur, yakni : orang Inggris dan Prancis yang beranggapan bahwa dunia Timur  juga turut mendefenisikan “Eropa” (Barat) sebagai citra, ide, kepribadian, dan pengalaman tandingannya. Meski demikian tidak ada defenisi dari dunia Timur yang semata-mata bersifat imjinatif. Ini merupakan gambaran hubungan yang sangat dekat, yang tak dapat terpisahkan dariperdaban dan kebudayaan Eropa. Ini sangat tampak dalam institusi, kosakata, kesarjanaan, pencitraan, dan doktrin ajaran pendukungnya, makna birokrasi dan gaya-gaya kolonialnya.

Sebaliknya, pemahaman Amerika tentang Timur tampak jauh lebih longgar daripada Prancis dan Inggris (meskipun saat berada di Jepang, Korea, dan Indo-China, saya telah berusaha menumbuhkan kesadaran tentang “ Dunia Timur”, yang lebih jernih dan realistis). Bahkan peran politik dan ekonomi Amerika yang semakin meluas di Timur Dekat (Rimur Tengah) telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang dunia Timur sat ini.

Defenisi tentang orientalis mendapat pengertian yang kabur, dimana siapapun yang mengajar, menulis, atau melakukan penelitian tentang Dunia Timur entah dia seorang antropolog, sosiolog, sejarawan atau filolog,  disebut seorang orientalis dan kajian mereka disebut orientalisme. Dalam hal ini terkandung sikap penjajah yang congkak atas jajahannya, sebab defenisi ini mengandung konotasi negatif. Namun banyak juga doktrin yang dikaji dalam paham ini dalam kajian akademis. Maka dapat disimpulkan pemahaman orintalisme dalam zaman ini hanya sebatas dunia Eropa mendominasi. Menta ulang, dan menetapkan kekuasaan mereka terhadap dunia Timur.

Orintalisme telah membuat dunia Timur(baik dahulu dan sekarang ) sebagai subjek pemikiran atau tindakan yang benar-benar terbatas. Walaupun demikian pemahaman ini tidak berarti menentukan seluk beluk tentang dunia Timur. Secara historis dan kutural, terdapat perbedaan kualitatif dan kuantitatif antar keterlibatan Inggris-Prancis di Timur dengan keterlibatan Negara-negara Eropa Atlantik lainnya, hingga masa kemunculan Amerika sebagai negara adidaya sesudah Perang Dunia II. Orientalisme dalam situsasi ini berbicara tentang proyek-proyek kebudayaan Inggris dan Prancis yang meliputi tanah India dan Levant (negeri-negeri sebelah timur Laut Tengah), teks-teks Injil dan tanah-tanah Injili, perdagangan rempah-rempah, bala-tentara colonial, penguasa kolonial, barisan besar kaum sarjana, sejumlah besar “pakar” dan “kaki-tangan” ketimuran, serangkaian ide-ide “ketimuram” yang kompleks (depositisme Timur dan sensualitas Timur), berbagai sekte Timur Filsafat Timur, dan beragam kearifannya yang disesuaikan dengan kepentingan lokal Eropa, yang adalah gambaran dunia Timur. Pandangan Vico yang mengatakan bahwa manusia mengukir dan menciptakan sejarahnya sendiri dan apa yang bisa mereka ketahui merupakan sesuatu yang telah mereka ciptakan. Maka budaya Timur memiliki sejarah, pemikiran, kosakata dan citranya sendiri. Dari awal pemahaman ini muncul beberapa pandangan yang dapat diterima akal sehat. Pandangan pertama, budaya Timur merupakan suatu gagasan  atau sebuah produk  yang bersifat imajinatif yang tidak memiliki realitas. Pandangan kedua, gagasan, kebudayaan dan sejarah tidak dapat dipahami atau dipelajari dengan sungguh-sungguh tanpa mempelajari kekuatan, atau lebih tepatnya kofigurasi-konfigurasi kekuasaannya. Dalam hal ini budaya Timur ditimurkan. Maka relasi yang terjalin antara dua budaya merupakan relasi kekuasaan, dominasi, dan hegemoni yang kompleks.

Kota Gebal dalam lipatan Kitab Suci

Maurits Pardosi

Kota pelabuhan Fenisia (geval, ‘bukit’, ‘curam’; dalam naskah Akadia gubla; dalam naskah Mesir, kpn). Reruntuhan kota pelabuhan zaman purba ini terdapat di atas daerah bukit curam pada Jebeil. Dari situ nampak Laut Tengah, 40 km ke utara Beirut. Orang Yunani menyebut kota itu Biblos, artinya “papirus”, mungkin karena di sana mereka melihat gulungan-gulungan naskah yang terbuat dari daun papirus yang diimpor dari Mesir. Pada alat tulis menulis zaman purba ini, dicatatlah dengan tinta naskah-naskah agamawi, biaya-biaya dan surat-surat resmi.

Wilayah kekuasaan orang Gebal disebut dalam Yos 13:5. Pemahat-pemahat batunya yang berpengalaman, yang disewa oleh Salomo disebut dalam 1 Raj 5:18, dan dalam Yeh 27:9 para pembangun kapalnya yang mahir menutup celah-celah papan, bertalian dengan angkatan laut Fenisia menguasai daerah pesisir Laut Tengah. Kapal-kapal barang mereka menggantikan kapal-kapal Tarsis, milik Fenisia, dan disebut ”perantau-perantau Biblos”, yang berlayar antara Fenisia dan Mesir membawa barang ekspor seperti tiang-tiang layar, tiang-tiang bendera, kayu-kayu keras bahan perabot rumah tangga, pohon-pohon aras, bahan ramuan mumi, dan illen untuk memumi mayat. Barang-barang yang diimpor adalah bejana-bejana emas dan perak, minyak wangi, illen, kain lenan, tali dan kulit sapi, seperti terungkap dalam cerita tentang seorang imam Mesir, Wen-amun, dan tentang misi perdagangannya ke Biblos sekitar thn 1100 SM.

Penggalian di Gebal yang dipimpin Maurice Dunand dimulai pada tahun 1919, menemukan tempat-tempat permukiman dan Zaman Neolit hingga perang salib. Lapisan dasarnya memperlihatkan rumah persegi empat panjang dengan satu ruangan. Di bawah lantai terdapat kuburan yang diberi perekat, bejana-bejana tanah yang dihiasi dengan tulang-tulang ikan yang disambung, sama seperti di Yerikho sebelum tahun 4000 SM. Kendi-kendi yang tertanam berisikan tulang belulang manusia, makanan, pisau-pisau tembaga, dan permata yang berasal dari antara 4000 dan 3000 SM ditemukan tercecer di atas bukit. Sekitar tahun 3100 SM orang-orang Mesir berdagang ke Biblos. Selama illennium berikutnya, pusat pengaruh Mesir di Gebal dibentengi dengan kubu-kubu yang digalang satu dengan lainnya. Ditemukan juga satu kuil bagi dewi Baalat Gebal, dan satu bagi dewa Reshef berusia sekitar thn 2800 SM.

Gebal terbakar sekitar tahun 2150 SM, kemungkinan dibakar oleh penyerbu-penyerbu bangsa Amori. Tulisan-tulisan yang ditemukan pada tembaga dan batu berbentuk hieroglif Mesir, tampaknya berasal dari zaman ini. Biblos adalah kota pertama dalam daftar pemerintah Asia yg dikutuk orang Mesir di Thebe, sekitar thn 1900 SM. Kemudian dalam wangsa 12, Mesir menjajah Biblos. Pada zaman Amarna, Ribaddi dari Biblos mengirim lebih 50 surat yang mempunyai huruf seperti paku (cuneiform) kepada Firaun Ikhnaton yang bertujuan meminta bantuan. Peti mayat raja Ahiram yang terbuat dari batu (lk 1000 SM), bertuliskan abjad Fenisia zaman purba ditemukan di Gebal pada thn 1923.

Gebal juga adalah daerah di Timur Laut Mati (Mzm 83:7). Penduduknya bersekutu dengan orang Moab dan orang Arab menentang Israel.[1]


[1] J.D. Douglas. Ensiklopedi Alkitab…, hlm. 328-329

Menelisik Kota Askelon dari Kitab Suci

Maurits Pardosi

Kota Askelon

Kota Asqalon modern terletak di pantai Palestina antara Yopa dan Gaza. Ada acuan yang menunjukkan daerah itu telah dihuni sejak zaman Neolitis hingga abad 13 M. Askelon yang dulu dikuasai oleh seorang raja pada zaman Amarna dihancurkan oleh orang Kaftor (orang Filistin), hal ini terungkap dalam Ul 2:23 dan dalam naskah- naskah kutukan dari Mesir. Kota ini dirampok oleh Ramses II pada thn 1280 SM, dan kemudian direbut oleh Yehuda (Hak 1:18).

Askelon menjadi salah satu dari lima kota utama Filistin (Yos 13:3) dan selalu dihubungkan dengan Gaza, Asdod dan Ekron (Am 1:7,8) dan dengan Gat juga (2 Sam 1:20). Tiglat- Pileser III membuat Asqalluna (Askelon) tergantung pada Asyur pada tahun 734 SM, hingga kota itu dibinasakan oleh Sanherib karena telah memberontak. Askelon memperoleh kembali kemerdekaannya pada tahun 630 SM, tetapi dijarah kembali karna melawan Raja Nebukadnezar pada tahun 604 SM ( menurut Riwayat Tawarikh Babel ). Rajanya dibunuh dan para tawanan dibawa ke Babel (Melanges Dussaud 2, 1939, hlm 298).

Peristiwa ini, yang diramalkan oleh Yeremia (Yer 47:5-7) dan Zefanya (2:4-7), sangat mengejutkan Yerusalem, yang menderita kehancuran yang sama beberapa tahun kemudian (Yer 52:4-11). Sesudah ditempatkan di bawah Tirus pada zaman Persia, Askelon menjadi kota Yunani merdeka pada tahun 104 SM, tetapi direbut oleh Yonatan (1 Makabe 10:86). Herodes Agung menghiasi kota kelahirannya ini, dan peninggalan dari zaman ini digali tahun 1921 M (PEQ, 1921).[1]

( KEPUSTAKAAN. EAEHL 1, 1975, hlm 121-130. )


[1] J.D. Douglas. Ensiklopedi Alkitab…, hlm. 104

Kota Asdod disebutkan dalam Kitab Suci

Maurits Pardosi

Panorama di kota Ashdod (Asdod)

Esdud modern, terletak sekitar 30 km dari sebelah timur laut Gaza. Dalam Yos 11:22 tercatat bahwa orang Enak, penduduk aslinya, masih ada di sana ketika kota itu bertahan terhadap usaha-usaha suku Yehuda untuk menaklukkan dan mendudukinya (Yos 13:3; 15:46-47). Asdod merupakan kota pelabuhan dan benteng utama orang Filistin dengan satu kuil Dagon; tabut Israel dibawa dan disimpan di situ (1 Sam 5:1). Asdudu dihancurkan oleh Sargon II pada tahun 711 SM, malapetaka ini dicatat oleh Amos (1:8) dan Yesaya (20:1).

Pada zaman Yeremia kota ini lemah (Yer 25:20) dan lambat laun menjadi puing (Zef 2:4; Za 9:6). Kota itu sebagian didiami kembali sesudah Pembuangan (Neh 13:23-24), tetapi penyembahan berhala yang terus dilanjutkan di situ menimbulkan serangan dari kaum Makabe (1 Makabe 5:68; 10:84). Di bawah nama Azotus (Kis 8:40), kota itu berkembang sesudah dilakukan perbaikan oleh raja Herodes. Gabinius meneruskan pekerjaan pembangunan di pusat kota, dan kota ini diberikan oleh Agustus kepada Salome, saudara perempuan Herodes.[1]

( KEPUSTAKAAN. BA 6, 1963, hlm 30-32, 134-139. )


[1] J.D. Douglas. Ensiklopedi Alkitab…, hlm. 103

Mengenal Kota Gilgal dari Kitab Suci

Maurits Pardosi

Situasi daerah Gilgal

Gilgal berasal dari Bahasa Ibrani yakni galal yang berarti menggulung. Kata ini juga dapat diartikan  ‘lingkaran’ (batu-batu) atau gulungan. Dalam arti ‘menggulung’ kata Gilgal dipakai oleh Allah melalui Yosua untuk mengingatkan Israel tentang kelepasan mereka dari Mesir ketika mereka disunat di sana, ‘Hari ini telah Ku-hapuskan (galloti) cela Mesir itu daripadamu’ (Yos 5:9).

  1.        Gilgal di sebelah timur Yerikho, letaknya antara Yerikho dan Yordan. Letak pertapakan Gilgal yang sebenarnya belum diketahui secara pasti. J Muilenberg (BASOR 140, 1955, hlm 11-27) untuk sementara mengusulkan sebidang tanah di sebelah utara Khirbet el-Mefjir, yang terletak  kira-kira 2 km di sebelah timur Yerikho kuno (Tell-es-Sultan). Untuk menunjang usul itu, Muilenberg mengemukakan gabungan kesaksian PL dan penulis-penulis yang kemudian (Yosefus, Eusebius, dll), dan hasil penggalian yang mengungkapkan peninggalan-peninggalan dari Zaman Batu Purba di sana.

       J Simons (GTT, hlm 269-270, 464) menolak pandangan Muilenberg, dengan alasan Khirbet el-Mefjir terletak lebih mengarah ke utara daripada ke timur Yerikho; tetapi alasan ini tidak cukup kuat, karena Khirbet el-Mifjir terletak pada jarak yang sama baik diukur dari timur maupun dari utara. Gilgal menjadi basis operasi Israel sesudah penyeberangan Yordan (Yos 4:19), dan menjadi pusat rentetan peristiwa penaklukan Kanaan. Dua belas  batu peringatan didirikan pada waktu  Israel berkemah di sana (Yos 4:20) juga para  generasi baru yang dibesarkan di padang gurun disunat di sana.

       Perjamuan Paskah pertama di Kanaan diadakan di kota ini(Yos 5:9, 10) dan di kota ini jugalah pemberian manna berakhir (Yos 5:11, 12). Dari Gilgal, Yosua memimpin Israel menyerang Yerikho (Yos 6:11, 14 ), dan memimpin serangan merebut bagian selatan Kanaan (Yos 10) sesudah ia menerima utusan orang Gibeon yang licik (Yos 9:6), dan di Gilgal ia mulai membagi Kanaan menjadi wilayah-wilayah suku (Yos 14:6). Jadi Gilgal sekaligus menjadi peringatan akan penyelamatan oleh Allah dari belenggu Mesir pada masa lampau, dan menjadi tanda kemenangan yang dicapai pada saat ini di bawah pimpinan-Nya, dan memperlihatkan janji warisan yang masih harus dicapai.

       Pada suatu hari  hari malaikat Allah pergi dari Gilgal ke Bokhim untuk mengadili Israel karena melupakan janji-janji Allah (Hak 2:1); Ehud kembali ke Gilgal dalam upaya membunuh raja Moab untuk melepaskan Israel (Hak 3:19). Samuel dalam perjalanan kelilingnya mengunjungi Gilgal (1 Sam 7:16); di Gilgal kerajaan Saul ditetapkan setelah mereka memukul kalah orang Amon, seraya mempersembahkan korban di hadapan Tuhan dan bersukaria (1 Sam 11:14,15). Tetapi sesudah itu, Saul tergesa-gesa mempersembahkan korban bakaran (1 Sam 13:8-14); di Gilgallah Samuel dan Saul berpisah untuk selamanya setelah Saul tidak taat kepada Allah dalam perang melawan orang Amalek (1 Sam 15:12-35). Setelah pemberontakan Absalom gagal, orang Yehuda menyambut Daud di Gilgal (2 Sam 19:15, 40).

       Pada zaman Ahab dan Yoram, Elia dan Elisa berjalan melalui Gilgal saat menjelang Elia dinaikkan ke sorga (2 Raj 2:1; ada yang menganggap tempat ini berbeda dari Gilgal yang bersejarah itu), dan di sanalah Elisa membuat sayuran beracun yang disajikan kepada serombongan nabi menjadi tawar racun (2 Raj 4:38).Tetapi pada abad 8 SM, pada  masa pemerintahan raja Uzia dan Hizkia, Gilgal menjadi pusat peribadatan baik formal maupun non-spiritual, sama seperti Betel yang mendapat penghukuman dari Amos (4:4; 5:5) dan Hosea (4:15; 9:15; 12:11).

       Ikatan antara Betel dan Gilgal (2 Raj 2:1,2) diperkuat oleh jalan penting menghubungkan keduanya. Akhirnya, Mikha (6:5) mengingatkan umatnya tentang peranan utama Gilgal dalam ziarah rohani mereka, dengan menyaksikan tentang perbuatan keadilan dan kuasa penyelamatan Allah, ‘dari Sitim sampai ke Gilgal’, yaitu dari Yordan sampai ke tanah perjanjian.

  • Menurut Yos 15:7, batas utara Yudea sampai ke Gilgal yang terletak di seberang pendakian Adumim. Dalam ihwal perbatasan ini, maka batas selatan Benyamin (Yos 18:17) mencakup juga Gilgal dan disebut Gelilot. Tetapi apakah Gilgal yang Gelilot ini adalah sama dengan Gilgal yang terkenal yang di sebelah timur Yerikho itu belum dapat dipastikan sekalipun itu sangat memungkinkan. Jika hal itu tidak benar  maka Gilgal yang Gelilot ini adalah ‘lingkaran’ yang lebih jauh ke barat.

Dalam Ul 11:30, ungkapan tentang  “Gilgal” lebih menunjuk kepada pemukiman orang Kanaan di Araba (di celah lembah Yordan). [1]


[1] J.D. Douglas. Ensiklopedi Alkitab…, hlm. 342-343

Hubungan Kota Dhiban (Dibon) dengan Kitab Suci

Maurits Pardosi

Kota Dibon
  • Suatu tempat di Yehuda, yang diduduki sesudah pembuangan (Neh 11:25), tetapi sampai sekarang belum dapat ditentukan tempatnya.
  • Dibon (divon) di negeri Moab adalah desa modern bernama Dhiban, di sebelah timur Laut Mati dan terletak sekitar 6 km di sebelah utara Sungai Arnon. Ramses II mengatakan bahwa telah  merampas kota ini (K. A Kitchen, JEA 50, 1964, hlm 63-70). Awalnya desa ini milik Moab, tetapi kemudian direbut oleh Sihon, raja orang Amori, pada masa pra-Israel (Bil 21:26).

Bangsa Israel merebutnya pada waktu ‘keluaran’ (Bil 21:30) dan memberikannya kepada suku Ruben dan Gad (Bil 32:2, 3). Akan tetapi suku Gad membangun desa Dibon lagi dan dinamai Dibon-Gad (Bil 32:34); tetapi dalam Yos 13:15 desa itu dianggap milik suku Ruben. Barangkali inilah salah satu dari tempat peristirahatan pada waktu perjalanan keluaran, dan mengenai hal ini dilukiskan dalam Bil 33:45-46. Di kemudian hari desa itu hilang dari kekuasaan Israel, dan didapat kembali oleh Omri; kemudian jatuh lagi ke tangan Mesa, raja Moab, yang membicarakannya pada Batu Moab baris 21 dan 28. Nabi Yesaya dan Yeremia mengenalnya sebagai desa Moab (Yes 15:2; Yer 48:18, 22).

Di sini telah dimulai penggalian penting oleh American Schools of Oriental Research pada thn 1950. Tampak adanya pendudukan dari Awal Zaman Perunggu sampai zaman bangsa Arab, dengan alpanya pendudukan sekitar tahun 1850-1300 SM.[1]

( F. M Abel, Geographie de la Palestine, 2, 1937, hlm 304-305; N Glueck, Exploration in Eastern Palestine, 3, AASOR dibaca dari tahun ke tahun dalam BASOR ).


[1] J.D. Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2003, hlm. 247

Konsep Keselamatan dalam Masyarakat Simalungun

Maurits Pardosi

Menyembah Tondong, si pemberi berkat

Dalam agama-agama kosmis, sebenarnya bibit-bibit keselamatan sudah tampak. Meminjam kata Baltasar, agama-agama kosmis hadir sebagai persiapan akan hadirnya agama Wahyu. Agama kosmis harus diterangi dan dicerahi oleh agama Wahyu. Sebab dalam agama asli (kosmik) sudah tertemukan paham soteriologi (keselamatan) yang begitu mendalam. Hal itu tampak dari setiap usaha manusia untuk sampai kepada kebaikan tertinggi (summum bonum). Pergerakan hati manusia mencari hal-hal positif, baik dan benar meripakan titik keselamatan yang dicari dalam agama Wahyu.

Konsep keselamatan yang membawa pengaruh besar dalam budaya simalungun adalah konsep tondong. Pemahaman religiusitas agama asli tenmtang tondong membawa suatu nilai positif dalam hidup sehari-hari. Dalam prinsip kekrabatan simalungun , salah satu jabatan tolu sahundulan adalah tondong.  Bagi orang simalungun, tondong  dianggap sebagai Allah yang kelihatan (Naibata na taridah). Tondong berasal dari kata Tuhan na adong (Allah yang tampak). Dalam hukum adat simalungun, tondong merupaklan manifestasi kehadiran Tuhan yang tampak.

Dalam acara pesta, tondong merupakan posisi yang terhormat dan disomba (bukan disembah seperti Naibata). Tondong diyakini sumber berkat. Jadi tidak mengherankan kalau dalam pesta dan dalam kehidupan sehari-hari orang simalungun, seseorang itu datang dan tunduk bila menghadap tondong.


[1]

[2]

Agama Parhabonaron di Simalungun

Maurits Pardosi

Pakaian Adat Simalungun

Masyarakat Simalungun menganut agama animisme parhabonaron. Keyakinan ini mempercayai bahwa semua mahkluk mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Masyarakat Simalungun percaya bahwa semua makhluk itu punya kekuatan gaib. Dan semua makhluk itu diciptakan oleh Dewata/Naibata. Dalam paham animism parhabonaron, konsep alam semesta, dibagi menjadi 3 bagian: nagori atas (sebagai tempat bermukimnya Dewata), nagori tonga (tempat bermukimnya manusia) dan nagori toru (temppat untuk roh-roh yang sudah meninggal).[1]

Masyarakat Simalungun juga menyembah roh-roh bernama sinumbah dan sumagot, sebgai jalan sampai kepada Naibata.[2] Sinumbah adalah roh yang sudah meninggal dan sumagot adalah roh keramat yang biasa tinggal di pohon dan batu-batu besar. Dalam hubungannya dengan roh, masyarakat Simalungun juga percaya akan roh yang ada dalam diri manusia, yakni tonduy dan begu-begu.  Tonduy adalah roh manusia yang masih hidup. Sedangkan begu-begu adalah roh gentayangan dari manusia yang telah meninggal.[3]


[1]

[2]

[3]

Memandang dekat Masyarakat Simalungun

Maurits Pardosi

Banyak ahli yang menyatakan bahwa  masyarakat Simalungun merupakan keturunan dari Protomelayu yang datang sekitar tahun 1000 SM. Sejak awal protomelayu, yang diduga datang dari India ini, banyak mendiami daerah-daerah pesisir. Akan tetapi setelah kelompok II, yaitu Deutromelayu masuk,  mereka akhirnya terdesak dan masuk ke daerah pegunungan.[1]

Setelah berpindah sebagian sampai ke Batubara. Dan inilah diduga nenek moyang Simalungun. Dari tempat itu lahirlah perkampungan. Dan akhirnya lahirlah kerajaan yang disebut Kerajaan Najur. Ketika Kerajaan Najur berakhir, banyak dari masyarakat yang pergi menyeberangi laut tawar dan sampai di Samosir. Alasan kepergian ini diduga sebagai alasan untuk mencari pekerjaan. Setelah jangka waktu yang lama berpindah ke Samosir, banyak dari antara mereka yang tidak tahu lagi tentang sejarah Kerajaan Najur. Negeri Najur telah menjadi asing bagi mereka.

Karena situasi Samosir yang tidak mendukung, banyak dari antara mereka memutuskan mencari tempat lain. beberapa dari antara mereka sampai ke Najur. Dan ketika melihat situasi daerah itu, Simalungun. Kata itu berarti peninggalan yang sepi (sima, peninggalan, lungun=sepi) atau yang dirindukan (si = yang dan malungun = dirindukan). Dan nama itulah yang dipakai untuk menyebut bekas daerah Kerajaan Najur.[2]

Daerah Simalungun

Ketika Kerajaan Najur masih berdiri, mereka mempunyai daerah kekuasaan yang luas. Dan setelah Kerajaan itu runtuh, daerah-daerah yang sebelumnya merupakan daerah Kerajaan Najur disebut juga daerah Simalungun. Daerah Simalungun adalah daerah yang luas yang berbatasan dengan Kabupaten Karo, Kabupaten Toba, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Samosir. Daerah Kabupaten Simalungun mempunyai 31 kecamatan dan 302 desa.[3]

Daerah yang terletak di suhu udara yang dingin ini, merupakan daerah yang subur yang menghasilkan sayur-sayuran. Daerah Simalungun merupakan daerah yang mayoritas penduduknya hidup dari pertanian. Hasil pertanian merupakan komoditas utama dari simalungun. Selain itu banyak juga masyarakatnya yang hidup dengan maragad (yaitu mengambil air nira sebagai minuman dan gula merah). Masyarakat simalaungun merupakan masyarakat yang mengikuti garis keturunan ayah, patrilineal. Orang simalungun membubuhkan marga ayahnya di akhir nama kecilnya. Anggota dari satu marga dilarang kawin. Semua orang semarga merupakan kerabat.

Dalam masyarakat simalungun, sistem kekerabatan terkenal dengan istilah tolu sahhundulan dan lima saodoran. Kelompok tolu sahundulan  itu adalah: tondong (keluarga kerabat istri), sanina (keluarga kerabat satu marga) dan boru (pihak ipar). Kelompok yang tergolong lima saodoran adalah tondong, sanina, boru, tondong ni tondong dan anak boru mintori.[4] Dalam upacara adat, orang simalungun dengan sendirinya akan mengetahui di mana ia akan duduk dan menempatkan diri.


[1]  Sortaman Saragih, Orang Simalungun (Depok: CV Citama Vigora, 2008), hlm. 23.

[2]  Sortaman Saragih, Orang …, hlm. 42.

[3]  Sortaman Saragih, Orang …,  hlm. 21

[4]

Bupati Simalungun, J. R. Saragih berkumpul bersama warga dalam sebuah acara adat

Manusia, mahluk pencari Tuhan

Manusia adalah makhluk religius. Manusia membutuhkan sesuatu “yang ilahi” dalam hidupnya. Manusia bukan makhluk yang bisa hidup sendiri. Dalam hal ini manusia itu makhluk religius sekaligus makhluk sosial. Manusia membutuhkan sosok yang  “yang Ilahi” dan juga membutuhkan orang lain sebagai perwujudan relasinya. Setiap suku-suku di dunia mengakui sosok yang ilahi dalam budayanya. Di setiap budaya, muncul keinginan setiap anggota masyarakatnya untuk mencari sosok “yang ilahi” yang tidak mereka temukan dalam diri sesamanya. Sosok yang ilahi merupakan hasil pencarian mereka akan sesuatu yang berada di luar batas yang biasa. Dalam pencarian itu masyarakat lokal akhirnya menyakini sosok “yang ilahi” itu hadir di dalerah atau tempat yang meneramkan; di pohon beringin yang besar, batu-batu besar dan tempat-tempat lain.

Titik akhir dari pencarian akan yang ilahi adalah munculnya agama-agama tradisional. Agama tradisional yang  merupakan hasil pencarian manusia ini, diyakini bisa membawa orang yang menganutnya ke dalam tempat yang menyenangkan. Mereka menyakini konsep “yang ilahi” itu sanggup memberi keharmonisan dalam hidup walaupun dalam konsep yang sederhana. Masing-masing masyarakat mengalaminya sebagai suatu pengalaman yang menakjubkan. Dan pengalaman itu membawa mereka pada tujuan yang diharapkan.

Konsep soteriologi (keselamatan ), merupakan salah satu tujuan dari pencarian manusia akan sosok “yang ilahi” itu. Kata soteriologi diambil dari Bahasa Yunani soter yang berarti penyelamat, sang penebus. Konsep soteriologi merupakansebuah perumusan religio-kultural dalam suatu kebudayaan yang merefleksikan perpaduan antara iman dan kebudayaan yang dihidupi oleh penganut agama-agama asli. Hasil refleksi ini ingin menunjukkan suatu kemampuan penyelamatan bagi pemeluknya. Dalam konteks Kekristenan, konsep soteriologi hadir dalam diri Kristus yang membawa penyelamatan dari Allah. Allah menyelamatkan manusia lewat Putra-Nya, yaitu Yesus Kristus yang menyerahkan diri di kayu salib sebagai silih atas dosa manusia (Roma 10:9)[1]

Dalam agama dan hubungannya dengan agama-agama kosmis, terdapat dua hal yang saling melengkapi dan memperkaya: yaitu agama kosmis itu sendiri dan konsep keselamatan dari agama metakosmis (Wahyu). Agama-agama kosmis hadir sebagai dasar dan landasan dimulainya pewartaan. Sedangkan paham tentang keselamatan (soteriologi) itu, merupakan bangunan yang berdiri di atas landasan itu. Jadi antara keduanya mempunyai keterkaitan, saling koreksi dan paling penting adalah saling memperkaya dan saling melengkapi.[2]


[1]  Yustinus Slamet Antono-Aloys Budi Purnomo, Pengaruh Kekristenan Pada Kebudayaan Simalungun. (Pematang Siantar: Kolprtase GKPS, 2003), hlm. 117

[2] Yustinus Slamet Antono-Aloys Budi Purnomo, Pengaruh Kekristenan…, hlm. 118.

Parmalim sedang melakukan ritual
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai